June 8, 2018

Analisa Expansion Joint Tipe Modular dan Rubber 3

Kadang kala kita kebingungan dengan istilah-sitilaht yang terdapat pada harga perkiraan  sendiri sebuah dokumen lelang,  sepertihalnya  dengan pekerjaan Expansion Joint.

Apa sih Expansion Joint tersebut?
Expansion Joint  merupakan bahan yang dipasang di antara dua bidang lantai beton untuk kendaraan atau pada perkerasan kaku dan dapat juga pertemuan antara konstruksi jalan pendekat sebagai media lalu lintas yang akan melewati jembatan, supaya pengguna lalu lintas merasa aman dan nyaman (Badan Litbang PU,Pd T-13-2005-B).

Fugsi  Expansion Joint  :
adalah untuk mengakomodasi gerakan yang terjadi pada bagian super struktur jembatan. Gerakan ini berasal dari beban hidup, perubahan suhu, dan sifat fisik dari pembentuk jembatan.


Jadi sudah tahukan apa itu  Expansion Joint ?

untu contoh analisanya silakan download disini Analisa  Expansion Joint Tipe Modular dan Rubber 3

February 17, 2018

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Perletakan Elastromeric Alam

Elastromeric alam digunakan sebagai landasan perletakan yang berfungsi mengirimkan beban dari bangunan atas ke bangunan bawah dan untuk mengakomodasi pergerakan dan perpindahan dari suatu struktur jembatan atau bangunan.

Elastomeric yang akan dipasang harus dilakukan pengujian oleh laboratorium independent baik pengujian secara kekanis maupun pengujian bahan dan memenuhi ketentuan yang tercantum dalam SNI 3967-2008 dengan ketentuan jumlah benda uji. Berikut metode pelaksanaan pekerjaan perletakan elastromeric alam
Tahapan pelaksanaan:
1. Penyedia jasa mengajukan Reqest Pekerjaan
2. Pekerjaan dilakukan secara mekanik dengan urutan sebagai berikut :
  • Perletakan harus ditandai dengan jelas tentang jenis dan tempat pemasangan pada saat tiba ditempat kerja. Alat – alat pengamanan yang cocok harus disediakan sebagaimana diperlukan. Alat – alat penjepit sementara harus digunakan untuk menjaga orientasi bagian-bagian dengan tepat.
  • Peralatan yang digunakan adalah : Concrate Mixer dan alat bantu

3. Landasan Perletakan
  • Pemilihan bahan landasan harus berdasarkan cara pemasangan perletakan, ukuran celah yang akan diisi, kekuatan yang diperlukan dan waktu pengerasan (setting time) yang diperlukan. Dalam pemilihan bahan landasan, maka faktor-faktor berikut harus diper-timbangkan : jenis perletakan; ukuran peletakan; pembebanan pada perletakan; urutan dan waktu pelaksanaan; pembebanan dini; ketentuan geser (friction); pengaturan dowel; ruangan untuk mencapai perletakan; tebal bahan yang diperlukan; rancangan dan kondisi permukaan pada lokasi perletakan; penyusutan bahan landasan.
  • Komposisi dan kelecakan (workability) bahan landasan harus dirancang berdasarkan pengujian dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas. Dalam beberapa hal, mungkin perlu melakukan percobaan untuk memastikan bahan yang paling cocok. Bahan yang umum digunakan adalah adukan semen atau resin kimiawi, adukan encer (grout) dan kemasan kering. Penggunaan bahan seperti timbal, yang cenderung meleleh di bawah tekanan beban, meninggalkan bintik-bintik besar, harus dihindarkan. 
  • Untuk menjamin agar pembebanan yang merata pada perletakan dan struktur penyangga, maka perlu digarisbawahi bahwa adalah setiap bahan landasan, baik di atas maupun di bawah perletakan, harus diperluas ke seluruh daerah perletakan.

4. Penyetelan Perletakan 
  • Perletakan elastomer dapat diletakkan langsung pada beton, asalkan berada dalam tole-ransi yang disyaratkan untuk kedataran dan kerataan. Sebagai alternatif, perletakan tersebut harus diletakkan pada suatu lapisan bahan landasan
  • Perletakan yang menunjang lantai beton cor langsung di tempat
  • Bilamana perletakan dipasang sebelum pengecoran langsung lantai beton, maka acuan sekitar perletakan harus ditutup dengan rapi untuk mencegah kebocoran adukan encer. Perletakan, terutama permukaan bidang kontak, harus dilindungi sepenuhnya selama operasi pengecoran. Pelat geser harus ditunjang sepenuhnya dan perhatian khusus  harus diberikan untuk mencegah pergeseran, pemindahan atau distorsi perletakan akibat beban beton yang masih basah di atas perletakan. Setiap adukan semen yang mengotori per-letakan harus dibuang sampai bersih sebelum mengeras.
  • Perletakan Yang Menyangga Unit-unit Beton Pracetak atau Baja
  • Suatu lapisan tipis adukan resin sistesis harus ditempatkan antara perletakan dan balok. Sebagai alternatif, perletakan dengan pelat perletakan sisi luar dapat dibaut pada pelat jangkar, pada soket yang tertanam dalam elemen pracetak, atau pada pelat tunggal yang dibuat dengan mesin di atas elemen baja.


February 15, 2018

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Timbunan Biasa

Pekerjaan ini mencakup pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan tanah dari hasil galian.


Timbunan yang disetujui Direksi Pekerjaan untuk pembuatan timbunan, untuk penimbunan kembali galian pipa atau struktur dan untuk timbunan umum yang diperlukan untuk membentuk dimensi timbunan sesuai dengan garis kelandaian dan elevasi penampang melintang yang disyaratkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Ilustrasi penggunaan alat pada pekerjaan timbunan

Tahapan Pelaksanaan :
1. Menyiapakan DMF dan JMF agregat
2. Mengajukan Request pekerjaan kepada direksi
3. Penyiapan Tempat Kerja

  • Sebelum penghamparan timbunan pada setiap tempat, semua bahan yang tidak diperlukan harus dibuang sebagaimana diperintahkan oleh direksi pekerjaan.
  • Kecuali untuk derah tanah lunak atau tanah yang tidak dapat dipadatkan atau tanah rawa, dasar pondasi timbunan harus dipadatkan seluruhnya (termasuk penggemburan dan penggeringan atau pembasahan bila diperlukan) sampai 15 cm bagian permukaan atas dasar atas pondasi memenuhi kepadatan yang disyaratkan.
  • Bilamana timbunan akan dibangun atas permukaan tanah dengan kelandaian lereng lebih dari 10%, ditempatkan diatas permukaan lama atau pembagunan timbunan baru, maka lereng lama akan dipotong sampai tanah yang keras dan bertangga dengan lebar yang cukup sehingga memungkinkan perlaratan pemadat dapat beroperasi. tangga-tangga tersebut tidak boleh mempunyai kelandaian lebih dari 4% dan harus dibuatkan sedemikian dengan jarak vertikal tidak lebih dari 30 cm untuk kelandaian yang kurang dari 15% dan tidak lebih dari 60cm untuk kelandaiannya yang sama atau lebih besar dari 15%.
  • Dasar saluran yang ditimbun harus diratakan dan dilebarkan sedemikian hingga memungkinkan pengoperasian peralatan pemadat yang efektif.


4. Penghamparan Timbunan
  • Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan  dan disebar dalam lapisan yang merata yang bila di padatkan akan memenuhi toleransi tebal yang disyaratkan. Bilamana timbunan dihampar lebih dari satu lapis, lapisan-lapisan tersebut sedapat mungkin di bagi rata sehingga sama tebal.
  • Tanah timbunan umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke permukaan yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan. Penumpukan tanah timbunan untuk persediaan, terutama selama musim hujan. biasanya tidak diperkenankan, terutama selama musim hujan.
  • Timbunan di atas atau pada selimut pasir atau bahan drainase porous, harus diperhatikan sedemikian rupa agar kedua bahan tersebut tidak tercampur. Dalam pembentukan drainase sumuran vertikal diperlukan suatu pemisah yang menyolok di antara kedua bahan tersebut dengan memakai acuan sementara dari pelat baja tipis yaag sedikit demi sedikit ditarik saat pengisian timbunan dan drainase porous dilaksanakan.
  • Penimbunan kembali di atas pipa dan di belakang stsuktur harus dilaksanakan dengan sistematis dan secepat mungkin segera setelah pemasangan pipa struktur. Akan tetapi, sebelum penimbunan kembali, diperlukan waktu perawatan tidak kurang dari 3 jam setelah pemberian adukan pada sambungan pipa atau pengecoran struktur beton gravity, pemasangan pasangan batu gravity atau pasangan batu dengan mortar gravity. Sebelum penimbunan kembali di skitar struktur penahan tanah dari beton, pasangan batu dengan mortar, juga diperlukan waktu perawatan tidak kurang dari 14 hari
  • Bilamana timbunan badan jalan akan diperlebar, Iereng timbunan lama harus disiapkan dengan membuang seluruh tetumbuhan yang terdapat pada permukaan lereng dan harus dibuat bertangga (atau dibuat bergerigi) sehingga timbunan baru akan terkunci pada timbuan lama sedmikian sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan. Selanjutnya timbunan yang diperlebar harus dihampar horizontal lapis demi lapis sampai dengan elevasi tanah dasar, yang kemudian harus ditutup secepat mungkin dengan lapis pondasi bawah dan atas sampai elevasi permukaan jalan lama sehingga bagian yang diperlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas secepat mungkin, dengan demikian pembangunan dapat dilanjutkan ke sisi jalan lainnya bilamana diperlukan
  • Lapisan penopang di atas tanah lunak termasuk tanah rawa harus dihampar sesegera mungkin dan tidak lebih dari tiga hari setelah persetujuan penggalian atau pembersihan dan pengupasan oleh Direksi Pekerjaan. Lapisan penopang dapat dihampir satu lapis atau beberapa lapis dengan tebal antara 0,5 sampai 1,0 meter sesuai dengan kondisi lapangan dan sebagaimana diperintahkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan.


5. Pemadatan Timbunan
  • Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memandai dan disetujui Direksi Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan
  • Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar air bahan berada dalam rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan kering maksimum yang diperoleh bilamana tanah dipadatkan sesuai dengan SNI 03-1742-1989.
  • Seluruh timbunan batu harus ditutup dengan satu lapisan atau lebih setebal 20 cm dari bahan bergradasi menerus dan tidak mengandung batu yang lebih besar dari 5 cm serta mampu mengisi rongga-rongga batu pada bagian atas timbunan batu tersebut lapis penutup ini harus dilalsanakan sampai mencapai kepadatan timbunan tanah yang disyaratkan.
  • Setiap lapisan timbunan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang disyaratkan, diuji kepadatannya dan harus diterima oleh Direksi Pekerjaan sebelum lapisan berikutnya dihampar.
  • Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju ke arah sumbu jalan sedemikian rupa sehingga setiap ruas akan menerima jumlah usaha pemadatan yang sama. Bilamana memungkinkan, lalu lintas alat-alat konstruksi dapat dilewatkan di atas pekerjan timbunan dan lajur yang dilewati harus terus menerus divariasi agar dapat menyebarkan pengaruh usaha pemadatan dari lalu lintas tersebut.
  • Dalam menempatkan timbunan di atas gorong-gorong dan bilamana disyaratkan, dalam Kontrak atau pada jembatan, harus membuat timbunan tersebut sama tinggi pada kedua sisinya. Jika kondisi-kondisi memerlukan penempatan timbunan kembali atau timbunan pada satu sisi lebih tinggi dari sisi lannya, penambahan bahan pada sisi yang lebih tinggi tidak boleh dilakukan sampai persetujuan diberikan oleh Direksi Pekerjaan dan tidak melakukan penimbunan sampai struktur tersebut telah berada di tempat dalam waktu 14 hari, dan pengujian-pengujian yang dilakukan di laboratorium di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan menetapkan bahwa struktur tersebut telah mencapai kekuatan yang cukup untuk menahan tekanan apapun yang ditimbulkan oleh metoda yang digunakan dan bahan yang dihampar tanpa adanya kerusakan atau regangan yang di luar faktor keamanan.
  • Bahan untuk timbunan pada tempat-tempat yang sulit dimasuki oleh alat pemadat normal harus dihampar dalam lapisan mendatar dengan tebal gembur tidak lebih dari 10 cm dan seluruhnya dipadatkan dengan menggunakan pemadat mekanis.
  • Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin gilas harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih dari 10 cm dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis atau timbris (tamper) manual dengan berat statis minimum 10 kg. pemadatan di bawah maupun di tepi pipa harus mendapat perhatian khusus untuk mencegah timbulnya rongga-rongga dan untuk menjamin bahwa pipa terdukung sepenuhnya. 

January 30, 2018

Dalam Lelang, Apakah Analisa Harga Satuan Wajib Diupload ??

Penawaran pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tidak mewajibkan rincian atau uraian harga satuan pekerjaan untuk diupload peserta lelang.

Rincian atau uraian harga satuan pekerjaan tersebut termasuk analisa harga, analisa alat, analisa agregat, dan analisa lainnya.

Dalam mengikuti lelang hal yang paling memusingkan adalah membuat dokumen penawaran harga seperti analisa harga satuan, analisa alat, analisa quary, dan analisa agregat dll. Selain mebuat analisa tesebut hal yang paling lama adalah me-ngeset file-file tersebut dalam bentuk file PDF yang berurutan, sangat-sangat rumit.

Perubahan terbaru paket-paket lelang yang ada di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat adalah bahwa bentuk rincian atau uaraian harga satuan pekerjaan (HSP) tersebut tidak diperlukan atau tidak harus dilampirkan, jadi para peserta lelang tidak diwajibkan untuk mengupload dokumen tersebut, kecuali Penawaran peserta lelang tersebut berada dibawah 80 % dari HPS, 

contoh, ada lelang dengan pagu 10 milyar, anda menawar 7,9 milyar, atau 7 milyar, berarti penawaran anda dibawah 80% dari HPS, penawaran seperti ini yang mewajibkan untuk melapirkan semua rincian atau uraian harga satuan pekerjaan (HSP) tersebut, sebab penawaran tersebut diperlukan Panitia atau Pokja untuk mengklarifikasi kewajaran harga, penawaran anda.

Syarat seperti diatas dapat ditemukan pada Lembar Data Kulifikasi (LDK), lihar contoh lebar Lembar Data Kualifikasi berikut :


Biasanya hal-hal yang diupload adalah:
  1. Mobilisasi
  2. Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas 
  3. Jembatan Sementara
  4. Pengamanan Lingkungan Hidup
  5. Pengeboran, termasuk SPT dan Laporan 
  6. Sondir termasuk Laporan
  7. Manajemen Mutu 
  8. Daftar upah dan bahan (unit price)
  9. Daftar Sewa alat per jam/hari

Catatan : dokumen diatas jika diperlukan oleh panitia atau pokja lelang, tetu akan dilampirkan dalam dokumen lelang (Lembar data kualifikasi) jika tidak ada berarti dokumen tersebut tidak bersifat wajib.

Kecuali dalam lembar data kualifikasi mensyaratkan lain, tentu semua bentuk rincian atau uaraian harga satuan pekerjaan (HSP) harus kita upload.



January 29, 2018

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Gorong-gorong Pipa Baja Bergelombang atau Armco

Gorong-gorong Pipa Baja Bergelombang atau armco digunakan untuk mengganti struktur drainase melintang jalan yang ada atau untuk pemasangan baru.


Goron-gorong Pipa baja atau armco merupakan hasil pabrikasi dengan berbagai ukuran, diameter 100 cm atau 200 cm dll, Berikut metode Pelaksanaan Pemasangan Gorong-gorong Pipa Baja tersebut :

Persiapan :
penggalian dan persiapan parit serta pondasi untuk drainase dan gorong-gorong harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan seksi 3.1. spesifikasi teknis khusunya tentang galian untuk struktur dan pipa
baha untuk landasan harus ditempatkan sesuai ketentuan seksi 2.4 spesifikasi dan khusunya tentang pemasangan bahan landasan

Pelaksanaan :

  1. Pipa baja bergelombang dirakit di lokasi penempatannya atau dirakit di dalam galian parit yang telah disiapkan
  2. pipa baja bergelombang yang telah dirakit lebih dahulu harus diturunkan ke tempatnya dengan tali (slings) yang dapat diterima dan pipa tidak boleh terlalu panjang karena dapat menyebabkan tertekannya sambungan. Perhatian khusu harus diberikan untuk menghindari keruskan pada ujung pipa dan kemungkinan jatuhnya pipa selama pengangkutan dan pemasukan
  3. semua pipa baja bergelombang yang telah dirakit harus dibaut dengan tepat dan alur sambungan harus terpasang dengan benar untuk menghindari adanya renggangan yang berlebihan

Peralatan yang digunakan :
  • Excavator
  • Daump Truck
  • Alat bantu

Tenaga Kerja yang dibutuhkan:
  • Pekerja 4 Orang
  • Mandor 1 Orang

Kapasitas Produksi :
Produksi yang menentukan excavator : 132 M3/Jam
Produksi harian : 926,28 M3/hr

Pengendalian Mutu
Pengukuran bentuk dan dimensi (lebar, panjang dan kedalaman) sehingga dapat diketahui volume pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan.

Pemeliharaan :
Pemeliharaan dilakukan selama pelaksanaan pekerjaan sampai FHO, dilaksanakan sedemikian rupa sehingga bentuk dan dimensi tetap dalam kondisi sesuai dengan gambar rencana, tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

January 23, 2018

Cara Melakukan Penggantian Personil Utama Kontraktor

Setelah menang tender pada proyek-proyek pemerintah, Apakah boleh penyedia jasa atau kontraktor melakukan penggantian personil utama??

Setelah penetapan pemenang lelang biasanya para kontraktor ingin mengganti personil utama mereka dengan personil yang berasal dari daerah setempat, atau personil yang sudah mereka kenal. Tetapi beberapa kontraktor bingun cara menggantinya. 

Pada hal tidak ada aturan yang melarang bagi para kontraktor untuk melakukan pergantian personil utama atau mengusulkan personil yang berbeda dengan yang telah diusulkan ketika pemasukan penawaran tersebut. 

Berikut ketentuan dalam mengusulkan personil utama penyedia atau kontraktor :
  1. Tingkat pendidikan, pengalaman, keahlian minimal sama atau lebih tinggi dari personil yang diusulkan ketika penawaran
  2. Personil yang akan diganti benar-benar berhalangan tetap, mislkan meninggal, sakit, diangkat menjadi PNS, kerja di luar negri dan atau berhalangan tetap lainnya.
  3. Personil utama tidak sedang di black list atau daftar hitam personil utama.
  4. Personil pengganti tidak sedang melakukan pekerjaan rangkap pada paket-paket lain.
Cara mengusulkan Personil pengganti:
  1. Penyedia jasa atau kontraktor membuat surat usulan perubahan atau penggantian personil utama kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) utuk paket APBN, dengan tembusan kepada Kasatker serta Konsultan
  2. Surat tersebut dilampirkan persyaratan lainnya seperti foto copy Sertifikat keahlian (SKA), refrensi atau pengalaman, ijasah dan syarat lainnya yang relevan
  3. Personil pengganti harus membuat surat pernyatan penggantian, yang menyatakan bahwa apabila terjadi segala sesuatu dikemudian hari dalam pelaksanaan pekerjaan tersebut diatas, maka sepenuhnya menjadi resiko dan tanggung jawab Personil pengganti, dan membebaskan personil sebelumnya dari segala tuntutan/gugatan dari pihak manapun juga dan/atau dengan alasan apapun juga




January 22, 2018

Bagaimana Jika Penawaran Anda digugurkan Karena Hal-hal yang tidak Subtantial

Sering kali kita temui penawaran lelang kita digugurkan, pada hal, masalah-masalah tersebut tidaklah Subtantial terhadap proses penyelesaian pekerjaan.

Hal-hal yang tidak Subtantial

Hal-hal subtantial adalah hal-hal yang berhubungan dengan esensi atau pokok dalam penawaran. Jika tanpa hal-hal tersebut akan mempengaruhi atau tidak memenuhi suatu penawaran, dengan kata lain pekerjaan yang akan dilaksanakan tidak akan tepat waktu, tepat biaya, tepat mutu.

Berikut hal-hal yang tidak subtantial yang biasanya dipakai oleh Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan untuk menggurkan penawaran :

  1. Ketidak hadiran dalam pemberian penjelasan, atau aanwijzing. 
  2. Lupa memberikan Kop pada surat penawaran, Pada Metode Pelaksanaan, Pada dokumen K3 dan atau pada daftar kuantitas dan harga.
  3. Kurang huruf atau koma pada pengetikan, kesalahan penyebutan sebagian nama atau keterangan.
  4. Lupa mencantumkan nomor addendum pada surat penawaran, dsb.
Jika penawaran anda digugukan karena masalah-masalah diatas ada baiknya anda meminta Panitia untuk memverifikasi dokumen anda. Maka Subtantial atau keabsahan/atau kebenaran dokumen yang telah anda upload dapat dibuktikan kebenaran dan keasliannya. Cara verifikasi dan klarifikasinya yaitu dengan memanggil peserta lelang yang diragukan dokumennya atau dengan datang langsung kepada pihak yang telah mengeluarkan dokumen tersebut.

Hasil verifikasi dan klarifikasi tidak diperkenankan untuk merubah subtansi penawaran peserta lelang, dan jika ditemukan dokumen tidak sesuai atau palsu Pokja dapat menggurkan peserta tersebut.

Agar tidak digugurkan karena perbedaan tafsir hal-hal yang bersifat subtantial


Proses lelang adalah proses dimana para peserta berkompetisi untuk menampilkan dokumen penawaran yang terbaik, dokumen penawaran yang terbaik adalah dokumen penawaran yang tidak memeliki ruang atau celah untuk menggurkan penawaran tersebut. Berikut tips meminimalisir keslahan dalam dokumen penawaran lelang:
  1. Selesaikan dokumen penawaran Anda minimal satu hari sebelum batas akhir pemasukan penawaran. Penawaran yang terburu-buru tentu rawan akan kesalahan.
  2. Printlah masing-masing dokumen anda, dan mintalah teman atau sahabat anda untuk mengoreksinya, dengan membaca hasil prinan tentu kesalahan-kesalahan penulisan dapat kita hindari.
Sekali lagi karena lelang itu kompetisi, tentu yang dicari adalah kontraktor yang memberikan penawaran yang terbaik, terbaik administrasinya, terbaik juga teknisnya. jadi dengan membuat penawaran tanpa celah atau kesalahan, perdebatan masalah subtantial dan tidak subtantial tidak terjadi lagi. Sekian penjelasan ini, jika ada kesalahan mohon koreksinya. Trims

artikel terkait:
Tips agar menang lelang
17 Senjata Pokja untuk menggugurkan Dokumen Lelang Anda


January 18, 2018

Download Analisa Harga Satuan Bidang Cipta Karya & Bidang Sumber Daya Air Format Excel

Yang belum memiliki Analisa Harga Satuan Pekerjaan Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Nomor : 8/PRT/M/2016 tentang Harga Satuan Bidang Pekerjaan Umum Silakan download file excelnya di bawah ini.


Pedoman ini digunakan untuk menetapkan langkah-langkah menghitung harga satuan dasar (HSD) meliputi upah tenaga kerja, Harga Satuan Dasar alat dan Harga Satuan Dasar bahan, yang selanjutnya menghitung harga satuan pekerjaan (HSP) sebagai bagian dari harga perkiraan sendiri (HPS), dapat digunakan pula untuk menganalisis harga perkiraan perencana (HPP) untuk penanganan pekerjaan bidang pekerjaan umum dan lainya. 

Penanganan pekerjaan meliputi preservasi atau pemeliharaan dan pembangunan atau peningkatan kapasitas kinerja bidang pekerjaan umum, yaitu pada sektor Sumber Daya Air, Bina Marga dan Cipta Karya. 

Buat teman-teman konsultan dan kontraktor yang belum memiliki Analisa Harga Satuan Pekerjaan berikut silakan download file excelnya pada link dibawah ini :
  1. Analisa Harga Satuan Pekerjaan Bidang Cipta Karya File Excel
  2. Analisa Harga Satuan Pekerjaan Bidang Sumber Daya Air File Excel
Demikian file-file tersebut diatas yang dapat saya bagikan semoga dapat bermanfaat untuk teman-teman konsultan perencana dan para kontraktor dalam membuat penawaran.

January 15, 2018

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Pondasi Sement Tanah atau Soil Cement

Lapisan Pondasi Semen Tanah atau basa juga disebut Soil Cement merupakan lapisan pondasi base yang merupakan campuran agregat tanah pilihan dan semen portland


Lapisan Pondasi Semen Tanah atau Soil Cement oil cement adalah hasil pencampuran tanah, semen dan air, yang dengan tingkat pemadatan tertentu akan menghasilkan suatu campuran material baru, soil cement, yang mana dikarenakan kekuatannya, karakteristik ketahanan terhadap oleh air, panas dan pengaruh cuaca lainnya adalah sangat baik. 

Lapisan Pondasi Semen tanah juga merupakan salah satu konstruksi jalan yang berbiaya rendah dengan kualitas yang mempuni. Lapisan Pondasi semen Tanah ini digunakan sebagai lapis pondasi, yang dilaksanakan menyebar sepanjang jalan di atas permukaan jalan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Berikut Metode Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Pondasi Semen atau Soil Cement:

Persiapan :
  1. Pembuatan DMF (Design Mix Formula) dilaksanakan Laboratorium atau di UMPKL Dinas Pekerjaan Umum Setempat, bila dianjurkan oleh Direksi pengawas, contoh semua jenis material diambil dari sumber quarry dengan lokasi sketsa terlampir, pengambilan contoh material (batu, abu batu, pasir) dilaksanakan bersama-sama dengan Pengawas Lapangan dan konsultan Pengawas.
  2. Setelah selesai DMF atau disain mix formula, kontraktor bersama konsultan dan direksi teknis akan membuat JMF (Job Mix Formula) atau Campuran Rumusan Kerja. 
  3. Penyediaan material di stock pile atau lokasi pengadukan khususnya pemecahan batu dilaksanakan segera setelah hasil uji kekerasan memenuhi syarat, termasuk penyediaan pasir.
  4. Percobaan pelaksanaan : menyangkut komposisi masing-masing jenis material (mengacu JMF), tebal hamparan gembur sehingga dihasilkan tebal padat yang disyaratkan (diketahui faktor gembur), kadar air optimal, jumlah lintasan pemadatan sehingga dihasilkan kepadatan maksimal sesuai spesifikasi teknis.
  5. Hasil percobaan pelaksanaan dilakukan pengujian : ketebalan (pengukuran manual), uji kepadatan (Sand Cone), uji gradasi lapangan (analisa saringan) dan PI lapangan (atterberg) dan uji CBR Lapangan (DCP).
  6. Staking-out, menentukan lebar dan tebal hamparan sebagai gambar rencana.


Pelaksanaan :
  1. Pengadukan material Lapisan Pondasi Agregat : dilaksanakan di stock pile (lokasi pengadukan) dengan komposisi berdasarkan JMF dan hasil percobaan lapangan, pengadukan dilaksanakan setiap maksimal ≤ 50 m3 agar dihasil campuran yang homogen, digunakan peralatan excavator dan whell loader.
  2. Material LPA diangkut dengan menggunakan dump truk, pemuatan menggunakan wheel loader, jarak hauling diatur sedemikian rupa (memeprhatikan faktor gembur dari hasil percobaan pelaksanaan) sehingga penghamparan dapat dilaksanakan efektif dan efisien.
  3. Penghamparan menggunakan motor grader, tebal hamparan sesuai hasil percobaan pelaksanaan, dilaksanakan selebar rencana, perapian hamparan dilaksanakan dengan tenaga manusia dengan peralatan sesuai keperluan lapangan.
  4. Selama proses penghamparan dilakukan control kadar air, sehingga akan dihasilkan kadar air optimal pada saat pemadatan dilaksanakan. Dimensi dan kelandaian permukaan dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana.
  5. Pemadatan menggunakan vibrator roller (berat 8-12 ton), dilaksanakan mulai dari bagian yang rendah berangsur-angsur menuju bagian yang lebih tinggi, jumlah lintasan sesuai dengan hasil percobaan pelaksanaan.  
  6. Pemadatan dihentikan jika diyakini tercapai kepadatan yang disyaratkan.


Pengujian dan pengukuran :
  1. Pengujian mutu : uji gradasi dan PI (di laboratorium), uji kepadatan (sand cone di lapangan), uji CBR Lapangan (DCP).
  2. Pengukuran : dimensi (panjang, lebar dan tebal dilaksanakan secara manual), kelandaian (menggunakan pesawat waterpass atau theodolit)  dan kerataan permukaan (menggunakan mistar ukur).


Pemeliharaan :
Pemeliharaan menyangkut kerataan permukaan, keutuhan dan kekokohan dilaksanakan sampai pekerjaan tahap selanjutnya (perkerasan dengan aspal) akan dilaksanakan, sedemikian rupa sehingga dimensi, permukaan dan mutu Soil Cement tetap sesuai spesifikasi teknis.

January 14, 2018

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Klas A, Klas B dan Klas S

Lapisan Pondasi Agregat dapat digunakan sebagai lapisan pondasi bawah yaitu Lapisan Pondasi agregat Klas B,  digunakan sebagai lapisa pondasi atas yaitu lapis pondasi agregat klas A, dan sebagai bahu jalan tanpa penutup yaitu lapisan pondasi agregat klas S.


Material Crusher


Berikut metode pelaksanaan masing-masing pekerjaan Lapisan Pondasi Agregat:

Lapisan Pondasi Agregat Klas A (LPA)


Lapisan pondasi Agregat Klas A, biasa kita kenal dengan LPA, digunakan sebagai lapis pondasi atas, dilaksanakan menyebar sepanjang jalan yang dilebarkan dan di atas permukaan lapis pondasi bawah (LPB) yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Persiapan :
  1. Pembuatan DMF (Design Mix Formula) dilaksanakan Laboratorium atau di UMPKL Dinas Pekerjaan Umum setempat, bila dianjurkan oleh Direksi pengawas, contoh semua jenis material diambil dari sumber quarry dengan lokasi sketsa terlampir, pengambilan contoh material (batu, abu batu, pasir) dilaksanakan bersama-sama dengan Pengawas Lapangan dan konsultan Pengawas.
  2. Setelah DMF selesai kontraktor akan membuat JMF (Job Mix Formula) di Laboratorium Kontraktor itu sendiri, didampingi konsultan dan Direksi teknis.
  3. Penyediaan material di stock pile atau lokasi pengadukan khususnya pemecahan batu dilaksanakan segera setelah hasil uji kekerasan memenuhi syarat, termasuk penyediaan pasir.
  4. Percobaan pelaksanaan : menyangkut komposisi masing-masing jenis material (mengacu JMF), tebal hamparan gembur sehingga dihasilkan tebal padat yang disyaratkan (diketahui faktor gembur), kadar air optimal, jumlah lintasan pemadatan sehingga dihasilkan kepadatan maksimal sesuai spesifikasi teknis. Hasil percobaan pelaksanaan dilakukan pengujian : ketebalan (pengukuran manual), uji kepadatan (Sand Cone), uji gradasi lapangan (analisa saringan) dan PI lapangan (atterberg) dan uji CBR Lapangan (DCP).
  5. Staking-out, menentukan lebar dan tebal hamparan sebagai gambar rencana.
Pelaksanaan :
  1. Pengadukkan material LPA : dilaksanakan di stock pile (lokasi pengadukan) dengan komposisi berdasarkan JMF dan hasil percobaan lapangan, pengadukan dilaksanakan setiap maksimal ≤ 50 m3 agar menghasilkan campuran yang homogen, digunakan peralatan excavator dan Wheel Loader.
  2. Material LPA diangkut dengan menggunakan dump truk, pemuatan menggunakan wheel Loader, jarak hauling diatur sedemikian rupa (memeprhatikan faktor gembur dari hasil percobaan pelaksanaan) sehingga penghamparan dapat dilaksanakan efektif dan efisien.
  3. Penghamparan menggunakan Motor Grader, tebal hamparan sesuai hasil percobaan pelaksanaan, dilaksanakan selebar rencana, perapian hamparan dilaksanakan dengan tenaga manusia dengan peralatan sesuai keperluan lapangan. Selama proses penghamparan dilakukan control kadar air, sehingga akan dihasilkan kadar air optimal pada saat pemadatan dilaksanakan. Dimensi dan kelandaian permukaan dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana.
  4. Pemadatan menggunakan Vibrator Roller (berat 8-12 ton), dilaksanakan mulai dari bagian yang rendah berangsur-angsur menuju bagian yang lebih tinggi, jumlah lintasan sesuai dengan hasil percobaan pelaksanaan. Pemadatan dihentikan jika diyakini tercapai kepadatan yang disyaratkan.
Pengujian dan pengukuran :
  1. Pengujian mutu : uji gradasi dan PI (di laboratorium), uji kepadatan (sand cone di lapangan), uji CBR Lapangan (DCP).
  2. Pengukuran : dimensi (panjang, lebar dan tebal dilaksanakan secara manual), kelandaian (menggunakan pesawat waterpass atau theodolit)  dan kerataan permukaan (menggunakan mistar ukur).
Pemeliharaan :
Pemeliharaan menyangkut kerataan permukaan, keutuhan dan kekokohan dilaksanakan sampai pekerjaan tahap selanjutnya (perkerasan dengan aspal) akan dilaksanakan, sedemikian rupa sehingga dimensi, permukaan dan mutu LPA tetap sesuai spesifikasi teknis.

 Lapisan Pondasi Agregat Klas B (LPB)


Lapisan Pondasi Agregat Klas B, biasa kita kenal dengan sebutan LPB digunakan sebagai lapis pondasi bawah, dilaksanakan menyebar sepanjang jalan di atas timbunan pilihan atau diatas permukaan badan jalan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Persiapan :
  1. Pembuatan DMF (Design Mix Formula) dilaksanakan di Laboratorium atau di UMPKL Dinas Pekerjaan Umum setempat, bila dianjurkan oleh Direksi pengawas, contoh semua jenis material diambil dari sumber quarry dengan lokasi sketsa terlampir, pengambilan contoh material (batu, debu batu, pasir, tanah pilihan) dilaksanakan bersama-sama dengan Pengawas Lapangan dan konsultan Pengawas. 
  2. Setelah DMF atau Disain rumusan Kerja  selesai kontraktor akan membuat JMF (Job Mix Formula) di Laboratorium Kontraktor itu sendiri, didampingi konsultan dan Direksi teknis.  
  3. Khusus untuk batu sebelum dibuat JMF akan dilaksanakan uji tingkat kekerasan (Abration test) bersama-sama pengujian material LPA.
  4. Penyediaan material di stock pile atau lokasi pengadukan khususnya pemecahan batu dilaksanakan segera setelah hasil uji kekerasan memenuhi syarat, termasuk penyediaan pasir, debu batu dan tanah pilihan.
  5. Percobaan pelaksanaan : menyangkut komposisi masing-masing jenis material (mengacu JMF), tebal hamparan gembur sehingga dihasilkan tebal padat yang disyaratkan (diketahui faktor gembur), kadar air optimal, jumlah lintasan pemadatan sehingga dihasilkan kepadatan maksimal sesuai spesifikasi teknis.
  6. Hasil percobaan pelaksanaan dilakukan pengujian : ketebalan (pengukuran manual), uji kepadatan (Sand Cone), uji gradasi lapangan (analisa saringan) dan PI lapangan (atterberg) dan uji CBR Lapangan (DCP).
  7. Staking-out, menentukan lebar dan tebal hamparan sebagai gambar rencana.

Pelaksanaan :
  1. Pengadukan material LPB : dilaksanakan di stock pile (lokasi pengadukan) dengan komposisi berdasarkan JMF dan hasil percobaan lapangan, pengadukan dilaksanakan setiap maksimal ≤ 50 m3 agar dihasil campuran yang homogen, digunakan peralatan excavator dan whell loader.
  2. Material LPB diangkut dengan menggunakan dump truk, pemuatan menggunakan wheel loader, jarak hauling diatur sedemikian rupa (memeprhatikan faktor gembur dari hasil percobaan pelaksanaan) sehingga penghamparan dapat dilaksanakan efektif dan efisien.
  3. Penghamparan menggunakan motor grader, tebal hamparan sesuai hasil percobaan pelaksanaan, dilaksanakan selebar rencana, perapian hamparan dilaksanakan dengan tenaga manusia dengan peralatan sesuai keperluan lapangan.
  4. Selama proses penghamparan dilakukan control kadar air, sehingga akan dihasilkan kadar air optimal pada saat pemadatan dilaksanakan.
  5. Dimensi dan kelandaian permukaan dilaksanakan sesuai dengan gambar rencana.
  6. Pemadatan menggunakan vibrator roller (berat 8-12 ton), dilaksanakan mulai dari bagian yang rendah berangsur-angsur menuju bagian yang lebih tinggi, jumlah lintasan sesuai dengan hasil percobaan pelaksanaan.  
  7. Pemadatan dihentikan jika diyakini telah tercapai kepadatan yang disyaratkan.
Pengujian dan pengukuran :
  1. Pengujian mutu : uji gradasi dan PI (di Laboratorium), uji kepadatan (Sand Cone di lapangan), uji CBR Lapangan (DCP).
  2. Pengukuran : dimensi (panjang, lebar dan tebal dilaksanakan secara manual), kelandaian (menggunakan pesawat waterpass atau theodolit)  dan kerataan permukaan (menggunakan mistar ukur).
Pemeliharaan :
Pemeliharaan menyangkut kerataan permukaan, keutuhan dan kekokohan dilaksanakan sampai pekerjaan tahap selanjutnya (Lapis Pondasi Atas) akan dilaksanakan, sedemikian rupa sehingga dimensi, permukaan dan mutu LPA tetap sesuai spesifikasi teknis.  

LAPIS PONDASI AGREGAT KLAS S


Lapisan Pondasi Agregat Klas S, yang biasa kita singkat dengan LPS biasa digunakan untuk bahu jalan tanpa penutup  aspal, dilaksanakan menyebar sepanjang jalan.

Persiapan  :

  1. Pembuatan DMF DMF (Design Mix Formula) LPS dilaksanakan di Laboratorium atau di UMPKL Dinas Pekerjaan Umum setempat, bila dianjurkan oleh Direksi pengawas, contoh semua jenis material diambil dari sumber quarry dengan lokasi sketsa terlampir, pengambilan contoh material (batu, debu batu, pasir, tanah pilihan) dilaksanakan bersama-sama dengan Pengawas Lapangan dan konsultan Pengawas. 
  2. Setelah DMF selesai kontraktor akan membuat JMF (Job Mix Formula) di Laboratorium Kontraktor itu sendiri, didampingi konsultan dan Direksi teknis.
  3. Staking-out untuk menentukan lebar dan kelandaian permukaan bahu jalan sebagaimana gambar rencana, dilaksanakan bersama-sama dengan Pengawas Lapangan dan Konsultan Pengawas.

Pelaksanaan  :
a. Pemotongan dan pengurugan digunakan motor grader, sehingga didapat permukaan sebagai staking-out yang telah dilaksanakan.
b. Pemadatan dilaksanakan menggunakan vibrator roller (berat 8-12 Ton), pemadatan dihentikan jika sudah didapatkan kepadatan yang disyaratkan.

Pengujian dan pengukuran :
a. Pengujian mutu berupa : uji kepadatan menggunakan Sand Cone.
b. Pengukuran hasil pekerjaan : dilaksanakan pada lokasi-lokasi yang mutunya memenuhi syarat, menggunakan alat ukur optik (waterpass atau theodolit) dan manual (meteran).

Pemeliharaan  :
Pemeliharaan dilakukan selama pelaksanaan pekerjaan sampai FHO, dilaksanakan sedemikian rupa sehingga bentuk dan dimensi tetap dalam kondisi sesuai dengan gambar rencana, tetap berfungsi sebagaimana mestinya. 


January 13, 2018

Cara Pembayaran Item Mobilisasi Kontraktor

Kadang para kontraktor kebingungan dalam membuat tagihan biaya mobilisasi, pada hal didalam spesifikasi teknis telah diatur cara pembayaran item mobilisasi tersebut.


Kadang para kontraktor kebingungan dalam hal penarikan biaya mobilisasi, pada hal didalam spesifikasi teknis telah diatur cara pembayaran item mobilisasi tersebut.

Mobilisasi harus dibayar atas dasar lump sum menurut jadwal pembayaran yang diberikan di bawah, dimana pembayaran tersebut merupakan kompensasi penuh untuk penyediaan dan pemasangan semua peralatan, dan untuk semua pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya yang perlu untuk menyelesaikan pekerjaan yang diuraikan dalam Pasal 1.2.1.(1) dari Spesifikasi ini. 

Walaupun demikian Direksi Pekerjaan dapat, setiap saat selama pelaksanaan pekerjaan, memerintahkan Kontraktor untuk menambah peralatan yang dianggap perlu tanpa menyebabkan perubahan harga lump sum untuk Mobilisasi.

Pembayaran biaya lump sum ini akan dilakukan dalam tiga angsuran sebagai berikut :
  1. 50 % (lima puluh persen) bila mobilisasi 50 % selesai, dan pelayanan atau fasilitas pengujian laboratorium telah lengkap dimobilisasi. 
  2. 20 % (dua puluh persen) bila semua peralatan utama berada di lapangan dan diterima oleh Direksi Pekerjaan. 
  3. 30 % (tiga puluh persen) bila demobilisasi selesai dilaksanakan.

Bilamana Kontraktor tidak menyelesaikan mobilisasi sesuai dengan salah satu dari kedua batas waktu yang disyaratkan dalam Pasal 1.2.1.(3) maka jumlah yang disahkan Direksi Pekerjaan untuk pembayaran adalah persentase angsuran penuh dari harga lump sum Mobilisasi dikurangi sejumlah dari 1 % (satu persen) nilai angsuran untuk setiap keterlambatan satu hari dalam penyelesaian sampai maksimum 50 (lima puluh) hari.

Pentingnya Fasilitas Laboratorium Kontraktor

Penyediaan Fasilitas dan Pelayanan Pengendalian Mutu (Laboratorium) harus diselesaikan dalam waktu 45 hari setelah SPMK.


Kontraktor sebagaimana disyaratkan dalam kontrak harus menyediakan tempat kerja, bahan, fasilitas, pekerja, pelayanan dan pekerjaan lainnya yang diperlukan untuk pelaksanaan
pengujian yang diperlukan. 
Umumnya Kontraktor di bawah perintah dan pengawasan Direksi Pekerjaan akan melakukan semua pengujian sehubungan dengan pengendalian mutu bahan baku, campuran dan bahan yang diproses untuk menjamin bahwa bahan-bahan tersebut memenuhi mutu bahan, kepadatan dari pemadatan. 

Kontraktor harus membangun dan melengkapi, memelihara, membersihkan, menjaga dan pada akhir Kontrak membongkar atau menyingkirkan bangunan yang disebutkan dalam lembar 1.05.2 dari Gambar, yang digunakan sebagai laboratorium lapangan  untuk digunakan semata-mata hanya oleh Direksi Pekerjaan, dan memasok dan memasang peralatan laboratorium di  laboratorium Direksi Pekerjaan untuk pelaksanaan pengujian yang terdaftar dalam Spesifikasi Standar. Daftar Peralatanyang digunakan untuk pengujian terhadap pekerjaan ini diberikan dalam Lampiran 1.4.A.

Direksi Pekerjaan akan bertanggungjawab atas semua pengujian yang dilakukan untuk pekerjaan yang sudah selesai. Hasil pengujian-pengujian ini akan menjadi dasar persetujuan atau penolakan dari pekerjaan terkait. 

Kontraktor diwajibkan untuk menyerahkan :

  1. Usulan mobilisasi Laboratorium Pengujian : detil dari mobilisasi laboratorium dan peralatannya sebagai bagian dari program mobilisasi sesuai dengan ketentuan pada Seksi 1.2 dari Spesifikasi ini, harus disediakan oleh Kontraktor.
  2. Usulan personil penguji : daftar beserta Daftar Riwayat Hidup semua teknisi laboratorium yang diusulkan Kontraktor untuk pelaksanaan pengujian menurut Kontrak ini.
  3. Jadwal pengujian : jadwal induk (master schedule) semua pekerjaan yang akan diuji. Dengan jadwal pelaksanaan (construction schedule) yang ada dapat ditentukan tanggal sementara untuk masing-masing kegiatan pengujian. Jadwal kegiatan pengujian ini harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan dalam for- mulir pendahuluan (preliminary form) untuk dievaluasi pada setiap awal bulan.
  4. Formulir pengujian : usulan formulir pengujian standar yang akan digunakan dalam Kontrak ini untuk semua jenis pengujian yang disyaratkan dalam Spesifikasi, harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaaan dalam waktu 45 hari terhitung sejak Tanggal Mulai Kerja, untuk mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

Fasilitas Laboratorium dan Pengujian

  1. Kontraktor harus menyediakan pelayanan pengujian dan/atau fasilitas laboratorium sebagaimana disyaratkan untuk memenuhi seluruh ketentuan pengendalian mutu dari Spesifikasi ini.
  2. Bilamana secara khusus dimasukkan dalam lingkup Kontrak ini, maka Kontraktor harus menyediakan dan memelihara sebuah laboratorium lengkap dengan peralatannya di lapangan.

Prosedur Pelaksanaan

  1. Peraturan dan Rujukan,Standard Nasional Indonesia (SNI), sebagaimana diberikan dalam Lampiran 1.4.B dalam Spesifikasi ini harus digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan.  Dalam segala hal, Kontraktor harus menggunakan SNI yang relevan atau setara untuk menggantikan standar-standar lain yang mungkin ditunjukkan dalam Spesifikasi ini..  Bilamana standar tersebut tidak terdapat dalam SNI, Kontraktor dapat menggunakan stnadar lain yang relevan sebagai pengganti atas perintah Direksi Pekerjaan.
  2. Personil,Personil yang bertugas pada pengujian bahan haruslah terdiri atas tenaga-tenaga yang mempunyai pengalaman cukup dan telah terbiasa melakukan pengujian bahan yang diperlukan dan harus mendapat persetujuan  terlebih dahulu dari Direksi Pekerjaan
  3. Formulir,Formulir yang dapat digunakan untuk pengujian yang sebenarnya dan pelaporan hasil pengujian hanyalah formulir telah disetujui terlebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan
  4. Pemberitahuan,Kontraktor harus memberitahu Direksi Pekerjaan rencana waktu pelaksanaan pengujian, paling sedikit satu jam sebelum pengujian dilaksanakan sehingga memungkinkan Direksi Pekerjaan atau Wakilnya untuk menyaksikan setiap pengujian bukan rutin yang mereka inginkan. 
  5. Distribusi,Laporan pengujian harus segera dikerjakan dan didistribusikan sehingga memungkinkan untuk melakukan pengujian ulang, penggantian bahan atau pemadatan ulang sedemikian hingga dapat mengurangi keterlambatan dalam pelaksanaan Pekerjaan.
  6. Inspeksi dan Pengujian,Inspeksi dan pengujian akan dilaksanakan oleh Direksi Pekerjaan untuk memeriksa pekerjaan yang telah selesai apakah telah memenuhi mutu bahan, kepadatan dari pemadatan dan setiap ketentuan lanjutan yang menjadi diperlukan selama pelaksanan pekerjaan. 

January 8, 2018

Jenis Konversi Untuk Volume Material atau Bahan

Besarnya faktor konversi akan sangat tergantung dari type bahan dan derajat pengerjaannya (periksa tabel 3.1.). Faktor konversi seperti pada tabel 3.1. ini dinamakan juga faktor kembang susut bahan.

Berbagai jenis material seperti pasir, tanah liat, tanah kapur, kerikil, kerikil kasar,pecahan cadas atau batu keras dan material lainnya memililiki faktor perbadingan pengembangan atau penyusutan.

Disamping faktor ini dalam menentukkan keperluan bahan perlu diperhitungkan pula adanya faktor kehilangan akibat pengerjaan atau angkutan. Faktor kehilangan ini besarnya antara 0 % - 25 %. Faktor kembang susut dan faktor kehilangan bahan pada dasarnya ditetapkan berdasarkan pengalaman, pengamatan atau percobaan.

Selain dari hal diatas perlu juga tabel B.D ( Berat Jenis ) bahan material untuk menghitung berat muatan dapat dilihat padat tabel dibawah ini.

Tabel III-1  JENIS KONVERSI UNTUK VOLUME MATERIAL
( Faktor Perbandingan Pengembangan / Penyusutan )

JENIS TANAH
KONDISI TANAH SEMULA
KONDISI TANAH AKAN DIKERJAKAN
ASLI
LEPAS
PADAT
PASIR
Asli
Lepas
Padat
1.00
0.90
1.05
1.11
1.00
1.17
0.95
0.85
1.00
TANAH LIAT BERPASIR
Asli
Lepas
Padat
1.00
0.80
1.11
1.25
1.00
1.30
0.90
0.72
1.00
TANAH LIAT
Asli
Lepas
Padat
1.00
0.70
1.11
1.25
1.00
1.59
0.90
0.63
1.00
TANAH CAMPUR KERIKIL
Asli
Lepas
Padat
1.00
0.85
0.93
1.18
1.00
1.09
1.08
0.91
1.00
KERIKIL
Asli
Lepas
Padat
1.00
0.88
0.97
1.13
1.00
1.10
1.03
0.91
1.00
KERIKIL KASAR
Asli
Lepas
Padat
1.00
0.70
0.77
1.42
1.00
1.10
1.29
0.91
1.00
PECAHAN CADAS ATAU BATUAN KERAS
Asli
Lepas
Padat
1.00
0.61
0.82
1.65
1.00
1.35
1.22
0.74
1.00
PECAHAN GRANIT ATAU BATUAN KERAS
Asli
Lepas
Padat
1.00
0.50
0.76
1.70
1.00
1.30
1.31
0.77
1.00
PECAHAN BATU
Asli
Lepas
Padat
1.00
0.57
0.71
1.75
1.00
1.24
1.40
0.80
1.00
BATUAN HASIL PELEDAKAN
Asli
Lepas
Padat
1.00
0.56
0.77
1.80
1.00
1.38
1.30
0.72
1.00
Sumber : Kapsitas & Produksi alat – alat berat, 1,
( Komatsu, Specifikations And Application handbook Edition-7, Hal 5- 5

Contoh:
Matrial Tanah Lepas menjadi Padat.
Pemadatan Tanah
Harus dilaksanakan pemindahan tanah 1.000 m3 dari tanah asli
- Berapa volume termaksud sesudah digali untuk diangkut
- Berapa jadinya volume termaksud kalau dipadatkan
Dengan menggunakan tabel 3.1. didapat hasil sebagai berikut :


Tanah Asli
Tanah Lepas
Tanah Padat
Tanah Liat
Pasir
1.000 m3
1.000 m3

1,25 x 1.000 = 1250 m3
1,11 x 1.000 = 1110 m3
0,9 x 1250 = 1.125 m3
0,95 x 1110 = 1.093 m3
TABEL III-2  BERAT / VOLUME ( Berat Jenis )

NO
BAHAN
LEPAS
Kg / m3
L b / yd3
1.
Bauxit
1420
2400
2.
Caliche
1250
2100
3.
Carnotite, Biji Uranium (Uranium Cre)
1630
2750
4.
Cinders
560
950
5.
Lempung – Alam
1660
2800
6.
Lempung – Kering
1480
2500
7.
Lempung – Basah
1660
2800
8.
Lempung & Koral Kering
1420
2400
9.
Lempung & Koral Basah
1540
2600
10.
Batubara Mentah / Kotor
1190
2000
11.
Batubara dicuci bersih
1100
1850
12.
Bituminous, Mentah kotor
950
1600
13.
Bituminous, Di cuci bersih
830
1400
14.
Kondisi 75 % Batu, 25 %
1960
3300
15.
Komposisi 50 % Batu 25 %, 50 % tanah
1720
2900
16.
Komposisi 25 % Batu 75 % tanah
1570
2650
17.
Tanah Gumpalan Kering
1510
2550
18.
Tanah Galian Basah
1600
2700
19.
Tanah Berlapis
1520
2100
20.
Granite Pecah
1660
2800
21.
Koral – Sirtu
1930
3250
22.
Koral Kering
1510
2550
23.
Koral Keril 6 – 60mm ( ¼” – 2” )
1690
2850
24.
Koral Basah 6 – 50 mm ( ¼” – 2” )
2020
3400
25.
Gips Pecah
1810
3050
26.
Gips Belah
1600
2700
27.
Hematite, Biji Besi, Kwalitas Baik
1810 – 2450
4000 – 5400

LANJUTAN TABEL III-2  BERAT / VOLUME ( Berat Jenis )

NO
BAHAN
LEPAS
Kg / m3
L b / yd3
28.
Limestone – Pecah
1540
2600
29.
Magentite Biji Besi
2790
4700
30.
Pyrite, Biji Besi
2560
4350
31.
Pasir Kering Lepas
1429
2400
32.
Pasir Damp
1690
2850
33.
Pasir Basah
1840
3100
34.
Pasir & Lempung Lepas
1600
2700
35.
Pasir & Lempung Padat
2400
4050
36.
Pasir & Koral Kering
1720
2900
37.
Pasir & Koral Basah
2020
3400
38.
Batu  campur Pasir
1510
2550
39.
Batu Belah
1600

40.
SBST /DSBST
2.000

41.
ATB /AC /HRS
2.300

42.
Agregate Base
2.200

43.
Batu Pecah
1.554

44.
Batu Kali
1.552

45.
Pasir
1.442

46.
Galian Tanah
1.009

47.
Aspal Beton
2.200

48.
Beton
2.400



Demikian Tabel ini saya publikasikan semoga bermanfaat.