ads

Informasi Penting

Untuk membantu pengembangan website ini, Beberapa file yang ada di www.kerkuse.id berbayar seperti, AHSP 2022, Analisa SDA, Analisa Bangunan Gedung, dll, untuk harga silakan konfirmasi di email: @gmail.com atau hubungi saya melaui Whatsapp 000000000 Mmohon maaf atas keitidak nyamanan ini. Sedangkan file gratis akan saya bagikan setelah perbaikan link yang mengalami perubahan, paling lama satu bulan sejak ini disampaikan. Trims

Metode Pemasangan jembatan Rangka Baja

Penggunaan Metode Semi kantilever dalam pemasangan Jembatan Rangka Baja

Salah satu metode yang digunakan untuk pemasangan jembatan rangka baja adalah dengan sistem Semi kantilever.

Semi Kantilever adalah suatu sistem perakitan jembatan rangka baja yang dilakukan tanpa alat penyangga/perancah tetapi merupakan sistem pemasangan komponen per komponen yang dipasang setempat secara bertahap mulai dari abutment atau pilar hingga posisi  akhir (abutment atau pilar berikutnya) dengan cara penambahan dan pemasangan masing-masing komponen pada sebagian bentang yang  telah dipasang sebelumnya, hingga membentuk kantilever yang bergerak segmen demi segmen menuju ke perletakan jembatan berikutnya.


Pemasangan sistem kantilever ini bersifat statis dan membutuhkan bentang pemberat dan rangka penghubung. Berikut tahapan-tahapan Pelaksanaannya :

a. Tempat Perakitan

Panjang bagian belakang abutment yang dibutuhkan untuk memasang konstruksi baja adalah sepanjang bentang pemberat ditambah daerah bebas untuk jalan kerja, misalnya panjang bentang pemberat ditambah ± 10 m.
Lebar yang dibutuhkan untuk masing-masing keadaan ± 10 m untuk bentang pemberat ditambah 5 m untuk jalan kerja. Sebagai tambahan dibutuhkan juga tempat untuk menumpukan komponen baja dan sebagainya.

b. Perletakan Penumpu Sementara

Penumpu sementara yang akan digunakan disediakan oleh kontraktor pelaksana atau erektor. Ganjal kayu yang kuat harus dipasang dibawah masing-masing titik tumpuan pada abutment atau pilar untuk menumpu bagian pangkal dari bentang kantilever selama pemasangan. Persyaratan kayu penumpu ini harus mengikuti pokok bahasan Area Perakitan dan Pekerjaan Persiapan, butir d.

Pada embankment yang terdekat dengan level akhir, maka sebaiknya untuk pemasangan bentang pertama berkisar ± 1.50 m di atas level akhir. Dengan demikian akan sangat berguna jika terjadi lendutan di bagian bawah ujung kantilever.

c. Tumpuan Bentang Pemberat

Ujung belakang bentang pemberat harus ditumpu dengan ganjal kayu atau landasan beton yang dirancang sesuai dengan kondisi tanah yang ada dan secara umum pelaksanaannya harus sepenuhnya sesuai dengan Pokok Bahasan Bentang Pemberat.

d. Bentang Pemberat dan Perangkat Penghubung

Bentang pemberat adalah suatu bentang rangka standard yang berguna  untuk manahan berat sendiri komponen rangka baja yang sedang dirakit di atas sungai sehingga dengan pengimbang beban lawan yang berada di tempat yang disediakan pada bentang pemberat (biasa terletak di pangkal bentang), bentuk kantilever yang terjadi di atas sungai tetap stabil (momen guling terjadi ditahan oleh beban lawan).

Bentang pemberat dihubungkan dengan bentang permanen yang sedang dirakit melalui rangka penghubung/linking steel. Bentang pemberat dan rangka penghubung disediakan oleh kontraktor pelaksana atau erector.

Penambahan beban lawan untuk mengimbangi momen guling dari bentang kantilever, menyesuaikan terhadap kemajuan panjang bentang permanen yang sedang dirakit.

e. Perakitan

Secara umumnya perakitan dilaksanankan seperti dijelaskan pada sub bahasan 1 di atas. Bila komponen-komponen telah duduk (terpasang) pada pelat buhul, komponen tersebut harus ditempatkan dengan tepat dan harus ditahan dengan pasak (drift) yang ada agar semua komponen terpasang dengan tepat sebelum dibautkan. 

Sistem perakitan ini telah direncanakn dengan langkah-langkah yang mudah dan dimulai dengan perakitan bentang pemberat di atas tanah pada area oprit hingga selesai.
Adapun urutan-urutan perakitan adalah sebagai berikut :

Langkah 1.
Sebagai dasar perakitan statis awal adalah pembuatan satu rangkaian bentuk frame segitiga awal/pertama tepat setelah susunan rangka penghubung, tentunya dapat dimulai dengan pemasangan batang diagonal (2) pada sambungan/join J1 dimana pelat sambungnya sudah terpasang lebih dahulu.

Setelah kelengkapan sambungan sudah terpasang semua pada J1, maka baut dapat segera dimasukan dan diputar dalam kondisi sementara sehingga batang diagonal (2) masih mudah diatur posisinya untuk menunggu dipasangnya batang datar bawah (3) yang dipasangkan dan dibautkan pada J2 lebih dahulu.

Sambung dan pasang baut batang (2) dan (3) pada sambungan J3 dengan dilengkapi keperluan plat sambung dan kelengkapannya (missal jika diperlukan plat sisipan dan lain-lain).

Setelah terbentuk frame segitiga pada posisi yang benar maka lengkapi semua baut pada tiap-tiap sambungan dan dapat dikencangkan sepenuhnya sehingga terbentuklah “segitiga awal” (segitiga, J1 J2 J3) sebagai segitiga pijakan awal untuk perakitan selanjutnya.

Pembentukan segitiga ini harus dua sisi bersama-sama agar setelah disusul dengan pemasangan girder melintang dari J3 akan membentuk kantilever sebagai pegangan untuk perakitan komponen demi komponen berikutnya.

Pasang pengikat sementara batang bawah dan baut pada tempatnya, dimana pembautan ini juga bersifat sementara, kemudian pasang gelagar melintang atas ujung (5) pada J1 (dua sisi).

Langkah 2.
Pasang batang datar tepi atas pada pelat-pelat buhul dan pelat penyambung bagian bawah pada titik sambungan/join J1 yang telah selesai sebelumnya. Sisipkan pelat penyambung atas dan pelat pengisi bagian dalam (jika diperlukan). Setelah join J1 terpasang, pelat penyambung badan dan pengisi badan dan dalam keadaan pembautan penuh (baut dikencangkan sepenuh-penuhnya).

Langkah 3.
Rakit dan pasang dua batang diagonal (2) berikut pelat penyambung buhul termasuk pelat penyambung batang diagonal yang sudah ditandai bersama-sama sehingga membentuk rakitan ^ (V terbalik).

Angkat dalam keadaan tegak dan sisipkan ujung bawahnya (dari bentuk ^) diantara pelat buhul batang bawah pada sambungan J3.

Sisipkan pelat pengisi sanyap dan pelat penyambung ke bagian bawah jalur diagonal, lalu dikunci dengan kunci pas ujung lancip dan sisipkan agar pelat buhul atas bisa pas dengan batang atas (1) pada sambungan J4. Pasang pelat penyambung sayap bawah dan bagian dalam dan bagian luar pelat pengisi pada J3 dan pasang bagian baut-baut pada J4 dan J5 (yaitu setengah ke bawah).

Langkah 4.
Pasang batang  datar tepi bawah (3), masukan diantara pelat buhul pada bagian pertemuan J3 yang telah selesai sebagian. Pasang pelat pengisi jika dijelaskan pada Gambar Erection Jembatan dan pelat penyambung atas selesai (J4) setelah pemasangan pelat penghubung badan bagian atas dan pelat penyambung badan yang ada dan baut seluruhnya pada pertemuan J4.

Pada ujung depan dari batang datar bawah, pasang pelat buhul luar dan pelat penyambung bawah secara bersamaan dengan pengisi yang ditentukan, bautkan pada batang datar bawah  dan batang diagonal pada sambungan/join (J5).

Langkah 5.
Pasang ikatan angin batang atas dan hubungksn pada pertemuan di J1 dan J4 saling menyilang.
Jalan kerja dari kayu dapat dipasang pada gelagar melintang batang atas (5) dan rangka pengangkat dipindahkan satu panel berikutnya dipasang dan diikat kembali.

Langkah  6.
Ulangi langkah ke (1). Pasangkan batang penghubung atas berikutnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya  dan selesaikan titik hubung J3.

Langkah 7.
Ulangi langkah ke (2) dan lanjutkan tahapan perakitan seperti sebelumnya.
“Penting sekali bahwa seluruh baut harus dikencangkan penuh setelah semua komponen pada suatu titik pertemuan terpasang”.

f. Pengikat Sementara Pada Bagian Bawah.

Pasa saat pemasangan kantilever, pengikat silang sementara harus dipasang pada bagian bawah batang di setiap ujung batang yang disesuaikan jalurnya, pengikat silang sementara ini dibutuhkan untuk mengurangi lendutan lateral pada kantilever akibat beban angin dan untuk mengikat batang bagian bawah (dalam tekanan) untuk mengimbangi pengait.

Pengikat ini harus dilepas setelah konstruksi selesai dan bentang telah menopang keempat sudutnya. Penopang tidak dapat dipasang sebelum pengikat sementara dilepas.

g. Pengangkutan dan Pengangkatan

Pengangkatan dan pengangkutan komponen-komponen dari tempat penumpukan ke tempat pemasangan (penyambungan) perlu dilakukan selama proses pemasangan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai macam sarana atau metode tergantung dari keadaan lokasi. Metode-metode yang digunakan bisa berbagai alternatif antara lain :
  • Melalui jembatan lama dengan menggunakan crane kecil.
  • Kabel-kabel yang digantung diantara kedua abutment dibawah jembatan.
  • Menggeser komponen di atas alas kayu melalui bagian konstruksi baja yang sudah selesai. Disarankan untuk mencengah kerusakan komponen, sebaiknya digunakan rol.  

Sebaiknya digunakan dua rangka pengangkat sederhana yang terbuat dari profil baja ringan dan dipasang pada kedua batang paling atas dengan membautnya melalui lubang drainase atau baut pada pelat badan.

Penggunaan rangka pengangkat ini bersama-sama dengan katrol rantai atau katrol tangan, menjamin kemudahan pengoperasian dan alat ini dapat dipindah-pindah sepanjang bentang selama berlangsungnya pemasangan jembatan.

h. Lendutan Kantilever dan Pembatasan Badan

Rangka jembatan akan melendut secara elastis sebagai akibat adanya kantilever dan bentang pemberat juga akan melendut dan akan menambah besar lendutan pada bagian ujung bentang yang sedang dikerjakan.

Seperti dijelaskan pada sub bahasan 3 di atas, lawan lendut pada bentang rangka terbentuk sebagai bentuk pabrikasi pelat buhul batang atas dan batang bawah dan tidak diperlukan tindakan khusus atau penyesuaian-penyesuaian selama pelaksanaan system kantilever ini.

Yang perlu diperhatikan adalah, perakitan baja ditempatkan pada level yang ditentukan untuk mengantisipasi lendutan hingga bagian ujung kantilever berada diatas bagian abutment dan pilar.

Untuk menentukan ketinggian dari penyangga dengan ganjalan kayu disetiap ujungnya dimana bentang menumpu pada salah satu atau kedua ujungnya di pilar, maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
  • Geometri dari tempat pabrikasi bentang pemberat, bentang terkantilever dan rangka penghubung;
  • Lendutan elastis dari ujung kentilever dan;
  • Ketinggian relatif dari ketiga pilar atau abutment  pada alur jembatan tidak dimungkinkan untuk menentukan tinggi rata-rata untuk setiap kombinasi bentang karena level pilar dan abutment relatif bervariasi disetiap lokasi dan ditentukan kemudian dengan alinyemen vertical jalan yang dibutuhkan.

i. Baja Penopang (stringer) dan Pelat Lantai Baja.

Sebelum rangka jembatan selesai terpasang (sebaiknya didongkrak turun lebih dahulu) batang penopang dan panel lantai profil baja tidak dapat dipasang. Lepaskan pengikat sementara batang bagian bawah bagian sebelum pemasangan batang penopang dan dudukan.

Sistem lain selain system kantilever dipasang setempat yang dapat digunakan adalah system kantilever yang ditumpu ditengah bentang sehingga mengurangi sifat pangkantileveran dan mengurangi bentang pemberat dan beban lawan.

Dalam hal ini, penopang bagian tengah harus sebagai titik berat bentang . Metode ini biasa dipakai khususnya untuk jembatan rangka bentang panjang

Dengan pertimbangan jumlah bentang, kedalaman sungai penyedia mempertimbangkan metode kantilever dan untuk digunakan melaksankan pekerjaan erection jembatan.


Baca Juga Artikel Terkait :



Subscribe to receive free email updates: