January 15, 2018

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Pondasi Sement atau Soil Cement

Lapisan Pondasi Semen Tanah atau basa juga disebut Soil Cement merupakan lapisan pondasi base yang merupakan campuran agregat tanah pilihan dan semen portland


Lapisan Pondasi Semen Tanah atau Soil Cement oil cement adalah hasil pencampuran tanah, semen dan air, yang dengan tingkat pemadatan tertentu akan menghasilkan suatu campuran material baru, soil cement, yang mana dikarenakan kekuatannya, karakteristik ketahanan terhadap oleh air, panas dan pengaruh cuaca lainnya adalah sangat baik. 

Lapisan Pondasi Semen tanah juga merupakan salah satu konstruksi jalan yang berbiaya rendah dengan kualitas yang mempuni. Lapisan Pondasi semen Tanah ini digunakan sebagai lapis pondasi, yang dilaksanakan menyebar sepanjang jalan di atas permukaan jalan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Berikut Metode Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Pondasi Semen atau Soil Cement:

Persiapan :
  1. Pembuatan DMF (Design Mix Formula) dilaksanakan Laboratorium atau di UMPKL Dinas Pekerjaan Umum Setempat, bila dianjurkan oleh Direksi pengawas, contoh semua jenis material diambil dari sumber quarry dengan lokasi sketsa terlampir, pengambilan contoh material (batu, abu batu, pasir) dilaksanakan bersama-sama dengan Pengawas Lapangan dan konsultan Pengawas.
  2. Setelah selesai DMF atau disain mix formula, kontraktor bersama konsultan dan direksi teknis akan membuat JMF (Job Mix Formula) atau Campuran Rumusan Kerja. 
  3. Penyediaan material di stock pile atau lokasi pengadukan khususnya pemecahan batu dilaksanakan segera setelah hasil uji kekerasan memenuhi syarat, termasuk penyediaan pasir.
  4. Percobaan pelaksanaan : menyangkut komposisi masing-masing jenis material (mengacu JMF), tebal hamparan gembur sehingga dihasilkan tebal padat yang disyaratkan (diketahui faktor gembur), kadar air optimal, jumlah lintasan pemadatan sehingga dihasilkan kepadatan maksimal sesuai spesifikasi teknis.
  5. Hasil percobaan pelaksanaan dilakukan pengujian : ketebalan (pengukuran manual), uji kepadatan (Sand Cone), uji gradasi lapangan (analisa saringan) dan PI lapangan (atterberg) dan uji CBR Lapangan (DCP).
  6. Staking-out, menentukan lebar dan tebal hamparan sebagai gambar rencana.


Pelaksanaan :
  1. Pengadukan material Lapisan Pondasi Agregat : dilaksanakan di stock pile (lokasi pengadukan) dengan komposisi berdasarkan JMF dan hasil percobaan lapangan, pengadukan dilaksanakan setiap maksimal ≤ 50 m3 agar dihasil campuran yang homogen, digunakan peralatan excavator dan whell loader.
  2. Material LPA diangkut dengan menggunakan dump truk, pemuatan menggunakan wheel loader, jarak hauling diatur sedemikian rupa (memeprhatikan faktor gembur dari hasil percobaan pelaksanaan) sehingga penghamparan dapat dilaksanakan efektif dan efisien.
  3. Penghamparan menggunakan motor grader, tebal hamparan sesuai hasil percobaan pelaksanaan, dilaksanakan selebar rencana, perapian hamparan dilaksanakan dengan tenaga manusia dengan peralatan sesuai keperluan lapangan.
  4. Selama proses penghamparan dilakukan control kadar air, sehingga akan dihasilkan kadar air optimal pada saat pemadatan dilaksanakan. Dimensi dan kelandaian permukaan dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana.
  5. Pemadatan menggunakan vibrator roller (berat 8-12 ton), dilaksanakan mulai dari bagian yang rendah berangsur-angsur menuju bagian yang lebih tinggi, jumlah lintasan sesuai dengan hasil percobaan pelaksanaan.  
  6. Pemadatan dihentikan jika diyakini tercapai kepadatan yang disyaratkan.


Pengujian dan pengukuran :
  1. Pengujian mutu : uji gradasi dan PI (di laboratorium), uji kepadatan (sand cone di lapangan), uji CBR Lapangan (DCP).
  2. Pengukuran : dimensi (panjang, lebar dan tebal dilaksanakan secara manual), kelandaian (menggunakan pesawat waterpass atau theodolit)  dan kerataan permukaan (menggunakan mistar ukur).


Pemeliharaan :
Pemeliharaan menyangkut kerataan permukaan, keutuhan dan kekokohan dilaksanakan sampai pekerjaan tahap selanjutnya (perkerasan dengan aspal) akan dilaksanakan, sedemikian rupa sehingga dimensi, permukaan dan mutu Soil Cement tetap sesuai spesifikasi teknis.

January 14, 2018

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Klas A, Klas B dan Klas S

Lapisan Pondasi Agregat dapat digunakan sebagai lapisan pondasi bawah yaitu Lapisan Pondasi agregat Klas B,  digunakan sebagai lapisa pondasi atas yaitu lapis pondasi agregat klas A, dan sebagai bahu jalan tanpa penutup yaitu lapisan pondasi agregat klas S.


Material Crusher


Berikut metode pelaksanaan masing-masing pekerjaan Lapisan Pondasi Agregat:

Lapisan Pondasi Agregat Klas A (LPA)


Lapisan pondasi Agregat Klas A, biasa kita kenal dengan LPA, digunakan sebagai lapis pondasi atas, dilaksanakan menyebar sepanjang jalan yang dilebarkan dan di atas permukaan lapis pondasi bawah (LPB) yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Persiapan :
  1. Pembuatan DMF (Design Mix Formula) dilaksanakan Laboratorium atau di UMPKL Dinas Pekerjaan Umum setempat, bila dianjurkan oleh Direksi pengawas, contoh semua jenis material diambil dari sumber quarry dengan lokasi sketsa terlampir, pengambilan contoh material (batu, abu batu, pasir) dilaksanakan bersama-sama dengan Pengawas Lapangan dan konsultan Pengawas.
  2. Setelah DMF selesai kontraktor akan membuat JMF (Job Mix Formula) di Laboratorium Kontraktor itu sendiri, didampingi konsultan dan Direksi teknis.
  3. Penyediaan material di stock pile atau lokasi pengadukan khususnya pemecahan batu dilaksanakan segera setelah hasil uji kekerasan memenuhi syarat, termasuk penyediaan pasir.
  4. Percobaan pelaksanaan : menyangkut komposisi masing-masing jenis material (mengacu JMF), tebal hamparan gembur sehingga dihasilkan tebal padat yang disyaratkan (diketahui faktor gembur), kadar air optimal, jumlah lintasan pemadatan sehingga dihasilkan kepadatan maksimal sesuai spesifikasi teknis. Hasil percobaan pelaksanaan dilakukan pengujian : ketebalan (pengukuran manual), uji kepadatan (Sand Cone), uji gradasi lapangan (analisa saringan) dan PI lapangan (atterberg) dan uji CBR Lapangan (DCP).
  5. Staking-out, menentukan lebar dan tebal hamparan sebagai gambar rencana.
Pelaksanaan :
  1. Pengadukkan material LPA : dilaksanakan di stock pile (lokasi pengadukan) dengan komposisi berdasarkan JMF dan hasil percobaan lapangan, pengadukan dilaksanakan setiap maksimal ≤ 50 m3 agar menghasilkan campuran yang homogen, digunakan peralatan excavator dan Wheel Loader.
  2. Material LPA diangkut dengan menggunakan dump truk, pemuatan menggunakan wheel Loader, jarak hauling diatur sedemikian rupa (memeprhatikan faktor gembur dari hasil percobaan pelaksanaan) sehingga penghamparan dapat dilaksanakan efektif dan efisien.
  3. Penghamparan menggunakan Motor Grader, tebal hamparan sesuai hasil percobaan pelaksanaan, dilaksanakan selebar rencana, perapian hamparan dilaksanakan dengan tenaga manusia dengan peralatan sesuai keperluan lapangan. Selama proses penghamparan dilakukan control kadar air, sehingga akan dihasilkan kadar air optimal pada saat pemadatan dilaksanakan. Dimensi dan kelandaian permukaan dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana.
  4. Pemadatan menggunakan Vibrator Roller (berat 8-12 ton), dilaksanakan mulai dari bagian yang rendah berangsur-angsur menuju bagian yang lebih tinggi, jumlah lintasan sesuai dengan hasil percobaan pelaksanaan. Pemadatan dihentikan jika diyakini tercapai kepadatan yang disyaratkan.
Pengujian dan pengukuran :
  1. Pengujian mutu : uji gradasi dan PI (di laboratorium), uji kepadatan (sand cone di lapangan), uji CBR Lapangan (DCP).
  2. Pengukuran : dimensi (panjang, lebar dan tebal dilaksanakan secara manual), kelandaian (menggunakan pesawat waterpass atau theodolit)  dan kerataan permukaan (menggunakan mistar ukur).
Pemeliharaan :
Pemeliharaan menyangkut kerataan permukaan, keutuhan dan kekokohan dilaksanakan sampai pekerjaan tahap selanjutnya (perkerasan dengan aspal) akan dilaksanakan, sedemikian rupa sehingga dimensi, permukaan dan mutu LPA tetap sesuai spesifikasi teknis.

 Lapisan Pondasi Agregat Klas B (LPB)


Lapisan Pondasi Agregat Klas B, biasa kita kenal dengan sebutan LPB digunakan sebagai lapis pondasi bawah, dilaksanakan menyebar sepanjang jalan di atas timbunan pilihan atau diatas permukaan badan jalan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Persiapan :
  1. Pembuatan DMF (Design Mix Formula) dilaksanakan di Laboratorium atau di UMPKL Dinas Pekerjaan Umum setempat, bila dianjurkan oleh Direksi pengawas, contoh semua jenis material diambil dari sumber quarry dengan lokasi sketsa terlampir, pengambilan contoh material (batu, debu batu, pasir, tanah pilihan) dilaksanakan bersama-sama dengan Pengawas Lapangan dan konsultan Pengawas. 
  2. Setelah DMF atau Disain rumusan Kerja  selesai kontraktor akan membuat JMF (Job Mix Formula) di Laboratorium Kontraktor itu sendiri, didampingi konsultan dan Direksi teknis.  
  3. Khusus untuk batu sebelum dibuat JMF akan dilaksanakan uji tingkat kekerasan (Abration test) bersama-sama pengujian material LPA.
  4. Penyediaan material di stock pile atau lokasi pengadukan khususnya pemecahan batu dilaksanakan segera setelah hasil uji kekerasan memenuhi syarat, termasuk penyediaan pasir, debu batu dan tanah pilihan.
  5. Percobaan pelaksanaan : menyangkut komposisi masing-masing jenis material (mengacu JMF), tebal hamparan gembur sehingga dihasilkan tebal padat yang disyaratkan (diketahui faktor gembur), kadar air optimal, jumlah lintasan pemadatan sehingga dihasilkan kepadatan maksimal sesuai spesifikasi teknis.
  6. Hasil percobaan pelaksanaan dilakukan pengujian : ketebalan (pengukuran manual), uji kepadatan (Sand Cone), uji gradasi lapangan (analisa saringan) dan PI lapangan (atterberg) dan uji CBR Lapangan (DCP).
  7. Staking-out, menentukan lebar dan tebal hamparan sebagai gambar rencana.

Pelaksanaan :
  1. Pengadukan material LPB : dilaksanakan di stock pile (lokasi pengadukan) dengan komposisi berdasarkan JMF dan hasil percobaan lapangan, pengadukan dilaksanakan setiap maksimal ≤ 50 m3 agar dihasil campuran yang homogen, digunakan peralatan excavator dan whell loader.
  2. Material LPB diangkut dengan menggunakan dump truk, pemuatan menggunakan wheel loader, jarak hauling diatur sedemikian rupa (memeprhatikan faktor gembur dari hasil percobaan pelaksanaan) sehingga penghamparan dapat dilaksanakan efektif dan efisien.
  3. Penghamparan menggunakan motor grader, tebal hamparan sesuai hasil percobaan pelaksanaan, dilaksanakan selebar rencana, perapian hamparan dilaksanakan dengan tenaga manusia dengan peralatan sesuai keperluan lapangan.
  4. Selama proses penghamparan dilakukan control kadar air, sehingga akan dihasilkan kadar air optimal pada saat pemadatan dilaksanakan.
  5. Dimensi dan kelandaian permukaan dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana.
  6. Pemadatan menggunakan vibrator roller (berat 8-12 ton), dilaksanakan mulai dari bagian yang rendah berangsur-angsur menuju bagian yang lebih tinggi, jumlah lintasan sesuai dengan hasil percobaan pelaksanaan.  
  7. Pemadatan dihentikan jika diyakini telah tercapai kepadatan yang disyaratkan.
Pengujian dan pengukuran :
  1. Pengujian mutu : uji gradasi dan PI (di Laboratorium), uji kepadatan (Sand Cone di lapangan), uji CBR Lapangan (DCP).
  2. Pengukuran : dimensi (panjang, lebar dan tebal dilaksanakan secara manual), kelandaian (menggunakan pesawat waterpass atau theodolit)  dan kerataan permukaan (menggunakan mistar ukur).
Pemeliharaan :
Pemeliharaan menyangkut kerataan permukaan, keutuhan dan kekokohan dilaksanakan sampai pekerjaan tahap selanjutnya (Lapis Pondasi Atas) akan dilaksanakan, sedemikian rupa sehingga dimensi, permukaan dan mutu LPA tetap sesuai spesifikasi teknis.  

LAPIS PONDASI AGREGAT KLAS S


Lapisan Pondasi Agregat Klas S, yang biasa kita singkat dengan LPS biasa digunakan untuk bahu jalan tanpa penutup  aspal, dilaksanakan menyebar sepanjang jalan.

Persiapan  :

  1. Pembuatan DMF DMF (Design Mix Formula) LPS dilaksanakan di Laboratorium atau di UMPKL Dinas Pekerjaan Umum setempat, bila dianjurkan oleh Direksi pengawas, contoh semua jenis material diambil dari sumber quarry dengan lokasi sketsa terlampir, pengambilan contoh material (batu, debu batu, pasir, tanah pilihan) dilaksanakan bersama-sama dengan Pengawas Lapangan dan konsultan Pengawas. 
  2. Setelah DMF selesai kontraktor akan membuat JMF (Job Mix Formula) di Laboratorium Kontraktor itu sendiri, didampingi konsultan dan Direksi teknis.
  3. Staking-out untuk menentukan lebar dan kelandaian permukaan bahu jalan sebagaimana gambar rencana, dilaksanakan bersama-sama dengan Pengawas Lapangan dan Konsultan Pengawas.

Pelaksanaan  :
a. Pemotongan dan pengurugan digunakan motor grader, sehingga didapat permukaan sebagai staking-out yang telah dilaksanakan.
b. Pemadatan dilaksanakan menggunakan vibrator roller (berat 8-12 Ton), pemadatan dihentikan jika sudah didapatkan kepadatan yang disyaratkan.

Pengujian dan pengukuran :
a. Pengujian mutu berupa : uji kepadatan menggunakan Sand Cone.
b. Pengukuran hasil pekerjaan : dilaksanakan pada lokasi-lokasi yang mutunya memenuhi syarat, menggunakan alat ukur optik (waterpass atau theodolit) dan manual (meteran).

Pemeliharaan  :
Pemeliharaan dilakukan selama pelaksanaan pekerjaan sampai FHO, dilaksanakan sedemikian rupa sehingga bentuk dan dimensi tetap dalam kondisi sesuai dengan gambar rencana, tetap berfungsi sebagaimana mestinya. 


January 13, 2018

Cara Pembayaran Item Mobilisasi Kontraktor

Kadang para kontraktor kebingungan dalam membuat tagihan biaya mobilisasi, pada hal didalam spesifikasi teknis telah diatur cara pembayaran item mobilisasi tersebut.


Kadang para kontraktor kebingungan dalam hal penarikan biaya mobilisasi, pada hal didalam spesifikasi teknis telah diatur cara pembayaran item mobilisasi tersebut.

Mobilisasi harus dibayar atas dasar lump sum menurut jadwal pembayaran yang diberikan di bawah, dimana pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan dan pemasangan semua peralatan, dan untuk semua pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya yang perlu untuk menyelesaikan pekerjaan yang diuraikan dalam Pasal 1.2.1.(1) dari Spesifikasi ini. 

Walaupun demikian Direksi Pekerjaan dapat, setiap saat selama pelaksanaan pekerjaan, memerintahkan Kontraktor untuk menambah peralatan yang dianggap perlu tanpa menyebabkan perubahan harga lump sum untuk Mobilisasi.

Pembayaran biaya lump sum ini akan dilakukan dalam tiga angsuran sebagai berikut :
  1. 50 % (lima puluh persen) bila mobilisasi 50 % selesai, dan pelayanan atau fasilitas pengujian laboratorium telah lengkap dimobilisasi. 
  2. 20 % (dua puluh persen) bila semua peralatan utama berada di lapangan dan diterima oleh Direksi Pekerjaan. 
  3. 30 % (tiga puluh persen) bila demobilisasi selesai dilaksanakan.

Bilamana Kontraktor tidak menyelesaikan mobilisasi sesuai dengan salah satu dari kedua batas waktu yang disyaratkan dalam Pasal 1.2.1.(3) maka jumlah yang disahkan Direksi Pekerjaan untuk pembayaran adalah persentase angsuran penuh dari harga lump sum Mobilisasi dikurangi sejumlah dari 1 % (satu persen) nilai angsuran untuk setiap keterlambatan satu hari dalam penyelesaian sampai maksimum 50 (lima puluh) hari.

Contact Form

Name

Email *

Message *