September 23, 2018

Metode Pemeliharaan Saluran Primer

Pelaksanaan Pekerjaan Pemeliharaan Saluran Primer sebagai upaya untuk menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu berfungsi dengan baik guna mempelancar operasi


Pelaksanaan Pekerjaan Pemeliharaan Saluran Primer meliputi Pekerjaan Pembersihan Rumput atau pembabatan rumput dan Pembersihan saluran dalam terhadap gulma dan rumput lainnya. Berikut Metode Pelaksanaan masing-masing pekerjaan:

Pertama Pembabatan Rumput (OP.1a)
Pembabatan rumput merupakan bagian dari pemeliharaan rutin jaringan irigasi, dalam upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu berfungsi dengan baik guna mempelancar operasi dan mempertahankan kelestarian fungsi dan manfaat prasarana jaringan irigasi yang di lakukan terus-menerus.

Pekerjaan ini meliputi :
  1. Pembabatan rumput dilakukan pada kanan kiri saluran sampai bersih, dengan jarak pembabatan dari tepi saluran 
  2. Masing-masing sekurang-kurangnya 1 (satu) meter ke kiri dan ke kanan dari bibir 
  3. saluran baik untuk saluran kolektor, saluran sub.sekunder, saluran Sekunder dan
  4. saluran Primer atau sesuai petunjuk Direksi Teknis. 
  5. Tidak diperkenankan menggunakan pestisida dan atau pembakaran. Rumput tebasan dibuang diluar saluran sesuai petunjuk Direksi Teknis.
Metode Pelaksanaan 
Pada lokasi Saluran Primer pembabatan rumput dilaksanakan dengan interval 3 bulan dan frekuensi pembabatan 4 kali/tahun, tergantung kondisi.

Peralatan yang digunakan:
  1. Parang
  2. Arit
  3. Cangkul
  4. Meteran
  5. Alat bantu lainnya
Tenaga Kerja 
  1. Tenaga kerja untuk melaksanakan pekerjaan ini adalah kelompok-kelompok tani diwilayah tersebut atau masyarakat sekitar.
  2. Pembabatan rumput Pada lokasi Saluran Primer kapasitas kerja 50-150 M2/Orang Sesuai dengan kondisi rumput
  3. Kapasitas produksi Pembabatan Rumput Saluran Pimer 50 - 150 M2/Orang Tergantung kondisi
 Rencana Penyelesaian :
  1. Penyelesaian Pembabatan Rumput Thap I sesuai schedule = 6 Minggu
  2. Produktivitas 1 pekerja perhari rata-rata                             = 100 M2/hari
  3. Volume Pembabatan Rumput                                            = 6000 M’
  4. Luas 6000 x 4 m                                                               = 12.000 M2
Minimal Kebutuhan tenaga kerja 
  1. agar terlaksana sesuai jadwal adalah                                 = 2 Orang.

Kedua Pembersihan Dalam Saluran (OP.1b) L = 10 m
Pembersihan Dalam saluran merupakan bagian dari pemeliharaan rutin jaringan irigasi, dalam upaya menjaga dan mengamankan jaringan irigasi agar selalu berfungsi dengan baik guna mempelancar operasi dan mempertahankan kelestarian fungsi dan manfaat prasarana jaringan irigasi yang di lakukan terus-menerus.

Pekerjaan ini meliputi:
  1. pembersihan rumput, tanaman pengganggu dan gulma didalam saluran serta sampah-sampah yang dapat menggangu lancarnya jalannya air didalam saluran.
  2. Sampah serta tumbuhan tersebut diangkat dari dalam saluran dan kemudian ditumpuk diluar tanggul saluran atau tempat-tempat yang telah ditentukan oleh direksi teknis.
  3. Pekerjaan ini dilakukan sepanjang saluran dengan volume yang telah ditentukan sampai air yang terdapat didalam saluran dapat mengalir dengan balk.
Metode Pelaksanaan 
Pada lokasi Saluran Primer pembersihan dalam saluran primer 2 kali/tahun, dengan interval 6 bulan sekali, tergantung kondisi.

Peralatan yang digunakan:
  1. Parang
  2. Arit
  3. Cangkul
  4. Meteran
  5. Alat bantu lainnya
Tenaga Kerja 
  1. Tenaga kerja untuk melaksanakan pekerjaan ini adalah kelompok-kelompok tani diwilayah tersebut atau masyarakat sekitar.
  2. Pembabatan rumput Pada lokasi Saluran Primer kapasitas kerja 50-150 M2/Orang Sesuai dengan kondisi rumput
  3. Kapasitas produksi Pembersihan saluran (tumbuhan air) Saluran Pimer 25 - 50 M2/Orang Tergantung kondisi
 Rencana Penyelesaian :
  1. Penyelesaian Pembabatan Rumput Thap I sesuai schedule = 13 Minggu
  2. Asumsi: kemampuasn 1 pekerja perhari                           = 37,50 M2/hari
  3. Volume Pembersihan dalam saluran (OP.1b) L= 10 m = 6000 M’
  4. Luas 6000 x (10 m x 35%)                                               = 21.000 M2
Minimal Kebutuhan tenaga kerja 
agar terlaksana sesuai jadwal adalah                                           = 6 Orang.

Untuk Analisa Irigasi dan Rawa silakan kunjungi link download dibawah ini:



Metode Rehabilitasi dan Pemeliharaan jaringan Irigasi dan Rawa

Metode Pekerjaan Rehabilitasi dan Pemeliharaan jaringan Irigasi dan Rawa

Rapat PCM (Pre Contruction Meeting)     
Sebelum melaksanakan pekerjaan, kontraktor mebuat Rencana Mutu Kontrak (RMK) dan Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Kontrak (RK3K), kemudian dilakukan Rapat bersama dengan Pejabat Pembuat Komitmen terkait, Pengawas terkait, dan juga penyedia jasa, untuk membahas dan pemaparan metode pelaksanaan serta schedul pelaksanaan. Dalam rapat ini juga dibahas permasalahan - permasalahan yang mungkin muncul selama pelaksanaan pekerjaan serta penyelesaian yang mungkin dapat dilakukan untuk mengantisipasinya.         

Sosialisasi 
Bersama Pengguna jasa, Kontraktor harus melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang akan dilaksanakannya proyek dengan berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan aparatur pemerintah setempat.

Kantor lapangan, gudang, bengkel, barak kerja dan laboratorium beserta fasilitas liannya
Penyedia jasa akan membuat / menyiapkan kantor lapangan, gudang, bengkel, barak kerja dan laboratorium beserta fasilitasnya  yang akan digunakan Pengguna Barang / Jasa, sesuai dengan persyaratan yang ditentukan Pengguna Barang / Jasa.

Penyedia Jasa akan menyediakan akomodasi kantor lapangan yang cocok dan fasilitas yang memenuhi kebutuhan proyek jumlah ruangan yang cukup untuk menampung seluruh kegiatan disertai peralatan yang memadai.
            
Fasilitas Selama Pembangunan Kantor Lapangan : Sampai saatnya bangunan-bangunan kantor lapangan telah siap ditempati, pihak Penyedia Barang / Jasa akan menyiapkan suatu ruang kantor alternatif, baik di tempat kantornya sendiri atau bangunan yang disewa sesuai dengan kebutuhan Pengguna Barang / Jasa.

Mobilisasi
Mobilisasi semua Personil Penyedia Jasa sesuai dengan struktur organisasi yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan termasuk para pekerja yang diperlukan dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan termasuk Koordinator Manajemen dan Keselamatan kerja (KMKK) sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan.

Mobilisasi dan pemasangan peralatan sesuai dengan daftar yang tercantum dalam Penawaran, dari suatu lokasi asal ke tempat pekerjaan ini.

Demobilisasi
Pembongkaran tempat kerja oleh Penyedia Jasa pada saat setelah pekerjaan selesai dan PHO, termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan perlengkapan dan pengembalian kondisi tempat kerja menjadi kondisi seperti semula.

Papan Nama  Proyek       
Papan nama kegiatan/proyek dipasang sebelum pekerjaan akan dimulai, yang berguna untuk memberitahukan kepada masyarakat sekitar bahwa di lokasi/daerah sekitar akan dilakukan kegiatan proyek dengan isian data-data umum tentang kegiatan.

Pekerjaan Pengukuran dan Pematokan
Tujuan pengukuran adalah untuk memproyeksikan hasil desain ke lapangan, baik itu posisi koordinat, elevasi pekerjaan agar tidak berubah pada lokasi yang telah direncanakan.Dari hasil pengukuran dilapangan diproyeksikan kembali kedalam peta koordinat (Mapping) dengan menggunakan Peta Dasar RBI dan Peta Kawasan Hutan sesuai dengan SK Menteri Kehutanan Nomor : 733 / Menhut -11 / 2014. Tentang Kawasan Hutan Dan Konservasi Perairan.

Peralatan
  • Peralatan yang digunakan dalam pelaksanaan pengukuran antara lain:
  • GPS (Global Position System) untuk mengukur jarak
  • Theodolite 1 Unit untuk mengukur profil memanjang
  • Waterpass 1 unit untuk mengukur profil melintang
  • Meteran 1 Unit, 50 M
  • Sepeda Motor 2 Unit
  • Material/Bahan
  • Kayu Reng,Uk.4x6
  • Cat Minyak
  • Spidol ,dan
  • Kamera
Teknik Pengukuran
Untuk Profil Melintang 
Pengukuran menggunakan meteran baik itu lebar atas maupun lebar bawah secara Detail sesuai Gambar Perencanaan ( Desain ).

Pengukuran Profil Memanjang Dan Bangunan Pelengkap 
Untuk Pengukuran Profil Memanjang terhadap Saluran Pasangan, Saluran Pembawa, Lenning Dan Lain- Lain Dengan Cara Di Track Untuk Bangunan Bendung, Bangunan Box Bagi Dan Lain – Lain Cukup Di Ambil Titik Koordinat ( Poin ), Selain Mengunakan GPS Pengukuran Di Bantu Dengan Mengunakan Meteran.

Hasil  Tracking  Dan  Pengambilan  Titik  Koordinat  GPS,  Kemudian  Di  Overlay  kan Dengan Menggunakan Peta Dasar Propil Dan Peta Kawasan Hutan  Agar Pelaksanaan Pekerjaan Berada Pada Kawasan Areal Penguna Lain (APL).

Hasil Pengukuran Ini Sebagai Syarat Pencairan Termyn, Apa Bila Tidak Dilampirkan Dengan Syarat Permohonan Termin Maka Proses Termin Tidak Bisa Di Cairkan.

Teknik Pengukuran untuk Jenis Pekerjaan Saluran
Sebelum   melakukan   pematokan   dengan   jarak   patok   per   100   meter   dilakukan pengukuran jarak menggunakan GPSdengan cara membuat trackdan Menarik Meteran secara Manual. Agar diketahui jarak Pengukuransaat membuat track GPS tandai per 100 meter untuk selanjutnya dipasang patok yang telah disiapkan.

Untuk profil melintang saluran pengukuran menggunakan meteran,baik itu lebar atas saluran maupun lebar bawah saluran dan kedalaman saluran secara detail sesuai pada gambar perencanaan (desain).
Setelah dilakukan pengukuran jarak dan pengukuran profil melintang saluran dilakukan pematokan pada jarak per 100 meter dengan menggunakan patok kayu Reng panjang (50 s/d. 70 cm) yang sudah diruncing, dicat dan sudah ditandai jarak dengan menggunakan cat warna /spidol yang tidak luntur.
Hasil dari pengukuran dan pematokan harus dipetakan kembali dalam peta koordinat dengan menggunakan Peta Dasar RBI dan Peta Kawasan Hutan SK Menteri Kehutanan RI Nomor: SK 733 / Menhut – 11 / 2014 berfungsi sebagai kontrol agar pelaksanaan pekerjaan tersebut tidak berada pada kawasan hutan melainkan masih pada lokasi areal penggunaan lain (APL).    

Penyedia jasa dan pengguna jasa melakukan pemeriksaan lokasi pekerjaan dengan melakukan pengukuran dan pemeriksaan detail kondisi pekerjaan untuk menyiapkan gambar kerja / shop drawing  (Mutual Check 0%).
                
Perhitungan Awal dan Rescheduling      
Perhitungan awal digunakan untuk  mengetahui kebutuhan volume yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi riil lapangan saat ini serta untuk mengantisipasi barangkali ada pekerjaan tambah kurang sehingga dapat dilakukan perubahan di awal sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai dan menyusun ulang Schedule pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan hasil perhitungan kembali yang dilakukan bersama dengan pengawas lapangan.   
Hasil pemeriksaan bersama di tuangkan dalam Berita Acara, Apabila dalam pemeriksaan bersama mengakibatkan perubahan isi kontrak, maka akan dituangkan dalam addendum kontrak ( Berita Acara Mutual Check 0 % ). 

Metode Pekerjaan Rehabilitasi Jaringan Rawa DIR  
  1. Sebagai awal pengerjaan pelaksana membersihkan lokasi kegiatan dari sampah atau benda lain yang dapat menghambat proses kegiatan. 
  2. Pelaksana memasang patok-patok yang berfungsi sebagai acuan agar pengerjaan saluran lurus atau sesuai dengan rencana. 
  3. Pengerjaan saluran dikerjakan secara manual ataupun dengan alat berat, penggalian saluran harus berpedoman pada  gambar  teknis.  
  4. Tanah  hasil  galian  ditimbun  pada  sisi  dalam  saluran  yang  ditata sedemikian rupa sehingga membentuk seperti tanggul. 
  5. Pengerjaan saluran harus rapi dan lurus sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya. 
  6. Saluran digali sesuai dengan ukuran yang tercantum dalam gambar teknis, guna kelancaran aliran air maka penggalian dasar saluran dibuat kemiringan sesuai kondisi lapangan.

Pekerjaan Galian terdiri dari :
  1. Semua  dimensi  galian  harus  dikerjakan  menurut  syarat-syarat  yang  ditentukan  pada gambar atau ditentukan Asisten Teknis / Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan ( PPTK ).
  2. Galian tidak boleh dimulai sebelum ada izin dari Asisten Teknis / Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan ( PPTK ).
  3. Galian harus mencakup pembuangan pada tempat ditentukan pada gambar rencana atau ditentukan oleh Asisten Teknis / Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan ( PPTK ).
  4. Kemiringan dasar saluran dirapikan sebaik mungkin menurut pendapat Asisten Teknis / Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan ( PPTK ).
  5. Hasil galian harus dibentuk, dirapikan sesuai dengan petunjuk asisten teknis dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).

Metode Pekerjaan Galian dengan Excavator standar
Pekerjaan galian ini dilakukan menggunakan alat berat (excavator) untuk menggali lokasi yang sulit dilakukan secara manual, namun galian manual dapat digunakan untuk merapikan hasil galian alat jika diperlukan. Pelaksana  menyediakan tenaga pekerja dan peralatan yang diperlukan pada
pelaksanaan pekerjaan ini.
Galian dengan excavator : 
  1. Penggalian dari semua bagian pekerjaan dengan excavator harus dilaksanakan sebaik- baiknya yang memenuhi syarat ( Qualified ), efesiansi sesuai dengan Spesifikasi gambar rencana. 
  2. Sebelum  pelaksanaan penggalian dengan  excavator di daerah yang telah  ditentukan, harus dipasang tanda pembatas galian dengan menggunakan bantuan patok dari kayu. 
  3. Volume  galian  untuk  setiap  penampangnya  agar  disesuaikan  dengan  ukuran  seperti tercantum dalam gambar rencana hasil pengukuran yang telah disetujui oleh Pengguna Jasa. 
  4. Dalam melaksanakan galian  tanah, harus  diperhatikan bila pada  jalur galian  terdapat bangunan seperti jembatan atau bangunan lainnya, maka harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan pihak yang berwenang terhadap bangunan tersebut dan dikonsultasikan dengan Asisten Teknis / Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan ( PPTK ), sehingga tidak mengakibatkan pengaruh negatif pada bangunan tersebut. 
  5. Tempat tertentu yang tidak mingkin bisa digali dengan alat excavator, maka harus digali dengan tenaga manusia terutama untuk tebing dengan kemiringan tertentu. 
  6. Seluruh galian harus ditumpuk pada jalur / tempat yang ditentukan oleh Asisten Teknis / Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan ( PPTK ) dan harus dibentuk tanggul. Serta dirapikan baik bagian atas permukaannya maupun kemiringannya sehingga tetap berfungsi pokok sebagai tanggul dan dapat juga berfungsi sebagai jalan.

Peralatan yang digunakan :
  • Excavator
  • Light Truck
  • Theodolite
  • Waterpass
  • Meteran
  • Gps

Gambar Teknis
Gambar Teknis yang dipergunakan sebagai acuan pada pelaksanaan pekerjaan adalah gambar yang  dipakai  pada  dokumen  lelang  atau  yang  terlampir  di  dalam  kontrak. Dalam  upaya memudahkan kegiatan pemantauan dan pemeriksaan (opname) hasil pekerjaan di lapangan, pada pekerjaan tanggul/timbunan/saluran,harus memasang plang-plang patok yang memuat nominal hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan selama kegiatan berlangsung, patok tersebut senantiasa harus terpelihara dan terjaga keberadaannya.

Pemberitahuan Pelaksanaan
Pelaksana harus memberitahu kepada Asisten Teknik sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari sebelum pekerjaan dimulai, guna persiapan penentuan patok-patok yang berhubungan dengan ukuran konstruksi yang akan dilaksanakan sesuai sasaran dan target yang telah ditetapkan.
Keselamatan Kerja.

Pelaksana harus memperhatikan faktor keamanan dan memperhitungkan faktor keselamatan umum dan pekerja pada saat proses pekerjaan berlangsung. Pelaksana wajib menyediakan peralatan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan), memberikan BPJS Tenaga Kerja sesuai dalam Undang - Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS, kepada para pekerja sebagai antisipasi kecelakaan kerja, menyediakan APD (Alat Pelindung Diri) untuk pekerja sesuai dengan kebutuhan jika diperlukan.

Jaminan Perlindungan Tenaga Kerja
Untuk menjamin pekerja yang bergerak di bidang jasa konstruksi perusahaan jasa konstruksi wajib mendaptarkan pekerjanya dalam program BPJS jasa konstruksi sebagaimana telah di atur dalam undang-undang dan peraturan lainnya.

Dokumentasi
Dalam  pelaksanaan  pekerjaaan,  pelaksana  harus  mendokumentasikan  setiap  item  pekerjaan sebagai data kelengkapan laporan pengurusan termyn.

Laporan
Pelaksana akan membuat laporan pendukung yang harus disampaikan kepada: Asisten Teknik,PPTKdan PPK.Agar dapat diketahui sampai sejauh mana pekerjaan tersebut sudah terlaksana.Ada pun laporan pendukung wajib di buat oleh pelaksana adalah :
  • Shop drawing
  • Ass Build Drawing
  • Laporan harian 
  • Laporan Mingguan                      
  • Laporan Bulanan                         
  • Dokumentasi Per Bulan dari masing-masing pekerjaan                              
  • Time Schedulle/Progress Fisik   
  • Back Up Data (Quantity dan Quality)                             
  • Time Schedulle yang menunjukan Progress Fisik dilapangan.
  • Peta Hasil Pengukuran Dengan GPS Dilampirkan Pada Saat Proses Pencairan Yang Di Serahkan Kepada PPK
Untuk Analisa Irigasi dan Rawa silakan kunjungi link download dibawah ini:


September 21, 2018

Administrasi dan Laporan-laporan Kontraktor

Laporan-laporan Kontraktor wajib dibuat khusunya proyek pemerintah, para kontraktor dituntut untuk tertib administrasi, tertib teknis dan tertib biaya. 

Pada kesempatan ini saya akan berbagi pengalaman sebagai kontraktor pada pekerjaan jalan di salah satu daerah pada Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker) Wilayah X. Paket pekerjaan tersebut adalah pekerjaan pelebaran jalan. Tertib administrasi adalah pesan penting yang disampaikan oleh Kasatker ketika rapat PCM, Beliau berpesan agar administrasi dan laporan-laporanwajib dibuat, sebab dengan administrasi proyek yang baik, beban kita menjadi ringan, jika di kemudian hari ada pemeriksaan baik dari Inspektorat Jendral, BPK, Jaksa dan pemeriksa lainnya kita sudah siap untuk verifikasi data. Jadi kontraktor tidak hanya dituntut teknisnya atau produknya saja, tetapi administrasi proyek juga penting untuk disiapkan.

Administrasi proyek merupakan hal yang penting dalam pelaksanaan proyek. Salah satu diantaranya adalah pembuatan laporan berkala. Laporan berkala merupakan alat komunikasi resmi untuk menyampaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelengaraan proyek. Tujuan dari pembuatan laporan berkala adalah membantu semua pihak dalam upaya memantau dan mengendalikan secara terus menerus dan berkesinambungan atas berbagai aspek  penyelenggaraan proyek dari awal sampai selesai. Laporan berkala dibuat oleh kontraktor,disetujui oleh konsultan pengawas dan di ketahui oleh Direksi Teknis. Laporan berkala dipakai pihak kontraktor sebagai bahan utama dalam rapat intern kontraktor maupun rapat koordinasi dengan semua pihak yang terlibat dalam proyek.

September 13, 2018

Hal-hal yang Perlu Dipersiapkan Kontraktor Setelah Menang Tender

Tahap persiapan setelah kontraktor tanda tanganan Kontrak serta dan setelah penyerahan lokasi kerja / lapangan serta telah  menerima SPMK. Adapun Tahap Persiapan ini meliputi :


Rapat PCM (Pre Contruction Meeting)
Sebelum melaksanakan pekerjaan, kontraktor akan membuat Rencana Mutu Kontrak (RMK) dan Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Kontrak (RK3K), selanjutnya dilakukan Rapat bersama dengan Pejabat Pembuat Komitmen terkait, Pengawas, dan juga penyedia jasa tersebut untuk membahas dan memaparkan metode pelaksanaan serta schedul pelaksanaan. Dalam rapat ini juga dibahas permasalahan - permasalahan yang mungkin muncul selama pelaksanaan pekerjaan serta penyelesaian yang mungkin dapat dilakukan untuk mengantisipasinya.
Sosialisasi 
Bersama Pengguna jasa, Kontraktor harus melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang akan dilaksanakannya proyek didaerah tersebut dengan berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan aparatur pemerintah setempat

Survey lapangan
Untuk  mengetahui kondisi exsisting jalan sampai dengan saat itu serta menganalisis kemungkinan - kemungkinan kendala yang terjadi selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung baik dari segi lalu lintas dan lain-lain.
Yang disurvey meliputi kondisi drainase, daerah yang akan dilebarkan, bahu jalan, badan jalan, perkerasan, struktur dan hal-hal yang terkait dengan ruas jalan yang akan ditangani. 

Kemudian pihak Direksi melakukan peninjauan kembali rancangan berdasarkan data rekayasa lapangan untuk kemudian diterbitkan detail pelaksanaan dan perkiraan kuantitas untuk pelak
 
Penyedia jasa dan pengguna jasa melakukan pemeriksaan lokasi pekerjaan dengan melakukan pengukuran dan pemeriksaan detail kondisi pekerjaan untuk menyiapkan gambar kerja / shop drawing  (Mutual Check 0%).

Perhitungan Awal dan Rescheduling
Untuk  mengetahui kebutuhan volume yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi riil lapangan saat ini untuk mengantisipasi barangkali ada pekerjaan tambah kurang sehingga dapat dilakukan perubahan di awal sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai dan menyusun ulang Schedule pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan hasil perhitungan kembali yang dilakukan bersama dengan pengawas lapangan.
Hasil pemeriksaan bersama di tuangkan dalam Berita Acara, Apabila dalam pemeriksaan bersama mengakibatkan perubahan isi kontrak, maka akan dituangkan dalam addendum kontrak ( Berita Acara Mutual Check 0 % ).
Penempatan Personil dan Mobilisasi Alat
Setelah selesainya base camp, barack, gudang, lab dan lain-lain, mobilisasi personil inti segera dilaksanakan. Penempatan personil di sesuaikan dengan kualifikasi teknis yang dipersyaratkan dan untuk mobilisasi alat juga disesuaikan dengan kebutuhan alat di lapangan sesuai dengan jenis alat, kapasitas alat, dan kuantitas alat yang dibutuhkan.
Papan Nama  Proyek
Pembuatan papan nama kegiatan berukuran 150 x 250 cm atau ditentukan oleh direksi.dalam papan kegiatan tersebut tertulis jelas data-data kegiatan agar dapat dibaca dan diketahui oleh masyarakat luas serta penempatan papan nama yang mudah untuk dilihat.
Kantor lapangan, gudang, bengkel, barak kerja dan laboratorium beserta fasilitas liannya
Penyedia jasa akan membuat / menyiapkan kantor lapangan, gudang, bengkel, barak kerja dan laboratorium beserta fasilitasnya  yang akan digunakan Pengguna Barang / Jasa, sesuai dengan persyaratan yang ditentukan Pengguna Barang / Jasa .

Penyedia Jasa akan menyediakan akomodasi kantor lapangan yang cocok dan fasilitas yang memenuhi kebutuhan proyek jumlah ruangan yang cukup untuk menampung seluruh kegiatan disertai peralatan yang memadai.
Fasilitas Selama Pembangunan Kantor Lapangan : Sampai saatnya bangunan-bangunan kantor lapangan telah siap ditempati, pihak Penyedia Barang / Jasa akan menyiapkan suatu ruang kantor alternatif, baik di tempat kantornya sendiri atau bangunan yang disewa sesuai dengan kebutuhan Pengguna Barang / Jasa. 
Mobilisasi dan Demobilisasi
Kegiatan Mobilisasi :
  • Penyewaan atau pembelian sebidang lahan yang diperlukan untuk base camp Penyedia Jasa dan kegiatan pelaksanaan.
  • Mobilisasi semua Personil Penyedia Jasa sesuai dengan struktur organisasi yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan termasuk para pekerja yang diperlukan dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan termasuk Koordinator Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas (KMKL) sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan.
  • Mobilisasi dan pemasangan peralatan sesuai dengan daftar yang tercantum dalam Penawaran, dari suatu lokasi asal ke tempat pekerjaan ini.
  • Penyediaan dan pemeliharaan base camp Penyedia Jasa, jika perlu termasuk kantor lapangan, tempat tinggal, bengkel, gudang dan sebagainya.
  • Mobilisasi personil dan peralatan dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan lapangan yang disepakati dalam Rapat Persiapan Pelaksanaan (Pre Constuction Meeting).
  • Penyediaan dan pemeliharaan laboratorium mutu bahan dan pekerjaan dilapangan.
Kegiatan Demobilisasi :
Pembongkaran tempat kerja oleh Penyedia Jasa pada saat setelah pekerjaan selesai dan PHO, termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan perlengkapan dan pengembalian kondisi tempat kerja menjadi kondisi seperti semula.
Sistem Manajemen Mutu
Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan untuk membangun atau mendirikan suatu bangunan atau konstruksi pada lokasi tertentu dengan waktu yang terbatas, tidak berulang, dan hasilnya berupa produk yang dapat dipertanggungjawabkan, dengan melibatkan berbagai sumber daya
Rangkaian    kegiatan   Sistem Manajemen Mutu tersebut bertujuan  untuk menghasilkan   suatu  bangunan   yang   memenuhi syarat biaya, mutu dan waktu. Sistem manajemen mutu mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives), pelanggan (customers), hasil- hasil  (outputs),  prosesp-proses (processes), masukan-masukan   (inputs)   pemasok   (suppliers), dan  pengukuran  untuk  umpan-balik  dan  umpan- maju (measurements for feedback and feedforward).
Sistem manajemen mutu terdiri atas empat tingkatan, yaitu :
  1. Inspeksi  (Inspection), adalah  mengkaji karekteristik proyek dalam aspek mutu, dalam hubungannya  dengan  suatu  standart  yang ditentukan. Inspeksi akan menentukan baik atau tidaknya proyek berdasarkan mutunya.
  2. Pengendalian Kualitas (Quality Control – QC), terdiri dari kegiatan pemeriksaan pekerjaan, bersama-sama  dengan  manajemen  dan pendokumentasian bahwa pelaksanaan pekerjaan sudah sesuai dengan persyaratan kontrak dan peraturan-peraturan yang  berlaku  QC merupakan suatu unsur atau bagian dari QA.
  3. Jaminan  Kualitas  (Quality  assurance  –  QA), adalah semua perencanaan, metoda dan langkah sistematis yang diperlukan untuk memberi keyakinan  bahwa  semua  perencanaan, perancangan dan pelaksanaan yang dilakukan sudah sesuai dengan standart-standart yang berlaku, serta syarat-syarat yang dispesifikasikan dalam kontrak.
  4. "Total   Quality   Management   (TQM),   adalah gabungan dari semua bentuk manajemen kualitas yang  tujuan  utamanya  adalah  memenuhi kepuasan   pelanggan   dengan   menitikberatkan pada peningkatan  berkelanjutan  
  5. Tahap   manajemen   setelah   pelaksanaan   proyek adalah  pengendalian.  Ini  berarti  di  dalam Pengendalian mutu pelaksanaan proyek, sebelum proyek selesai, sudah ada proses pengendalian. Sebagai salah satu fungsi dan proses kegiatan dalam manajemen yang sangat mempengaruhi hasil akhir proyek, pengendalian mempunyai tujuan utama meminimalisasi segala penyimpangan yang dapat terjadi selama proses berlangsungnya proyek."
Fungsi pengendalian :
Fungsi pemantauan
Dengan pemantauan yang baik terhadap semua kegiatan  proyek  akan  memaksa unsur-unsur pelaksana untuk bekerja secara cakap dan jujur, dan pemantauan  akan  memotivasi  para  pekerja  atau unsur sumber daya yang ada didalamnya. Sehingga dengan demikian akan mengetahui prestasi masing- masing yang akan dicapai.

Fungsi manajerial
Pada pekerjaan yang komplek dan mudah terjadi perubahan (dinamis) pemakaian pengendalian dan sistem informasi yang baik akan memudahkan manajer untuk segera mengetahui bagian-bagian pekerjaan  yang  mengalami  kejanggalan  atau memiliki performa yang kurang baik. Dengan demikian dapat segera dilakukan usaha untuk mengatasi atau meminimalkan kejanggalan tersebut.
Produktivitas adalah suatu hubungan antara output terhadap input dari suatu produk konstruksi. Dalam hal ini yang dimaksud output adalah barang / jasa sedangkan input adalah tenaga kerja, material dan peralatan.
Sehingga disimpulkan bahwa produktivitas adalah suatu hubungan antara input (tenaga kerja, material dan peralatan) / sesuatu  yang melaksanakan   suatu   produk   konstruksi   dengan output  (barang/jasa) / hasil  dari  suatu  proses konstruksi   yang   mana   produk   yang   dihasilkan sesuai dengan perencanaan.
Konsekuensi dari suatu produktivitas adalah apabila produktivitas   suatu   proyek   konstruksi  semakin tinggi   maka   secara   langsung   akan   mengurangi biaya, dan waktu pelaksanaan akan lebih cepat dari yang direncanakan. Dengan semakin tingginya produktivitas  maka  hasil  atau  produk  konstruksi yang dihasilkan akan mendapatkan kualitas / mutu yang sesuai dengan tujuan.
Pengendalian
Untuk mencapai mutu/kualitas yang sesuai dengan perencanaan tidak terlepas dari suatu pengendalian baik pengendalian mutu, biaya dan waktu dan dipengaruhi juga oleh peningkatan produktivitas.
Selain perencanaan, salah satu fungsi manajemen yang juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam mencapai tujuan dan suksesnya pelaksanaan suatu   proyek   adalah   pengendalian (controling). Pengendalian adalah merupakan pengukuran dan koreksi   terhadap   hasil   kerja   para  staf   untuk menjamin bahwa apa yang dilaksanakan cocok dengan yang telah direncanakan.
Hubungan Pengendalian Mutu dengan Peningkatan Productivitas
Pengendalian Mutu pada Proyek erat hubungannya dengan Peningkatan Produktivitas di proyek yaitu 
Peningkatan Produktivitas terhadap Pengendalian Waktu
Pengendalian waktu dan biaya   tidaklah bisa lepas dari suatu manajemen mutu maupun produktivitas. Penyedia jasa telah membuat jadwal perencanaan yang mana pada tiap minggu akan dievaluasi apakah ada keterlambatan atau pekerjaan terjadi percepatan, hal ini oleh pelaksana di breakdown dengan laporan harian.
Peningkatan Produktivitas  terhadap Pengendalian Sumber Daya Manusia
Tenaga   kerja   yang   dipakai   di   proyek   sangat beragam  tingkat  kualitas dan kuantitasnya.  Dalam hal ini adalah tenaga kerja untuk tenaga yang langsung dibayarkan seperti mandor, kepala tukang, tukang dan pekerja, karena dari analisa dapat diperhitungkan atau ditaksir besaran biaya yang dikeluarkan untuk upah tenaga kerja.

Produktifitas tenaga kerja menjadi pertimbangan sebagai pengendalian biaya upah dalam Proyek, semakin meningkat produktivitasnya maka pekerjaan yang dihasilkan akan menyebabkan penurunan pengeluaran biaya, mempersingkat waktu pelaksanaan dan akan menjadikan mutu pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan.
Peningkatan Produktivitas  terhadap Pengendalian Material
Bahan atau material adalah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam  satu   kesatuan pekerjaan. Pemakaian bahan atau material dalam proyek perlu direncanakan  secara efektif dan efisien serta tidak terjadi  masalah  akibat  tidak  tersedianya  material pada saat dibutuhkan. 

Dalam pelaksanaan proyek penggunaan  material  juga  harus  diawasi  kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan spesifikasi dan kebutuhannya. Adapun langkah yang dilakukan oleh penyedia jasa dalam pengendalian mutunya, dengan mengadakan uji laboratorium berupa test sampel bahan yang dipakai, seperti uji tulangan baja, uji sampel beton, serta   analisa   material   lainnya.   Hal   ini  sebagai langkah dalam mencegah terjadinya pembongkaran pekerjaan  (rework)  akibat  dari tidak  terpenuhinya spesifikasi material yang disyaratkan.
Peningkatan Produktivitas terhadap Pengendalian Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam suatu proyek dipengaruhi oleh produktivitas alat terhadap volume pekerjaan  yang akan  dilakukan  sedangkan  jumlah peralatan yang dibutuhkan bergantung pada durasi kegiatan, kondisi lapangan, keadaan cuaca, efisiensi alat,  kemampuan  operator,  kapasitas  dan  jumlah alat.

Untuk menentukan produktivitas alat, diperlukan data-data penggunaan peralatan dengan kondisi proyek yang tidak jauh berbeda. Dalam hal ini, kontraktor yang melaksanakan pekerjaan berpedoman pada pengalaman proyek- proyek sebelumnya, untuk dapat menentukan produktivitasnya, pengendalian biaya untuk komponen alat sangat penting, terutama jika alat tersebut adalah sewa. Efisiensi dan efektifitas penggunaan alat disesuaikan dengan waktu penyelesaian pekerjaan agar biaya operasional atau sewa tidak membengkak.
Peningkatan Produktivitas terhadap Pengendalian Sub-Kontraktor
Pada pelaksanaan proyek, ada bagian- bagian  tertentu  yang  diborongkan  kepada  pihak lain. Untuk itu, pengendalian  sub kontraktor yang masuk dan ikut terlibat dalam pelaksanaan proyek harus melalui  seleksi  baik kualitas maupun biaya, sehingga bagian pekerjaan yang dikerjakan oleh sub kontraktor  akan  menghasilkan  produk  konstruksi yang mempunyai mutu/kualitas sesuai yang direncanakan.

Dengan  melibatkan Sub  Kontraktor, maka produktifatas semakin meningkat karena ada bagian pekerjaan yang dikerjakan sub kontraktor sehingga akan memperpendek waktu pelaksanaan, dan juga dengan melalui proses seleksi sub kontraktor maka pekerjaan yang dihasilkanpun akan mempunyai mutu/kualitas sesuai yang direncanakan.

Manajemen Lalulintas
Demi kelancaran di dalam pekerjaan dan tidak mengganggu lalu lintas kendaraan yang melintas, kontraktor akan menempatkan personil khusus untuk mengatur lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan. Kontraktor juga akan menerapkan metode buka tutup jalan sehingga diharapkan pekerjaan bisa terus berjalan dan pengguna lalu lintas juga bisa lewat. Atau metode lain sehingga lalulintas tetap lancar.
Disamping itu juga akan menempatkan rambu - rambu lalu lintas dan peringatan bahwa disitu sedang dilaksanakan pekerjaan jalan dan menghimbau kepada pengguna jalan supaya mengurangi kecepatan dan berhati - hati selama melintas di lokasi tersebut.

Manajemen Pelaksnaan
Dengan jangka waktu pelaksanaan yang ada, kontraktor akan berupaya semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Kontraktor akan selalu berkoordinasi dengan pihak terkait apabila terjadi permasalahan external. Adapun untuk mengejar keterlambatan, kontraktor juga akan mengoptimalkan untuk lembur pekerjaan sehingga diharapkan pekerjaan tidak mengalami keterlambatan di dalam schedule pelaksanaan.
Manajemen Pengelolaan Material
Material adalah hal yang harus disiapkan sejak dini, untuk itu kami sudah jauh - jauh hari menyetok material di Base Camp sebanyak banyaknya. Sedangkan untuk material yang belum tercaver, kontraktor juga harus sudah melakukan survey ke sekitar lokasi pekerjaan dan menanyakan langsung kepada leveransir terdekat untuk kesedianyanya nanti membantu memasok material apabala dibutuhkan.
 
Manajemen Peralatan
Peralatan yang akan digunakan harus persiapkan dan pastikan dalam kondisi yang baik. Adapun untuk alat yang memungkinkan untuk sewa, kontraktor sebaiknya sudah mengecek kelayakan alat tersebut. Untuk memaksimalkan di dalam pelaksanaan pekerjaan, kontraktor harus mengatur mobilisasi alat sesuai dengan kebutuhan di lapangan sehingga tepat waktu, tepat mutu dan tepat guna.
Antisipasi Cuaca
Mengingat kondisi saat ini cuaca tidak dapat diperkirakan dan sering terjadi hujan, kontraktor diharapkan dapat berusaha untuk melakukan efisiensi waktu yang artinya bahwa dikala cuaca bagus  akan memaksimalkan pekerjaan sehingga nantinya tidak terjadi keterlambatan kerja yang disebabkan oleh cuaca yang tidak baik.
Pengendalian Mutu
Demi  menjaga Kualitas dan mutu pekerjaan, segala bentuk material yang akan digunakan untuk di uji coba terlebih dahulu pada laboratorium independent guna mengetahui mutu dari bahan / material tersebut. Apakah material tersebut memenuhi syarat spesifikasi atau tidak. Apabila didapati material tersebut tidak sesuai spesifikasi maka akan segera diganti menggunakan material baru yang memenuhi spesifikasi dengan pengujian terlebih dahulu.
PENGELOLAAN KESELAMATAN KERJA
Pekerja
  1. Setiap pekerja harus masuk atau keluar dari lokasi kerja melalui pintu masuk yang telah disediakan, serta memakai kartu identitas.
  2. Setiap pekerja wajib menggunakan helmet, sepatu kerja dan pakaian yang layak untuk masuk ke dalam lokasi kerja.
Tata Cara Kerja
  1. Sebelum bekerja seluruh pekerja dikumpulkan di seksinya masing-masing guna mendapatkan pengarahan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan bidang pekerjaannya masing-masing.
  2. Saat bekerja, setiap pekerja tidak diijinkan untuk meninggalkan lokasi pekerjaan atau memasuki area pekerjaan lain tanpa instruksi atau ijin dari mandor / pengawas.
  3. Setelah selesai bekerja, pekerja wajib melaporkan hasil pekerjaannya kepada mandor / pengawas sebelum meninggalkan lokasi pekerjaan masing-masing.
Lokasi Kerja
  1. Setiap mandor / pengawas diwajibkan untuk mengontrol area dimana para pekerjanya berada, perlu dipastikan area tersebut sudah aman sebelum pekerjaan dimulai.
  2. Setiap pekerjaan galian atau tempat-tempat terbuka lainnya yang dapat mengakibatkan bahaya jatuh harus diberi pagar pengaman dan rambu-rambu peringatan.
  3. Pekerja tidak diijinkan bekerja sama pada suatu tempat (bagi yang bekerja diatas dengan yang di bawah) tanpa adanya pengaman yang baik sesuai dengan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
  4. d.Lokasi pekerjaan harus selalu dalam keadaan bersih dari sampah dan sisa-sisa material yang tidak terpakai lagi.
Peralatan Keselamatan Kerja Lainnya
Peralatan keselamatan kerja memiliki berbagai macam jenis, sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Alat-alat yang tercantum di bawah harus selalu digunakan sesuai dengan kebutuhan, antara lain :
  • Alat pelindung diri perorangan
  • Selain alat pelindung diri perorangan yang wajib digunakan oleh setiap karyawan/ pekerja, alat pelindung lainnya dibutuhkan sebagai pelengkap, sesuai dengan jenis pekerjaan, dimana alat ini juga harus digunakan oleh setiap pekerja sesuai dengan kebutuhannya.
  • Peralatan keselamatan untuk umum
  • Sarana keselamatan untuk umum juga harus diperhatikan, contoh :
  • Pemasangan rambu keselamatan / Papan Peringatan
  • Asuransi Kerja
Peralatan Kerja
  1. Setiap pekerja harus menjaga alat-alat yang digunakan dalam bekerja dari kerusakan dan kehilangan, serta bertanggung jawab atas penggunaan alat-alat tersebut.
  2. Menggunakan alat dalam suatu pekerjaan sesuai dengan kebutuhannya
  3. Alat-alat yang sudah tidak digunakan lagi, segera dikembalikan pada tempat di mana alat tersebut dipinjam/ diambil.
  4. Alat-alat yang rusak atau hilang dalam pekerjaan, menjadi tanggung jawab pekerja yang menggunakan alat-alat tersebut.
Alat Berat
  1. Kecepatan maksimum di lokasi proyek adalah 15 km/jam.
  2. Setiap alat berat yang akan dioperasikan harus diperiksa terlebih dahulu oleh operator. Pastikan alat tersebut dalam keadaan baik.
  3. Alat berat yang beroperasi harus diawasi, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
  4. Tidak diperbolehkan memasuki area tempat alat-alat tersebut beroperasi kecuali petugas yang mengoperasikan alat-alat berat tersebut.
Mekanik
Mekanik harus segera memperbaiki alat-alat yang digunakan dalam bekerja apabila sudah dilaporkan kerusakannya.
Penanggulangan Api
Sekali api menyambar dapat menimbulkan bahaya yang dapat mengancam kehidupan manusia, serta menghanguskan semua peralatan dan material yang ada.
Sebagian besar api disebabkan oleh kecerobohan dan kelalaian manusia itu sendiri. Untuk menghindari api, perhatikan hal-hal berikut :
  1. Jangan membawa api ke tempat di mana ada tanda “AWAS API”.
  2. Bila bekerja menggunakan api, berhati-hatilah dalam penggunaannya.
  3. Menjaga agar jangan terjadi tumpahan minyak di lokasi pekerjaan.
  4. Menyediakan pemadam api di tempat-tempat yang diperlukan sesuai dengan jenis alat pemadam api yang dibutuhkan.
  5. Jangan memindahkan alat pemadam api tanpa persetujuan resmi serta adakan pengecekan alat pemadam api setiap satu bulan sekali.
Kecelakaan Kerja
  1. Bila terjadi suatu kecelakaan kerja, baik itu kecil maupun besar, segera laporkan pada mandor/ pelaksana, dan selanjutnya pada petugas keselamatan dan kesehatan kerja guna mendapatkan P3K.
  2. Mandor/ pelaksana harus mengetahui serta melaporkan pada petugas keselamatan dan kesehatan kerja sebab-sebab terjadinya kecelakaan tersebut, serta waktu dan tempat kejadian, guna penanggulangan lebih lanjut sesuai prosedur penanganan kecelakaan di lokasi kerja
Keamanan
  1. Petugas keamanan wajib melaporkan kegiatan kerja setiap harinya ataupun hal-hal penting lainnya yang menjadi tanggung jawabnya kepada ketua regu jaga, kemudian ketua regu jaga melaporkan kepada petugas K-3.
  2. Setiap karyawan wajib melaporkan pada pihak keamanan proyek bila terjadi kehilangan barang proyek, perkelahian, ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan terganggunya kondisi keamanan di lokasi proyek. Selanjutnya, petugas keamanan segera melaksanakan investigasi dan mengkoordinasikannya dengan petugas keselamatan dan kesehatan kerja, serta membuat laporan tertulis pada pimpinan proyek dan pimpinan perusahaan.
Sanksi-Sanksi
Bagi pekerja yang tidak mematuhi peraturan-peraturan di atas, pihak kontraktor akan memberikan surat peringatan, dimana bila juga tidak diindahkan, pimpinan proyek akan mengambil tindakan dengan tidak mengizinkan yang bersangkutan untuk berada di daerah proyek.

September 12, 2018

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Perekat (Tack Coat)

Pekerjaan Lapis Perekat (Tack Coat), mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal permukaan yang telah disiapkan.
Ilustrasi Proses Pekerjaan Lapis Perekat (Tack Coat)


Lapis Perekat (Tack Coat), di hampar diatas permukaan berbahan pengikat seperti lapisan Penetrasi Macadam, Laston, Lataston, dll). Berikut tahapan-tahapan pekerjaan Lapis Perekat (Tack Coat) :

Persiapan

  1. Pastikan untuk pelaksanaan Tack Coat (Lapis Perekat), pengaspalan telah disetujui (lapis perkerasan).
  2. Cek ulang Permintaan (Request) Pekerjaan & data pendukungnya.
  3. Cek ulang ketersediaan material, pastikan tidak ada perubahan 
  4. Cek dan amati ulang kesiapan alat, pastikan tidak ada perubahan dari kesiapan yang telah dilakukan.
  5. Cek ulang kesiapan tenaga kerja, jumlah dan kualifikasinya pastikan tidak ada perubahan dari kesiapan yang telah dilakukan.
  6. Pastikan bangunan milik masyarakat dan umum dilindungi dari efek penyemprotan aspal.
  7. Pastikan ada penanggung jawab dari penyedia jasa untuk mengatasi kondisi khusus.
  8. Pastikan ada pengendalian Keselamatan dan Kecelakaan Kerja (K3).
  9. Pastikan ada kesiapan pengendalian lalu-lintas.
  10. Pastikan ada kesiapan penanganan lingkungan.

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Resap Pengikat (Prime Coat)

Lapis Resap Pengikat (Prime Coat), dihampar diatas permukaan pondasi tanpa bahan pengikat aspal.
Ilustrasi Proses Pekerjaan Prime Coat

Pekerjaan ini mencakup penyediaan dan penghamparan bahan aspal pada permukaan yang telah disiapkan sebelumnya untuk pemasangan lapisan beraspal berikutnya. Berikut tahapan-tahapan pekerjaan lapis resap pengikat (prime coat) :
Persiapan
  1. Cek ulang Permintaan (Request) Pekerjaan & data pendukungnya.
  2. Cek ulang ketersediaan material, pastikan tidak ada perubahan 
  3. Cek dan amati ulang kesiapan alat, pastikan tidak ada perubahan dari kesiapan yang telah dilakukan.
  4. Cek ulang kesiapan tenaga kerja, jumlah dan kualifikasinya pastikan tidak ada perubahan dari kesiapan yang telah dilakukan.
  5. Pastikan bangunan milik masyarakat dan umum dilindungi dari efek penyemprotan aspal.
  6. Pastikan ada penanggung jawab dari penyedia jasa untuk mengatasi kondisi khusus.
  7. Pastikan ada pengendalian Keselamatan dan Kecelakaan Kerja (K3).
  8. Pastikan ada kesiapan pengendalian lalu-lintas.
  9. Pastikan ada kesiapan penanganan lingkungan.
  10. Komposisi Campuran Kerosine dan Aspal sesuai Spesifikasi (80 – 85 pph) 80 bagian Kerosine dan 100 bagian Aspal.
Penyiapan Formasi Pekerjaan
  1. Cek kerusakan bagian yang akan menjadi dasar penghamparan telah diperbaiki (jika diatas bahu atau LPA-A) 
  2. Pastikan permukaan bersih dan bebas dari material lepas
  3. Permukaan harus memperlihatkan mozaik agregat kasar dan halus, 
  4. Pastikan areal pembersihan  lebih 20 cm dari batas bidang yang akan disemprot.
Penyemprotan
  1. Pastikan suhu memenuhi syarat untuk penyemprotan.
  2. Pastikan penyemprotan merata, jika menggunakan distributor bidang yang disemprot mendapat suplai dari tiga nosel.
  3. Pastikan dan amati apakah aspal distributor berjalan konstan.
  4. Bila dilaksanakan perlajur maka sisinya overlap selebar 20 cm, untuk mendapatkan aplikasi penyemprotan setara 3 nosel
  5. Penyemprotan harus dihentikan jika ada ketidak sempurnaan, lakukan perbaikan pada alat penyemprot.
  6. Pastikan penyemprotan dimulai 5,0 m sebelum areal penyemprot an agar aplikasi konstan.
  7. Batasi pemakaian bahan pada tangki, tidak kurang dari 10% volume yang tersisa pada tangki
Pengukuran
  1. Lakukan pengukuran sisa bahan yang disemprotkan, setiap kali telah melakukan penyemprotan, dengan tongkat celup.
  2. Lakukan pengukuran dengan menggunakan 3 kertas resap diletak kan dengan jarak sama, pada areal penyemprotan sepanjang 200 m, pada lokasi dengan letak≥ 10 m dari awal, dan > 0,50 m dari tepi.
  3. Timbang berat terhampar pada kertas resap.
Pemeriksaan
  1. Cek hasil penyemprotan apakah merata?
  2. Periksa tempat tempat yang mengidentifikasikan adanya genangan aspal berlebih.
  3. Amati bagian tepi, apakah ada bagian
  4. yang menunjukkan kekurangan penebaran.
Cek kesesuaian
  1. Penyemprotan merata?
  2. Jumlah berat terhampar permeter persegi sesuai?.
  3. Ada tempat-tempat yang mengindikasikan genangan aspal?
  4. Jika ada indikasi terjadinya kekurangan maka lakukan langkah verifikasi .
  5. Jika semua sesuai lakukan langkah verifikasi .
Perbaikan
  1. Lakukan penyemprotan tambahan pada bagian yang menunjukkan kurangnya aplikasi penebaran.
  2. Jika hasil penyemprotan menunjukkan kekurangan material yang disemprotkan, lakukan penyemprotan ulang dengan tambahan yang memadai.
  3. Jika ada indikasi kelebihan penebaran aspal, maka lakukan sand blotter setelah 4(empat) jam peresapan.
Pemeliharaan
Pastikan  lokasi pekerjaan dijaga dari penggunaan oleh lalu lintas sebelum batas waktu pembukaan.
Jika ada penggunaan untuk lalu-lintas maka, penebaran sand blotter harus dilakukan.

Peralatan
  • Aspla distributor
  • Aspal sparyer
  • Compressor
  • Alat bantu lainnya
Kesehatan dan Keselamatan Kerja
  • Alat pelindung diri
  • Rambu Lalulintas
Tenaga kerja
  • Pengawas lapangan
  • Pekerja Aspal
  • Operator/Supir


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Galian Biasa

Metode Pekerjaan galian biasa dilakukan sesuai gambar kerja. Penggalian dapat dilaksanakan setelah bouwplank dengan penandaan sumbu ke sumbu selesai diperiksa dan disetujui oleh direksi.

Ilustrasi Galian Biasa
Kemudian dilakukan pembersihan lokasi dari rintangan atau halangan yang akan mengganggu, pekerjaan galian tanah. Cara penggalian dengan menggunakan excavator atau menggunakan tenaga manusia dengan linggis dan blencong untuk daerah-daerah yang tidak dapat digali dengan Excavator. Tanah hasil galian dibuang menggunakan Dump Truck ke lokasi pembuangan yang telah ditentukan. Berikut tahapan pelaksanaan pekerjaan galian biasa :
Persiapan
  • Cek ulang Permintaan (Request) Pekerjaan & data pendukungnya.
  • Menyerahkan Gambar detail penampang melintang (Shop Drawing) kepada Direksi Pekerjaan.
  • Cek kondisi/keadaan existing terhadap kemungkinan adanya pipa-pipa air, kabel listrik, kabel telpon dll.
  • Cek dan amati ulang kesiapan alat, pastikan tidak ada perubahan dari kesiapan yang telah dilakukan.
  • Cek ulang kesiapan tenaga kerja, jumlah dan kualifikasinya pastikan tidak ada perubahan dari kesiapan yang telah dilakukan.
  • Pastikan ada penanggung jawab dari penyedia jasa untuk mengatasi kondisi khusus.
  • Pastikan ada pengendalian Keselamatan dan Kecelakaan Kerja (K3).
  • Pastikan ada kesiapan pengendalian lalu-lintas.
  • Pastikan ada kesiapan penanganan lingkungan.

Persiapan Pekerjaan Galian.
  • Cek kondisi existing lahan/tanah yang akan digali. Pasang Patok-patok batas galian dan penggalian yang akan dilaksanakan.
  • Buatkan titik pemantauan kelongsoran dan tempatkan pada daerah yang benar-benar aman. Sehingga apabila terjadi pergerakan bidang galian dapat segera diketahui.
  • Serahkan Gambar Detil seluruh struktur sementara yang diusulkkan atau yang diperintahkan untuk digunakan, seperti penyokong (shoring), pengaku (bracing), cofferdam dan dinding penahan rembesan (cutoff wall).
  • Untuk menjaga stabilitas lereng galian dan menjaga keselamatan pekerja, maka galian yang lebih dari 5 meter harus dibuat bertangga dengan teras selebar 1 meter.
  • Semua galian terbuka harus diberi rambu peringatan dan penghalang (barikade) yang cukup untuk mencegah pekerja atau orang lain terjatuh kedalamnya.
  • Galian terbuka pada lokasi jalur lalu-lintas maupun lokasi bahu jalan, harus diberi rambu tambahan pada malam hari berupa Drum/penghalang (barikade) yang dicat putih beserta lampu merah atau kuning guna menjamin keselamatan pengguna jalan.
  • Siapkan Pompa air utk dewatering pada penggalian tanah dibawah elevasi muka air tanah.

Penggalian
  • Penggalian tanah dilaksanakan menurut kelandaian, garis dan elevasi yang ditentukan dalam Gambar atau ditunjukkan oleh Direksi Pekerjaan dan mencakup pembuangan material/bahan dalam bentuk apapun yang dijumpai, termasuk tanah, batu, batu bata, beton, pasangan batu, bahan organik dan bahan perkerasan lama yang sudah tidak dipakai lagi.
  • Penggalian tanah dilakukan dengan alat berat yaitu Excavator untuk daerah galian tanah yang dalam. Sedang untuk galian yang bersifat pemotongan tanah, lebih baik dilakukan dengan menggunakan Bulldozer atau Motor Grader. Untuk lahan/daerah yang tidak bisa dijangkau oleh alat berat (Excavator/Bulldozer/Motor Grader), lakukan penggalian secara manual.
  • Muat hasil galian ke atas Dump Truck, angkut dan buang hasil galian tersebut keluar area/lokasi kerja.
  • Dorong dan ratakan buangan hasil galian/tanah dengan Bulldozer. 
  • Lakukan penggalian dan pembuangan secara berulang, sampai batas galian dan elevasi yang sudah ditentukan. 
  • Pada permukaan galian/pemotongan harus dibersihkan dari segala bahan yang lepas yang akan menjadi berbahaya setelah pekerjaan selesai.
  • Permukaan lereng hasil galian/pemotongan agar diusahakan dalam keadaan stabil.

Pemeriksaan
  • Cek apakah hasil akhir galian sudah sesuai dengan yang direncanakan.
  • Lakukan koordinasi dengan bagian pengukuran untuk melakukan pengendalian dan perbaikan pengukuran saat proses.Pastikan dilakukan pengecekan permukaan akhir dengan alat ukur.

Cek kesesuaian
  • Seluruh permukaan hasil galian harus rata.
  • Kemiringan lereng galian/pemotongan harus sesuai dengan elevasi yang direncanakan.
  • Tidak ada material terlepas seperti batu pada permukaan hasil galian pada hasil akhirnya.

Perbaikan
  • Jika hasil galian/pemotongan belum sesuai dengan elevasi yang direncanakan, lakukan penggalian ulang sehingga elevasi hasil galian sesuai dengan rencana.
  • Jika terjadi pergerakan tanah atau kelongsoran, segera hentikan pekerjaan
  • Melakukan pencegahan kelongsoran selanjutnya dengan perbaikan turap yang ada ataupun penambahan turap yang baru. Jika ada gangguan air, maka air harus segera dikeringkan/disalurkan
  • Jangan membebani tepi galian dengan penumpukan tanah galian maupun material lainnya.

Peralatan
  • Excavator
  • Dump Truck
  • Alat Bantu
  • Alat ukur

Kesehatan dan keselamatan kerja
  • Alat pelindung diri
  • Rambu peringatan
  • dll
Tenaga Kerja
  • Pengawas lapangan
  • Juru Ukur
  • operator
  • Lalulintas

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Aspal AC-Base, AC-BC dan AC-WC

Di Indonesia Aspal beton (Asphalt Concrete atau AC) yang disebut juga dengan Laston (Lapisan Aspal Beton) merupakan lapis permukaan struktural atau lapis pondasi atas. Aspal beton ini terdiri dari tiga macam lapisan, yaitu: AC-Base,AC-BC dan AC-WC.

Ilustrasi Proses Pengamparan dan Pemadatan Aspal

Laston Lapis Aus ( Asphalt Concrete-Wearing Course atau AC-WC), 
sphalt Concrete -Wearing Course (AC-WC) merupakan lapisan perkerasan yang terletak paling atas dan berfungsi sebagai lapisan aus. Walaupun bersifat non struktural, AC-WC dapat menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan mutu sehingga secara keseluruhan menambah masa pelayanan dari konstruksi perkerasan. AC-WC mempunyai tekstur yang paling halus dibandingkan dengan jenis laston lainnya. 

Laston Lapis Permukaan Antara (Asphalt Concrete - Binder Course atau AC-BC)
Lapisan ini merupakan lapisan perkerasan yang terletak dibawah lapisan aus (wearing course) dan di atas lapisan pondasi (base course). Lapisan ini tidak berhubungan langsung dengan cuaca, tetapi harus mempunyai ketebalan dan kekauan yang cukup untuk mengurangi tegangan/regangan akibat beban lalu lintas yang akan diteruskan ke lapisan di bawahnya yaitu base dan sub grade (tanah dasar). Karakteristik yang terpenting pada campuran ini adalah stabilitas. 

Laston Lapis Pondasi (Asphalt Concrete- Base atau AC-Base)
Menurut Departemen Pekerjaan Umum (1983) Laston Atas atau lapisan pondasi atas (AC- Base) merupakan pondasi perkerasan yang terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan perbandingan tertentu dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas. Lapisan ini terletak di bawah lapis pengikat (AC- BC), perkerasan tersebut tidak berhubungan langsung dengan cuaca, tetapi perlu memiliki stabilitas untuk menahan beban lalu lintas yang disebarkan melalui roda kendaraan. Lapis Pondasi (AC- Base) berfungsi untuk memberi dukungan lapis permukaan, mengurangi regangan dan tegangan, menyebarkan dan meneruskan beban konstruksi jalan di bawahnya (sub grade).

Berikut metode pelaksanaan pekerjaan Aspal tersebut :
Persiapan dan Proses Produksi Hot mix:
Ilustrasi Proses Produksi Hot Mix
  1. Pastikan Request Pekerjaan Aspal telah tersedia, berikut hasil pengecekan formula disain (DMF) dan formula rumusan kerja (JMF)
  2. Cek stock Asmin cukup untuk produksi, dan di panaskan pada suhu yang memadai.
  3. Cek Stock Additif cukup untuk produksi (2a).
  4. Additif ditakar sesuai kebutuhan produksi (JMF) (2b).
  5. Jika menggunakan modifikasi asbuton Stock Asbuton harus pada kemasan, dengan jumlah yang mencukupi untuk produksi saat itu
  6. Suplai Asbuton ke Filler Bin dengan jumlah kg / Menit sesuai kebutuhan, dan hindari over suplai Rujuk hasil kalibrasi. (3a) 
  7. Jumlah Asbuton butir harus sesuai kebutuhan berdasarkan RCK (JMF) (3b).
  8. Suplai aggregate pada masing-masing Cold Bin harus sesuai dengan kalibrasi Cold Bin, untuk mencegah penyimpangan gradasi dan overflow (4)
  9. Filler ditakar sesuai kebutuhan prosuksi (JMF). (4a)
  10. Pemanasan aggregate pada Drier harus memenuhi, untuk mendapatkan suhu campuran yang di syaratkan. (5)
  11. Jumlah berat aggregate masing masing Hot Bin sesuai dengan RCK (JMF) yang telah disetujui. (6)
  12. Pencampuran aggregate dengan waktu yang cukup untuk mendapatkan homogenitas yang baik. (7)
  13. Timbang Asmin sesuai jumlah kebutuhan, rujuk RCK (JMF). (8)
  14. Tuang Asbuton pada campuran aggregate (campuran kering). (9)
  15. Catat waktu pencampuran Asmin+Additif pada aggregate. (10)
  16. Loading ke DT, gunakan DT yg telah ditimbang(12) ambil sample untuk Marshal tes (15)
  17. Timbang DT Kosong. (12)
  18. Pastikan campuran homogen, terselimuti bitumen dan suhu sesuai persyaratan, jika tidak memenuhi, maka lakukan rekomendasi penolakan dan buang produk ). (13)
  19. Hanya produk yang memenuhi kriteria pada pengecekan (13), yang direkomendasikan untuk Diangkut kelokasi penghamparan. (14)
  20. Ambil Sampel (Marshal Tes). (15)
  21. Hanya produk yang memenuhi kriteria pada pengecekan (16)
  22. Rekomendasi Pembayaran (17)
  23. Pastikan campuran homogen, terselimuti bitumen dan suhu sesuai persyaratan, jika tidak memenuhi, maka lakukan Rekomendasi penolakan dan buang produk (18)
  24. Ketidaksesuaian  dari  hasil  pengecekan visual pada verifikasi maupun, hasil Marshal test harus  ditindak  lanjuti dgn  pengendalian Produk Tidak Sesuai sebagaimana  yang diatur dalam  Petunjuk  Pelaksanaan  Hasil Pekerjaan Tidak Sesuai. (19)
  25. Harus ada  bukti telah  dilakukan tindakan perbaikan atas produk tidak sesuai, dengan meng- gunakan tatacara yang  diatur dalam Petunjuk Pelaksanaan HPTS Daftar Simak Laporan Hasil Pekerjaan Tidak Sesuai (HPTS). (20)
Prose Penghamparan Hot Mix :
Ilustrasi Proses Penghamparan Hot Mix
Persiapan
  • Pelaksanaan pekerjaan hanya boleh dilakukan pd saat cuaca cerah.
  • Cek kesiapan lapangan pada Daftar Simak Kesiapan Lapangan
Pengangkutan
  • Pastikan alat pengangkut (D. Truck) menggunakan penutup terpal.
  • Menerima tiket pengiriman.
Cek Kesesuaian
  • Cocokkan data no kendaraan, catat waktu penerimaan (amati selisih waktu)
  • Cek suhu diatas Dump Truck (suhu pasokan ke Finisher)130OC-150OC Aspal Pen, dan 135OC-155OC bitumen asbuton murni atau modifikasi.
  • Amati visual tampilan campuran, apakah rata?
  • Jika tidak memenuhi ketentuan suhu diatas, campuran ditolak dan buang (4)
Pengendalian Hasil Pekerjaan Tidak Sesuai
  • Catat  HPTS
  • Lakukan pencatatan setiap ada kejadian yang serupa.
Cek Berulang
  • Amati apakah  kejadian berulang, baik saat itu maupun pada pelak sanaan pekerjaan dihari yang lain.
  • Jika berulang,  evaluasi  penyebab  dan  lakukan tindakan  perbaik an.
Loading dan dumping ke Asphalt Finisher (AF)
  • Pastikan dumping Asphalt Finisher tidak dalam posisi mendorong D.Truck.
  • Dumping dilakukan tahap demi tahap, pada kondisi D.Truck dan Asfhalt Finisher bergerak searah dengan kecepatan sama
Penghamparan
  • Pastikan screed dipanaskan sebelum menghampar.
  • Vibrasi pada tamper dipastikan berjalan baik.
  • Pemasangan balok kayu atau material lain yg disetujui pada sisi hamparan.
  • Lakukan penghamparan dengan mendahulukan sisi terendah.
  • Amati apakah tekstur merata, secara visual memuaskan.
  • Lakukan  pengamatan  pada pengukuran  suhu  campuran  yang dihampar (minimal 1x pada jarak 100 meter).  
  • Pastikan kecepatan penghamparan konstan, harus sesuai dengan standar yang telah ditentukan, untuk menghindari timbulnya koyakan pada penghamparan.
  • Jika terjadi segregasi, koyakan maka hentikan penghamparan dan sampai ditemukan penyebabnya hamparan dilanjutkan. 
  • Amati mekanisme kerja Asphalt Finisher (Paver), jalan sempurna/ baik, penebaran merata.
  • Tidak diperbolehkan adanya penaburan butiran kasar pada permukaan yang telah dihampar rapi.
  • Cek hamparan dengan straight edge (mistar lurus), pada jarak 3,0 meter toleransi masing-masing 4 mm untuk lapisan aus, 5 mm utk lapisan binder  dan 6 mm untuk lapisanPondasi.
Pemadatan awal (Breakdown Rolling)
  • Suhu pemadatan awal antara 125OC-145OC (Aspal Pen), dan 130OC-150OC (Asbuton Murni atau Modifikasi)
  • Peralatan pemadatan Penggilas Roda Baja (Steel wheel roller/Tandem Roller).
  • Roda penggerak saat pemadatan berada didepan. 
  • Kecepatan alat pemadat tidak lebih besar dari 4 km/jam. 
  • Sambungan melintang dikerjakan terlebih dahulu dengan membuat sambungan memanjang sebagai media sepanjang (60-100) cm lebar gilasan 15 cm pada campuran yg belum dipadatkan, lalu padatkan sambungan melintang dengan lebar area 15 cm yg dipa datkan. 
  • Jumlah Pemadatan sesuai jumlah passing hasil percobaan.
Prosedur Pemadatan ;
Jika lajur berdampingan dengan lajur lain yg telah dihampar padat.
  • Pemadatan sambungan melintang.
  • Pemadatan sambungan memanjang. 
  • Pemadatan tepi luar.
  • Pemadatan pertama Break Down Rolling dimulai dari sisi terendah menuju ke yang lebih tinggi.
  • Pemadatan kedua sesuai prosedur (4).
  • Pemadatan akhir Break Down Rolling.
Jika lajur tidak berdampingan dengan lajur lain.
  • Pemadatan sambungan melintang.
  • Pemadatan tepi luar.
  • Pemadatan pertama Break Down Rolling dimulai dari sisi terendah menuju ke yang lebih tinggi.
  • Pemadatan kedua sesuai prosedur (3).
  • Pemadatan akhir Break Down Rolling.
Pemadatan antara (Intermediate Rolling)
  • Suhu pemadatan antara 90 C-125 C untuk Aspal Pen dan 95 C-130 C untuk bitumen asbuton murni atau modifikasi atau sesuai dengan instruksi direksi.
  • Peralatan pemadatan Penggilas Roda Karet Pneumatic Tire Roller (PTR)
  • Jumlah lintasan (passing) sesuai standar percobaan pemadatan yang disetujui.
  • Selama proses pemadatan roda alat pemadat dibasahi dengan air yang dicampur sedikit deterjen, hindari penyiraman yg berlebihan.
  • Kecepatan alat pemadat tidak lebih besar dari 10 km/jam. 
  • Proses pemadatan, harus menerus tidak boleh terputus.
Pemadatan akhir
  • Suhu pemadatan 90 C-125 C untuk Aspal Pen dan 95 C-130 C untuk bitumen asbuton murni atau modifikasi.Peralatan pemadatan Penggilas Roda Baja (Steel wheel roller/Tandem Roller). atau sesuai dengan instruksi direksi
  • Kecepatan alat pemadat tidak lebih besar dari 4 km/jam. 
  • Jumlah lintasan (passing) sesuai standar percobaan pemadatan yang disetujui.
Peralatan yang digunakan :
  • Aspalt Mixing Plant + Laboratorium
  • Generator set
  • Whell Loader
  • Dump Truck
  • Aspal Sprayer
  • Compressor
  • Tandem Roller
  • Asphalt Finisher
  • Pneumatic Tire Roller
  • Alat pendukung lainnya
Materal:
  • Semen
  • Agregat
  • Bahan Anti Pengelupasan
Personil :
  • Pelaksana
  • Operator
  • Petugas K3
  • Tenaga Kerja
Sasaran Mutu:
  • Permukaan yang rata sesuai spesifikasi
  • elevasi sesuai dengan yang direncanakan
  • Ketebalan sesuai spesifikasi dan gambar serta toleransi yang diijinkan.

Demikian Metode Pelaksanaan Pekerjaan Aspal ini saya buat, semoga bermanfaat buat teman-teman semua, kurang lebihnya saya mohon maaf. Trima kasih.

June 8, 2018

Analisa Expansion Joint Tipe Modular dan Rubber 3

Kadang kala kita kebingungan dengan istilah-sitilaht yang terdapat pada harga perkiraan  sendiri sebuah dokumen lelang,  sepertihalnya  dengan pekerjaan Expansion Joint.


Apa sih Expansion Joint tersebut?
Expansion Joint  merupakan bahan yang dipasang di antara dua bidang lantai beton untuk kendaraan atau pada perkerasan kaku dan dapat juga pertemuan antara konstruksi jalan pendekat sebagai media lalu lintas yang akan melewati jembatan, supaya pengguna lalu lintas merasa aman dan nyaman (Badan Litbang PU,Pd T-13-2005-B).

Fugsi  Expansion Joint  :
adalah untuk mengakomodasi gerakan yang terjadi pada bagian super struktur jembatan. Gerakan ini berasal dari beban hidup, perubahan suhu, dan sifat fisik dari pembentuk jembatan.


Jadi sudah tahukan apa itu  Expansion Joint ?

untu contoh analisanya silakan download disini Analisa  Expansion Joint Tipe Modular dan Rubber 3

February 17, 2018

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Perletakan Elastromeric Alam

Elastromeric alam digunakan sebagai landasan perletakan yang berfungsi mengirimkan beban dari bangunan atas ke bangunan bawah dan untuk mengakomodasi pergerakan dan perpindahan dari suatu struktur jembatan atau bangunan.

Elastomeric yang akan dipasang harus dilakukan pengujian oleh laboratorium independent baik pengujian secara kekanis maupun pengujian bahan dan memenuhi ketentuan yang tercantum dalam SNI 3967-2008 dengan ketentuan jumlah benda uji. Berikut metode pelaksanaan pekerjaan perletakan elastromeric alam
Tahapan pelaksanaan:
1. Penyedia jasa mengajukan Reqest Pekerjaan
2. Pekerjaan dilakukan secara mekanik dengan urutan sebagai berikut :
  • Perletakan harus ditandai dengan jelas tentang jenis dan tempat pemasangan pada saat tiba ditempat kerja. Alat – alat pengamanan yang cocok harus disediakan sebagaimana diperlukan. Alat – alat penjepit sementara harus digunakan untuk menjaga orientasi bagian-bagian dengan tepat.
  • Peralatan yang digunakan adalah : Concrate Mixer dan alat bantu

3. Landasan Perletakan
  • Pemilihan bahan landasan harus berdasarkan cara pemasangan perletakan, ukuran celah yang akan diisi, kekuatan yang diperlukan dan waktu pengerasan (setting time) yang diperlukan. Dalam pemilihan bahan landasan, maka faktor-faktor berikut harus diper-timbangkan : jenis perletakan; ukuran peletakan; pembebanan pada perletakan; urutan dan waktu pelaksanaan; pembebanan dini; ketentuan geser (friction); pengaturan dowel; ruangan untuk mencapai perletakan; tebal bahan yang diperlukan; rancangan dan kondisi permukaan pada lokasi perletakan; penyusutan bahan landasan.
  • Komposisi dan kelecakan (workability) bahan landasan harus dirancang berdasarkan pengujian dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas. Dalam beberapa hal, mungkin perlu melakukan percobaan untuk memastikan bahan yang paling cocok. Bahan yang umum digunakan adalah adukan semen atau resin kimiawi, adukan encer (grout) dan kemasan kering. Penggunaan bahan seperti timbal, yang cenderung meleleh di bawah tekanan beban, meninggalkan bintik-bintik besar, harus dihindarkan. 
  • Untuk menjamin agar pembebanan yang merata pada perletakan dan struktur penyangga, maka perlu digarisbawahi bahwa adalah setiap bahan landasan, baik di atas maupun di bawah perletakan, harus diperluas ke seluruh daerah perletakan.

4. Penyetelan Perletakan 
  • Perletakan elastomer dapat diletakkan langsung pada beton, asalkan berada dalam tole-ransi yang disyaratkan untuk kedataran dan kerataan. Sebagai alternatif, perletakan tersebut harus diletakkan pada suatu lapisan bahan landasan
  • Perletakan yang menunjang lantai beton cor langsung di tempat
  • Bilamana perletakan dipasang sebelum pengecoran langsung lantai beton, maka acuan sekitar perletakan harus ditutup dengan rapi untuk mencegah kebocoran adukan encer. Perletakan, terutama permukaan bidang kontak, harus dilindungi sepenuhnya selama operasi pengecoran. Pelat geser harus ditunjang sepenuhnya dan perhatian khusus  harus diberikan untuk mencegah pergeseran, pemindahan atau distorsi perletakan akibat beban beton yang masih basah di atas perletakan. Setiap adukan semen yang mengotori per-letakan harus dibuang sampai bersih sebelum mengeras.
  • Perletakan Yang Menyangga Unit-unit Beton Pracetak atau Baja
  • Suatu lapisan tipis adukan resin sistesis harus ditempatkan antara perletakan dan balok. Sebagai alternatif, perletakan dengan pelat perletakan sisi luar dapat dibaut pada pelat jangkar, pada soket yang tertanam dalam elemen pracetak, atau pada pelat tunggal yang dibuat dengan mesin di atas elemen baja.


February 15, 2018

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Timbunan Biasa

Pekerjaan ini mencakup pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan tanah dari hasil galian.


Timbunan yang disetujui Direksi Pekerjaan untuk pembuatan timbunan, untuk penimbunan kembali galian pipa atau struktur dan untuk timbunan umum yang diperlukan untuk membentuk dimensi timbunan sesuai dengan garis kelandaian dan elevasi penampang melintang yang disyaratkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Ilustrasi penggunaan alat pada pekerjaan timbunan

Tahapan Pelaksanaan :
1. Menyiapakan DMF dan JMF agregat
2. Mengajukan Request pekerjaan kepada direksi
3. Penyiapan Tempat Kerja

  • Sebelum penghamparan timbunan pada setiap tempat, semua bahan yang tidak diperlukan harus dibuang sebagaimana diperintahkan oleh direksi pekerjaan.
  • Kecuali untuk derah tanah lunak atau tanah yang tidak dapat dipadatkan atau tanah rawa, dasar pondasi timbunan harus dipadatkan seluruhnya (termasuk penggemburan dan penggeringan atau pembasahan bila diperlukan) sampai 15 cm bagian permukaan atas dasar atas pondasi memenuhi kepadatan yang disyaratkan.
  • Bilamana timbunan akan dibangun atas permukaan tanah dengan kelandaian lereng lebih dari 10%, ditempatkan diatas permukaan lama atau pembagunan timbunan baru, maka lereng lama akan dipotong sampai tanah yang keras dan bertangga dengan lebar yang cukup sehingga memungkinkan perlaratan pemadat dapat beroperasi. tangga-tangga tersebut tidak boleh mempunyai kelandaian lebih dari 4% dan harus dibuatkan sedemikian dengan jarak vertikal tidak lebih dari 30 cm untuk kelandaian yang kurang dari 15% dan tidak lebih dari 60cm untuk kelandaiannya yang sama atau lebih besar dari 15%.
  • Dasar saluran yang ditimbun harus diratakan dan dilebarkan sedemikian hingga memungkinkan pengoperasian peralatan pemadat yang efektif.


4. Penghamparan Timbunan
  • Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan  dan disebar dalam lapisan yang merata yang bila di padatkan akan memenuhi toleransi tebal yang disyaratkan. Bilamana timbunan dihampar lebih dari satu lapis, lapisan-lapisan tersebut sedapat mungkin di bagi rata sehingga sama tebal.
  • Tanah timbunan umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke permukaan yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan. Penumpukan tanah timbunan untuk persediaan, terutama selama musim hujan. biasanya tidak diperkenankan, terutama selama musim hujan.
  • Timbunan di atas atau pada selimut pasir atau bahan drainase porous, harus diperhatikan sedemikian rupa agar kedua bahan tersebut tidak tercampur. Dalam pembentukan drainase sumuran vertikal diperlukan suatu pemisah yang menyolok di antara kedua bahan tersebut dengan memakai acuan sementara dari pelat baja tipis yaag sedikit demi sedikit ditarik saat pengisian timbunan dan drainase porous dilaksanakan.
  • Penimbunan kembali di atas pipa dan di belakang stsuktur harus dilaksanakan dengan sistematis dan secepat mungkin segera setelah pemasangan pipa struktur. Akan tetapi, sebelum penimbunan kembali, diperlukan waktu perawatan tidak kurang dari 3 jam setelah pemberian adukan pada sambungan pipa atau pengecoran struktur beton gravity, pemasangan pasangan batu gravity atau pasangan batu dengan mortar gravity. Sebelum penimbunan kembali di skitar struktur penahan tanah dari beton, pasangan batu dengan mortar, juga diperlukan waktu perawatan tidak kurang dari 14 hari
  • Bilamana timbunan badan jalan akan diperlebar, Iereng timbunan lama harus disiapkan dengan membuang seluruh tetumbuhan yang terdapat pada permukaan lereng dan harus dibuat bertangga (atau dibuat bergerigi) sehingga timbunan baru akan terkunci pada timbuan lama sedmikian sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan. Selanjutnya timbunan yang diperlebar harus dihampar horizontal lapis demi lapis sampai dengan elevasi tanah dasar, yang kemudian harus ditutup secepat mungkin dengan lapis pondasi bawah dan atas sampai elevasi permukaan jalan lama sehingga bagian yang diperlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas secepat mungkin, dengan demikian pembangunan dapat dilanjutkan ke sisi jalan lainnya bilamana diperlukan
  • Lapisan penopang di atas tanah lunak termasuk tanah rawa harus dihampar sesegera mungkin dan tidak lebih dari tiga hari setelah persetujuan penggalian atau pembersihan dan pengupasan oleh Direksi Pekerjaan. Lapisan penopang dapat dihampir satu lapis atau beberapa lapis dengan tebal antara 0,5 sampai 1,0 meter sesuai dengan kondisi lapangan dan sebagaimana diperintahkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan.


5. Pemadatan Timbunan
  • Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memandai dan disetujui Direksi Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan
  • Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar air bahan berada dalam rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan kering maksimum yang diperoleh bilamana tanah dipadatkan sesuai dengan SNI 03-1742-1989.
  • Seluruh timbunan batu harus ditutup dengan satu lapisan atau lebih setebal 20 cm dari bahan bergradasi menerus dan tidak mengandung batu yang lebih besar dari 5 cm serta mampu mengisi rongga-rongga batu pada bagian atas timbunan batu tersebut lapis penutup ini harus dilalsanakan sampai mencapai kepadatan timbunan tanah yang disyaratkan.
  • Setiap lapisan timbunan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang disyaratkan, diuji kepadatannya dan harus diterima oleh Direksi Pekerjaan sebelum lapisan berikutnya dihampar.
  • Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju ke arah sumbu jalan sedemikian rupa sehingga setiap ruas akan menerima jumlah usaha pemadatan yang sama. Bilamana memungkinkan, lalu lintas alat-alat konstruksi dapat dilewatkan di atas pekerjan timbunan dan lajur yang dilewati harus terus menerus divariasi agar dapat menyebarkan pengaruh usaha pemadatan dari lalu lintas tersebut.
  • Dalam menempatkan timbunan di atas gorong-gorong dan bilamana disyaratkan, dalam Kontrak atau pada jembatan, harus membuat timbunan tersebut sama tinggi pada kedua sisinya. Jika kondisi-kondisi memerlukan penempatan timbunan kembali atau timbunan pada satu sisi lebih tinggi dari sisi lannya, penambahan bahan pada sisi yang lebih tinggi tidak boleh dilakukan sampai persetujuan diberikan oleh Direksi Pekerjaan dan tidak melakukan penimbunan sampai struktur tersebut telah berada di tempat dalam waktu 14 hari, dan pengujian-pengujian yang dilakukan di laboratorium di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan menetapkan bahwa struktur tersebut telah mencapai kekuatan yang cukup untuk menahan tekanan apapun yang ditimbulkan oleh metoda yang digunakan dan bahan yang dihampar tanpa adanya kerusakan atau regangan yang di luar faktor keamanan.
  • Bahan untuk timbunan pada tempat-tempat yang sulit dimasuki oleh alat pemadat normal harus dihampar dalam lapisan mendatar dengan tebal gembur tidak lebih dari 10 cm dan seluruhnya dipadatkan dengan menggunakan pemadat mekanis.
  • Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin gilas harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih dari 10 cm dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis atau timbris (tamper) manual dengan berat statis minimum 10 kg. pemadatan di bawah maupun di tepi pipa harus mendapat perhatian khusus untuk mencegah timbulnya rongga-rongga dan untuk menjamin bahwa pipa terdukung sepenuhnya. 

Popular Posts