Semua Informasi tentang dunia Kontraktor, Teknologi dan Internet

September 10, 2017

Metode Pelaksanaan Sandaran (Railing) Jembatan


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Sandaran (Railing) Jembatan

Pekerjaan ini terdiri dari penyediaan, fabrikasi dan pemasangan sandaran baja untuk jembatan dan pekerjaan lainnya seperti galvanisasi, pengecatan, tiang sandaran, pelat dasar, baut pemegang, dan sebagainya, sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan dan memenuhi Spesifikasi ini.
Jaminan Mutu
Mutu bahan yang dipasok, kecakapan kerja dan hasil akhir harus dipantau dan diken-dalikan sebagaimana yang disyaratkan dalam Standar Rujukan dalam Pasal 7.13.1.(5)

Toleransi
Diameter lubang:
+ 1 mm, - 0,4 mm
Tiang Sandaran:
Akan dipasang baris demi baris serta ketinggian, tiang-tiang harus tegak dengan toleransi tidak melampaui 3 mm per meter tinggi. 
Sandaran (railing):
Panel sandaran yang berbatasan harus segaris satu dengan lainnya dalam rentang 3 mm.
Kelengkungan:
Sandaran harus memenuhi kurva jembatan. Kurva ini dapat dibentuk dengan serangkaian tali antara tiang. 
Tampak:
Sandaran harus menunjukkan penampilan yang halus dan seragam jika dalam posisi akhir.

Pengajuan kesipan kerja
Kontraktor  harus  menyerahkan gambar kerja untuk disetujui Direksi Pekerjaan untuk setiap jenis sandaran baja yang akan dipasang. Fabrikasi tidak boleh dimulai sebelum gambar kerja disetujui.
Kontraktor  harus menyerahkan sertifikat pabrik pembuat sandaran baja yang menunjukkan mutu baja, pengelasan, dan sebagainya.

Penyimpanan
Bagian-bagian baja harus ditangani dan disimpan dengan hati-hati dalam tempat ter-tentu, rak atau landasan, dan tidak boleh bersentuhan langsung dengan permukaan tanah serta harus dilindungi dari korosi. Bahan harus dijaga agar bebas dari debu, minyak, gemuk dan benda-benda asing lainnya. Permukaan yang dicat harus dilindungi baik di bengkel maupun di lapangan. Sekrup-sekrup harus dilindungi dari kerusakan

Perbaikan terhadap pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan
Selama pengangkutan, penyimpanan, penanganan atau pemasangan, setiap san-daran yang mengalami kerusakan berat seperti melengkung atau penyok, harus diganti. Sandaran yang mengalami kerusakan  pada pengelasan harus dikem-balikan ke bengkel untuk diperbaiki pengelasannya dan digalvanisasi ulang.

Sandaran yang mengalami kerusakan pada galvanisasi atau pengecatan harus dikembalikan ke bengkel dan diperbaiki sampai baik. Kerusakan kecil pada pekerjaan cat mungkin dapat diperbaiki di lapangan, sesuai dengan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

Pemeliharaan Pekerjaan yang telah diterima
Tanpa mengurangi kewajiban Kontraktor untuk melaksanakan perbaikan terhadap pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 7.13.1.(8) di atas, Kontraktor juga harus bertanggungjawab atas pemeliharaan rutin dari semua sandaran jembatan yang telah selesai dan diterima selama Periode Kontrak termasuk Periode Pemeliharaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan Seksi 10.1 dari Spesifikasi ini dan harus dibayar terpisah menurut Pasal 10.1.7

Peralatan
Fabrikasi umumnya harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dari Seksi 7.4 Baja Struktur. Sandaran harus difabrikasi di bengkel yang disetujui. Sambungan pada panel yang berbatasan harus sangat tepat (match-marked) untuk maksud pemasangan.

Pengelasan
Pengelasan harus dilaksanakan oleh tenaga yang trampil, dengan cara yang ahli, mengetahui detil semua sifat-sifat bahan. Lapisan yang terekspos harus dikupas, digosok, dikikir dan dibersihkan untuk mendapatkan penampilan yang bersih sebelum digalvanisasi. Pelat dasar harus dilas ke tiang-tiang untuk menghitung setiap ketinggian yang diberi-kan dalam Gambar dan dengan cara yang sedemikian hingga tiang-tiang ini akan tegak jika dalam posisi akhir.

Galvanisasi
Semua bagian baja harus digalvanisasi sesuai dengan AASHTO M111 - 90 Galva-nizing., kecuali jika galvanisasi ini telah mempunyai tebal minimum 80 mikron. Pekerjaan pengeboran dan pengelasan harus sudah selesai sebelum galvanisasi. Agar kondensasi uap air dapat lolos setelah fabrikasi sebelum galavanisasi, pipa harus dilengkapi dengan lubang yang ditunjukkan dalam Gambar. Setiap penambahan lubang yang diperlukan untuk pengaliran atau diperlukan untuk galvanisasi harus diletakkan dalam posisi yang sedemikian hingga tidak langsung tampak dan tidak mengurangi kapasitas pipa terhadap beban. Pipa harus digalvanisasi luar dan dalam. Setelah galvanisasi elemen-elemen sandaran selesai, pengelasan atau pengeboran tidak boleh dilakukan tanpa persetujuan Direksi Pekerjaan. Perbaikan galvanisasi, selanjutnya akan dilaksanakan (setelah semua karat, uap air, galvanisasi yang mengelupas, minyak dan benda-benda asing lainnya telah dibersihkan) dengan 3 lapis cat dasar serbuk seng (zinc dust) yang bermutu tinggi dan awet seperti yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Pelaksanaan
Pemasangan harus sesuai dengan Seksi 7.4 Baja Struktur. Sandaran harus dipasang dengan hati-hati sesuai dengan garis dan ketinggian yang ditunjukkan dalam Gambar. Sandaran harus disetel dengan hati-hati sebelum dimatikan agar dapat memperoleh sambungan yang tepat, alinyemen yang benar dan lendutan balik (camber) pada seluruh panjang. Persetujuan dari Direksi Pekerjaan harus diperoleh sebelum sandaran dimatikan. Kontraktor akan memberitahukan Direksi Pekerjaan bilamana pemeriksaan dan persetujuannya diperlukan.


September 9, 2017

Manfaat Dibangunnya Jalan Paralel Kalimantan


Manfaat utama dibangunnya Jalan Paralel Kalimantan adalah sebagai Sarana Pemersatu Bangsa, dan dapat menunjukkan wajah dan identitas diri Bangsa Idonesia sebenarnya kepada negara tetangga.
   
Peta Rencana Jalan Paralel Kalimantan

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel. 

Wilayah Kalimantan menjadi salah satu kawasan prioritas yang dikembangkan pemerintah untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2020 mendatang sebesar 5,4-6,1%. 
Maklum, sebaran penyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didominasi oleh Jawa yang mencakup 58,29% dari total, kemudian disusul Sumatera 22,21%, Kalimantan 8,15%, Sulawesi 5,92%, Bali dan Nusa Tenggara 3,06%, Papua 1,85% dan Maluku 0,52%.

Ruas Jalan Nanga Badau Lanjak, Timbunan Pilihan, Foto Harsa Tete

Salah satu agenda pembangunan prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kalimantan adalah menuntaskan pekerjaan jalan paralel perbatasan yang dibangun sejajar dengan garis perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan, di mulai dari Barat (Kalbar) sampai ke Timur (Kaltara)

Selama dua tahun terakhir, atau sejak 2015 hingga 2017, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Raktar (PUPR) telah membangun, dan membuka jalan perbatasan Kalimantan.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tentang rencana pengembangan wilayah Kalimantan, seperti dikutip detikFinance di Jakarta, Selasa (16/5/2017), pembangunan jalan paralel perbatasan Kalimantan membutuhkan dana sebesar Rp 3,02 triliun. 

Ruas Jalan Nanga Badau Lanjak, Pekerjaan LPB, Foto Harsa Tete

Dari total 849,76 kilometer (km) jalan paralel perbatasan di Kalbar, hingga akhir 2017 diproyeksikan ada sepanjang 742,4 km yang sudah dibuka jalurnya. Sehingga sisanya sekitar 107,3 km yang belum dibuka, ditarget sudah bisa dibuka 100% dan fungsional pada 2018 mendatang.

Adapun kondisi saat ini, jalan paralel perbatasan yang telah dilapisi tanah sudah mencapai 323,57 km, sementara 490,52 km sisanya baru berbentuk agregat atau berupa tanah dan batu. 
Sama seperti membangun jalan Trans Papua, pembangunan jalan paralel perbatasan ini melibatkan pihak TNI Angkatan Darat (AD) untuk bisa membuka jalan.

Ruas Jalan Nanga Badau Lanjak, Pekerjaan LPB, Foto Harsa Tete

Kementerian PUPR menargetkan dari 849,76 km jalan paralel perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan Barat (Kalbar), sepanjang 359,25 km (42%) bakal teraspal pada tahun 2019, sementara sisanya 490,52 km lagi (58%) akan dilakukan pengaspalan secara bertahap.
Warga di daerah perbatasan sangat membutuhkan akses jalan supaya kegiatan ekonomi berjalan lancar. Adanya infrastruktur dasar seperti ini diyakini akan membuka potensi investasi untuk tumbuh, sehingga meningkatkan pendapatan daerah. (dna/dna)

Lingkup Jalan Paralel Kalimantan

Proyek pembangunan jalan paralel tersebut, melingkupi pekerjaan jalan paralel perbatasan Kalbar sepanjang 849,76 kilometer (km) yang terbagi dalam 12 koridor ruas. Koridor-koridor tersebut yaitu Temajuk-Aruk (90 km), Aruk-Seluas (78 km), Seluas-Entikong (84 km), Entikong-Rasau (99 km), Rasau-Sepulau-Sintang (99 km), Sintang-Nanga Badau (43 km). Kemudian Nanga Badau-Lanjak (46 km), Lanjak–Mataso (26 kilometer), Mataso-Tanjung Kerja (56 km), Tanjung Kerja-Putussibau (37,84 km), Putussibau-Nanga Era (37 km), Nanga Era-Batas Kalimantan Timur (158 km).

Manfaat dibangunnya Jalan Paralel :

  1. Sebagai sarana pemersatu bangsa, dengan dibangunnya jalan paralel perbatasan kalimantan,ada konektivitas antar kampung, kecamatan, kabupaten dan antara provinsi di perbatasan kalimantan
  2. Membuat wilayah atau Beranda terdepat lebih berkembang, sehingga dapat menunjukkan wajah dan identitas diri Bangsa Idonesia sebenarnya kepada negara tetangga.
  3. Bagi Masyarakat perbatasan, jalan paralel yang menghubungkan wilayah di sisi Timur, Tengah dan Barat yang selama ini terputus-putus. dapat menggerakkan arus pergerakan barang dan jasa, yang dulunya menggunakan jalur sungai dan udara kini bisa dilakukan melalui jalur darat yang biayanya lebih murah.
  4. Sebagai sarana dan garda terdepan menjaga kedaulatan bangsa, dibangunnya jalan paralel memudahkan pengawasan terhadap patok-patok perbatasan antar kedua negara
  5. Menciptakan pusat kawasan ekonomi baru, Tentunya guna menggerakkan ekonomi daerah pinggiran di Pulau Kalimantan

Perkebangan Pembangunan Jalan Paralel Kalimantan :

Progres pembangunan jalan paralel perbatasan Kalimantan dari Temajuk -  Batas Kalimantan Timur (Kaltim) dengan total panjang 849,76 km, pada akhir 2016 telah tembus dengan kondisi aspal sepanjang 289,3 km, tembus dengan kondisi agregat perkerasan tanah sepanjang 371,85 km dan sisanya 188,61 km belum tersambung.  

Metode Pelaksanaan Pasangan Batu


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pasangan Batu

Pasangan batu biasa digunakan pada talud penahan jalan, Opret Jembatandan pada lokasi tertentu yang mebutuhkan penanganan dengan menggunakan talud atau dinding penahan.

Pekerjaan ini meliputi pemasokan semua bahan, galian, penyiapan pondasi dan seluruh pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan struktur sesuai dengan Spesifikasi ini dan memenuhi garis, ketinggian, potongan dan dimensi seperti yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan.

Berikut Tahapan Pelaksanaan pekerjaan Pasangan Batu tersebut :
  1. Pondasi untuk struktur pasangan batu harus disiapkan sesuai dengan syarat untuk Galian.
  2. Terkecuali disyaratkan lain atau ditunjukkan pada Gambar, dasar pondasi untuk struktur dinding penahan harus tegak lurus, atau bertangga yang juga tegak lurus terhadap muka dari dinding. Untuk struktur lain, dasar pondasi harus mendatar atau bertangga yang juga horisontal.
  3. Lapis landasan yang rembes air (permeable) dan kantung penyaring harus disediakan bilamana disyaratkan sesuai dengan ketentuan dalam Drainase Porous.
  4. Bilamana ditunjukkan dalam Gambar, atau yang diminta lain oleh Direksi Pekerjaan, suatu pondasi beton mungkin diperlukan. Beton yang digunakan harus memenuhi ketentuan.
  5. Landasan dari adukan baru paling sedikit 3 cm tebalnya harus dipasang pada pondasi yang disiapkan sesaat sebelum penempatan masing-masing batu pada lapisan pertama. Batu besar pilihan harus digunakan untuk lapis dasar dan pada sudut-sudut. Perhatian harus diberikan untuk menghindarkan pengelompokkan batu yang berukuran sama.
  6. Batu harus dipasang dengan muka yang terpanjang mendatar dan muka yang tampak harus dipasang sejajar dengan muka dinding dari batu yang terpasang.
  7. Batu harus ditangani sedemikian hingga tidak menggeser atau memindahkan batu yang telah terpasang. Peralatan yang cocok harus disediakan untuk memasang batu yang lebih besar dari ukuran yang dapat ditangani oleh dua orang. Menggelindingkan atau menggulingkan batu pada pekejaan yang baru dipasang tidak diperkenankan.
  8. Sebelum pemasangan, batu harus dibersihkan dan dibasahi sampai merata dan dalam waktu yang cukup untuk memungkinkan penyerapan air mendekati titik jenuh. Landasan yang akan menerima setiap batu juga harus dibasahi dan selanjutnya landasan dari adukan harus disebar pada sisi batu yang bersebelahan dengan batu yang akan dipasang.
  9. Tebal dari landasan adukan harus pada rentang antara 2 cm sampai 5 cm dan merupakan kebutuhan minimum untuk menjamin bahwa seluruh rongga antara batu yang dipasang terisi penuh.
  10. Banyaknya adukan untuk landasan yang ditempatkan pada suatu waktu haruslah dibatasi sehingga batu hanya dipasang pada adukan baru yang belum mengeras. Bilamana  batu menjadi longgar atau lepas setelah adukan mencapai pengerasan awal, maka batu tersebut harus dibongkar, dan adukannya dibersihkan dan batu tersebut dipasang lagi dengan adukan yang baru.
  11. Dinding dari pasangan batu harus dilengkapi dengan lubang sulingan. Kecuali ditunjukkan lain pada Gambar atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, lubang sulingan harus ditempatkan dengan jarak antara tidak lebih dari 2 m dari sumbu satu ke sumbu lainnya dan harus berdiameter 50 mm.
  12. Pada struktur panjang yang menerus seperti dinding penahan tanah, maka delatasi harus dibentuk untuk panjang struktur tidak lebih dari 20 m. Delatasi harus 30 mm lebarnya dan harus diteruskan sampai seluruh tinggi dinding. Batu yang digunakan untuk pembentukan sambungan harus dipilih sedemikian rupa sehingga membentuk sambungan tegak yang bersih dengan dimensi yang disyaratkan di atas.
  13. Timbunan di belakang delatasi haruslah dari bahan Drainase Porous berbutir kasar dengan gradasi menerus yang dipilih sedemikian hingga tanah yang ditahan tidak dapat hanyut jika melewatinya, juga bahan Drainase Porous tidak hanyut melewati sambungan.
  14. Sambungan antar batu pada permukaan harus dikerjakan hampir rata dengan permukaan pekerjaan, tetapi tidak sampai menutup batu, sebagaimana pekerjaan dilaksanakan.
  15. Terkecuali disyaratkan lain, permukaan horisontal dari seluruh pasangan batu harus dikerjakan dengan tambahan adukan tahan cuaca setebal 2 cm, dan dikerjakan sampai permukaan tersebut rata, mempunyai lereng melintang yang dapat menjamin pengaliran air hujan, dan sudut yang dibulatkan. Lapisan tahan cuaca tersebut harus dimasukkan ke dalam dimensi struktur yang disyaratkan.
  16. Segera setelah batu ditempatkan, dan sewaktu adukan masih baru, seluruh permukaan batu harus dibersihkan dari bekas adukan.
  17. Permukaan yang telah selesai harus dirawat seperti yang disyaratkan untuk Pekerjaan Beton.
  18. Bilamana pekerjaan pasangan batu yang dihasilkan cukup kuat, dan dalam waktu yang tidak lebih dini dari 14 hari setelah pekerjaan pasangan selesai dikerjakan, penimbunan kembali harus dilaksanakan seperti disyaratkan, atau seperti diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, sesuai dengan ketentuan yang berkaitan dengan Timbunan, atau Drainase Porous.
  19. Lereng yang bersebelahan dengan bahu jalan harus dipangkas dan untuk memperoleh bidang antar muka rapat dan halus dengan pasangan batu sehingga akan memberikan drainase yang lancar dan mencegah gerusan pada tepi pekerjaan pasangan batu.

Setelah selesai pekerjaan tersebut kemudian diadakan pengukuran mutual check bersama. Hasil pengukuran mutual check bersama dituangkan dalam gambar dan ditanda tangani bersama.

Perhitungan volume dan pembayaran untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut diatas, diperhitungkan dalam satuan M3. 

September 8, 2017

Metode Pelaksanaan Perletakan Elastomerik Alam Pada Jembatan


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Perletakan Elastomerik Alam atau Bantalan Jembatan

Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads adalah salah satu dari jenis tumpuan jembatan (bearing bridge ) yang sangat simple,ekonomis dan mudah instalasinya ( pemasangannya ) dibandingkan dari berbagai Jenis Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads lainnya.
Letak Pemasangan Elastomerik Alam Pada Jembatan
Produk Elastomerik Alam
Jenis tumpuan ( bearing ) ini paling banyak digunakan pada konstruksi jembatan dibandingkan jenis lainnya. Sedangkan Fungsi Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads hampir sama dengan jenis tumpuan yang lainnya.

Desain yang simple, ekonomis, tidak korosi,mudah di instalasi dan perawatannya yang mudah/murah menjadi pertimbangan tersendiri untuk pemilihan jenis tumpuan ini. Di Indonesia jenis tumpuan ini sudah sangat dikenal oleh para konsultan maupun kontraktor jembatan. Departemen Pekerjaan Umum bekerja sama dengan BSN telah mengatur SNI Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads dengan dikeluarkannya SNI 3967 : 2008 yang mengatur Spesifikasi bantalan elastomer tipe polos dan tipe berlapis untuk perletakan jembatan. SNI ini mengadopsi dari Standard International : AASHTO M 251-06, Standard spesicifcation for plain and laminated elastomeric bridge bearings

Elastomeric yang akan dipasang harus dilakukan pengujian oleh laboratorium independent baik pengujian secara kekanis maupun pengujian bahan dan memenuhi ketentuan yang tercantum dalam SNI 3967-2008 dengan ketentuan jumlah benda uji.

Ada 2 Type Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads :
1. Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads type polos
2. Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads type berlapis

Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads type polos :
Merupakan Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads yang dibuat dari material ( Bahan Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads ) karet alam ( natural rubber ) maupun Karet Sintetis ( seperti Neoprene) tanpa di insert /disisipkan lembaran pelat baja tipis ( biasanya tebal 3 mm ) didalamnya. Tumpuan jenis ini biasanya dipakai pada jembatan dengan tingkat pembebanan rendah.

Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads type berlapis :
Merupakan Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads yang dibuat dari bahan ( Bahan Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads ) karet alam ( natural rubber ) maupun Karet Sintetis ( seperti Neoprene) yang didalamnya di insert /disisipkan lembaran pelat baja tipis ( biasanya tebal 3 mm). Tumpuan jenis ini biasanya dipakai pada jembatan dengan tingkat pembebanan yang lebih tinggi. Adanya lembaran-lembaran pelat baja tipis ( minimal 3 lembar ) yang ada didalamnya dapat mencegah terjadinya penggembungan ( bulging ).

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Perletakan Elastomerik Alam tersebut sebagai berikut :

  1. Perletakan harus ditandai dengan jelas tentang jenis dan tempat pemasangan pada saat tiba ditempat kerja. Alat – alat pengamanan yang cocok harus disediakan sebagaimana diperlukan. Alat – alat penjepit sementara harus digunakan untuk menjaga orientasi bagian-bagian dengan tepat.
  2. Peralatan yang digunakan adalah : Concrate Mixer dan alat bantu

Landasan Perletakan
Pemilihan bahan landasan harus berdasarkan cara pemasangan perletakan, ukuran celah yang akan diisi, kekuatan yang diperlukan dan waktu pengerasan (setting time) yang diperlukan. Dalam pemilihan bahan landasan, maka faktor-faktor berikut harus diper-timbangkan : jenis perletakan; ukuran peletakan; pembebanan pada perletakan; urutan dan waktu pelaksanaan; pembebanan dini; ketentuan geser (friction); pengaturan dowel; ruangan untuk mencapai perletakan; tebal bahan yang diperlukan; rancangan dan kondisi permukaan pada lokasi perletakan; penyusutan bahan landasan.

Komposisi dan kelecakan (workability) bahan landasan harus dirancang berdasarkan pengujian dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas. Dalam beberapa hal, mung-kin perlu melakukan percobaan untuk memastikan bahan yang paling cocok. Bahan yang umum digunakan adalah adukan semen atau resin kimiawi, adukan encer (grout) dan kemasan kering. Penggunaan bahan seperti timbal, yang cenderung meleleh di bawah tekanan beban, meninggalkan bintik-bintik besar, harus dihindarkan.

Untuk menjamin agar pembebanan yang merata pada perletakan dan struktur penyangga, maka perlu digarisbawahi bahwa adalah setiap bahan landasan, baik di atas maupun di bawah perletakan, harus diperluas ke seluruh daerah perletakan.

Penyetelan Perletakan 
Perletakan elastomer dapat diletakkan langsung pada beton, asalkan berada dalam tole-ransi yang disyaratkan untuk kedataran dan kerataan. Sebagai alternatif, perletakan tersebut harus diletakkan pada suatu lapisan bahan landasan

Perletakan yang menunjang lantai beton cor langsung di tempat
Bilamana perletakan dipasang sebelum pengecoran langsung lantai beton, maka acuan sekitar perletakan harus ditutup dengan rapi untuk mencegah kebocoran adukan encer. Perletakan, terutama permukaan bidang kontak, harus dilindungi sepenuhnya selama operasi pengecoran. Pelat geser harus ditunjang sepenuhnya dan perhatian khusus  harus diberikan untuk mencegah pergeseran, pemindahan atau distorsi perletakan akibat beban beton yang masih basah di atas perletakan. Setiap adukan semen yang mengotori per-letakan harus dibuang sampai bersih sebelum mengeras.

Perletakan Yang Menyangga Unit-unit Beton Pracetak atau Baja
Suatu lapisan tipis adukan resin sistesis harus ditempatkan antara perletakan dan balok. Sebagai alternatif, perletakan dengan pelat perletakan sisi luar dapat dibaut pada pelat jangkar, pada soket yang tertanam dalam elemen pracetak, atau pada pelat tunggal yang dibuat dengan mesin di atas elemen baja.



September 6, 2017

Metode Pemasangan jembatan Rangka Baja


Penggunaan Metode Semi kantilever dalam pemasangan Jembatan Rangka Baja

Salah satu metode yang digunakan untuk pemasangan jembatan rangka baja adalah dengan sistem Semi kantilever, Semi Kantilever adalah suatu sistem perakitan jembatan rangka baja yang dilakukan tanpa alat penyangga/perancah tetapi merupakan sistem pemasangan komponen per komponen yang dipasang setempat secara bertahap mulai dari abutment atau pilar hingga posisi  akhir (abutment atau pilar berikutnya) dengan cara penambahan dan pemasangan masing-masing komponen pada sebagian bentang yang  telah dipasang sebelumnya, hingga membentuk kantilever yang bergerak segmen demi segmen menuju ke perletakan jembatan berikutnya.


Pemasangan sistem kantilever ini bersifat statis dan membutuhkan bentang pemberat dan rangka penghubung. Berikut tahapan-tahapan Pelaksanaannya :

a. Tempat Perakitan
Panjang bagian belakang abutment yang dibutuhkan untuk memasang konstruksi baja adalah sepanjang bentang pemberat ditambah daerah bebas untuk jalan kerja, misalnya panjang bentang pemberat ditambah ± 10 m.
Lebar yang dibutuhkan untuk masing-masing keadaan ± 10 m untuk bentang pemberat ditambah 5 m untuk jalan kerja. Sebagai tambahan dibutuhkan juga tempat untuk menumpukan komponen baja dan sebagainya.

b. Perletakan Penumpu Sementara
Penumpu sementara yang akan digunakan disediakan oleh kontraktor pelaksana atau erektor. Ganjal kayu yang kuat harus dipasang dibawah masing-masing titik tumpuan pada abutment atau pilar untuk menumpu bagian pangkal dari bentang kantilever selama pemasangan. Persyaratan kayu penumpu ini harus mengikuti pokok bahasan Area Perakitan dan Pekerjaan Persiapan, butir d.

Pada embankment yang terdekat dengan level akhir, maka sebaiknya untuk pemasangan bentang pertama berkisar ± 1.50 m di atas level akhir. Dengan demikian akan sangat berguna jika terjadi lendutan di bagian bawah ujung kantilever.

c. Tumpuan Bentang Pemberat
Ujung belakang bentang pemberat harus ditumpu dengan ganjal kayu atau landasan beton yang dirancang sesuai dengan kondisi tanah yang ada dan secara umum pelaksanaannya harus sepenuhnya sesuai dengan Pokok Bahasan Bentang Pemberat.

d. Bentang Pemberat dan Perangkat Penghubung
Bentang pemberat adalah suatu bentang rangka standard yang berguna  untuk manahan berat sendiri komponen rangka baja yang sedang dirakit di atas sungai sehingga dengan pengimbang beban lawan yang berada di tempat yang disediakan pada bentang pemberat (biasa terletak di pangkal bentang), bentuk kantilever yang terjadi di atas sungai tetap stabil (momen guling terjadi ditahan oleh beban lawan). Bentang pemberat dihubungkan dengan bentang permanen yang sedang dirakit melalui rangka penghubung/linking steel. Bentang pemberat dan rangka penghubung disediakan oleh kontraktor pelaksana atau erector.

Penambahan beban lawan untuk mengimbangi momen guling dari bentang kantilever, menyesuaikan terhadap kemajuan panjang bentang permanen yang sedang dirakit.

e. Perakitan
Secara umumnya perakitan dilaksanankan seperti dijelaskan pada sub bahasan 1 di atas. Bila komponen-komponen telah duduk (terpasang) pada pelat buhul, komponen tersebut harus ditempatkan dengan tepat dan harus ditahan dengan pasak (drift) yang ada agar semua komponen terpasang dengan tepat sebelum dibautkan. 

Sistem perakitan ini telah direncanakn dengan langkah-langkah yang mudah dan dimulai dengan perakitan bentang pemberat di atas tanah pada area oprit hingga selesai.
Adapun urutan-urutan perakitan adalah sebagai berikut :

Langkah 1.
Sebagai dasar perakitan statis awal adalah pembuatan satu rangkaian bentuk frame segitiga awal/pertama tepat setelah susunan rangka penghubung, tentunya dapat dimulai dengan pemasangan batang diagonal (2) pada sambungan/join J1 dimana pelat sambungnya sudah terpasang lebih dahulu. Setelah kelengkapan sambungan sudah terpasang semua pada J1, maka baut dapat segera dimasukan dan diputar dalam kondisi sementara sehingga batang diagonal (2) masih mudah diatur posisinya untuk menunggu dipasangnya batang datar bawah (3) yang dipasangkan dan dibautkan pada J2 lebih dahulu.

Sambung dan pasang baut batang (2) dan (3) pada sambungan J3 dengan dilengkapi keperluan plat sambung dan kelengkapannya (missal jika diperlukan plat sisipan dan lain-lain). Setelah terbentuk frame segitiga pada posisi yang benar maka lengkapi semua baut pada tiap-tiap sambungan dan dapat dikencangkan sepenuhnya sehingga terbentuklah “segitiga awal” (segitiga, J1 J2 J3) sebagai segitiga pijakan awal untuk perakitan selanjutnya. Pembentukan segitiga ini harus dua sisi bersama-sama agar setelah disusul dengan pemasangan girder melintang dari J3 akan membentuk kantilever sebagai pegangan untuk perakitan komponen demi komponen berikutnya. Pasang pengikat sementara batang bawah dan baut pada tempatnya, dimana pembautan ini juga bersifat sementara, kemudian pasang gelagar melintang atas ujung (5) pada J1 (dua sisi).

Langkah 2.
Pasang batang datar tepi atas pada pelat-pelat buhul dan pelat penyambung bagian bawah pada titik sambungan/join J1 yang telah selesai sebelumnya. Sisipkan pelat penyambung atas dan pelat pengisi bagian dalam (jika diperlukan). Setelah join J1 terpasang, pelat penyambung badan dan pengisi badan dan dalam keadaan pembautan penuh (baut dikencangkan sepenuh-penuhnya).

Langkah 3.
Rakit dan pasang dua batang diagonal (2) berikut pelat penyambung buhul termasuk pelat penyambung batang diagonal yang sudah ditandai bersama-sama sehingga membentuk rakitan ^ (V terbalik). Angkat dalam keadaan tegak dan sisipkan ujung bawahnya (dari bentuk ^) diantara pelat buhul batang bawah pada sambungan J3. Sisipkan pelat pengisi sanyap dan pelat penyambung ke bagian bawah jalur diagonal, lalu dikunci dengan kunci pas ujung lancip dan sisipkan agar pelat buhul atas bisa pas dengan batang atas (1) pada sambungan J4. Pasang pelat penyambung sayap bawah dan bagian dalam dan bagian luar pelat pengisi pada J3 dan pasang bagian baut-baut pada J4 dan J5 (yaitu setengah ke bawah).

Langkah 4.
Pasang batang  datar tepi bawah (3), masukan diantara pelat buhul pada bagian pertemuan J3 yang telah selesai sebagian. Pasang pelat pengisi jika dijelaskan pada Gambar Erection Jembatan dan pelat penyambung atas selesai (J4) setelah pemasangan pelat penghubung badan bagian atas dan pelat penyambung badan yang ada dan baut seluruhnya pada pertemuan J4.
Pada ujung depan dari batang datar bawah, pasang pelat buhul luar dan pelat penyambung bawah secara bersamaan dengan pengisi yang ditentukan, bautkan pada batang datar bawah  dan batang diagonal pada sambungan/join (J5).

Langkah 5.
Pasang ikatan angin batang atas dan hubungksn pada pertemuan di J1 dan J4 saling menyilang.
Jalan kerja dari kayu dapat dipasang pada gelagar melintang batang atas (5) dan rangka pengangkat dipindahkan satu panel berikutnya dipasang dan diikat kembali.

Langkah  6.
Ulangi langkah ke (1). Pasangkan batang penghubung atas berikutnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya  dan selesaikan titik hubung J3.

Langkah 7.
Ulangi langkah ke (2) dan lanjutkan tahapan perakitan seperti sebelumnya.
“Penting sekali bahwa seluruh baut harus dikencangkan penuh setelah semua komponen pada suatu titik pertemuan terpasang”.

g. Pengikat Sementara Pada Bagian Bawah.
Pasa saat pemasangan kantilever, pengikat silang sementara harus dipasang pada bagian bawah batang di setiap ujung batang yang disesuaikan jalurnya, pengikat silang sementara ini dibutuhkan untuk mengurangi lendutan lateral pada kantilever akibat beban angin dan untuk mengikat batang bagian bawah (dalam tekanan) untuk mengimbangi pengait.

Pengikat ini harus dilepas setelah konstruksi selesai dan bentang telah menopang keempat sudutnya. Penopang tidak dapat dipasang sebelum pengikat sementara dilepas.

h. Pengangkutan dan Pengangkatan
Pengangkatan dan pengangkutan komponen-komponen dari tempat penumpukan ke tempat pemasangan (penyambungan) perlu dilakukan selama proses pemasangan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai macam sarana atau metode tergantung dari keadaan lokasi. Metode-metode yang digunakan bisa berbagai alternatif antara lain :
  • Melalui jembatan lama dengan menggunakan crane kecil.
  • Kabel-kabel yang digantung diantara kedua abutment dibawah jembatan.
  • Menggeser komponen di atas alas kayu melalui bagian konstruksi baja yang sudah selesai. Disarankan untuk mencengah kerusakan komponen, sebaiknya digunakan rol.  

Sebaiknya digunakan dua rangka pengangkat sederhana yang terbuat dari profil baja ringan dan dipasang pada kedua batang paling atas dengan membautnya melalui lubang drainase atau baut pada pelat badan. Penggunaan rangka pengangkat ini bersama-sama dengan katrol rantai atau katrol tangan, menjamin kemudahan pengoperasian dan alat ini dapat dipindah-pindah sepanjang bentang selama berlangsungnya pemasangan jembatan.

i. Lendutan Kantilever dan Pembatasan Badan
Rangka jembatan akan melendut secara elastis sebagai akibat adanya kantilever dan bentang pemberat juga akan melendut dan akan menambah besar lendutan pada bagian ujung bentang yang sedang dikerjakan.

Seperti dijelaskan pada sub bahasan 3 di atas, lawan lendut pada bentang rangka terbentuk sebagai bentuk pabrikasi pelat buhul batang atas dan batang bawah dan tidak diperlukan tindakan khusus atau penyesuaian-penyesuaian selama pelaksanaan system kantilever ini.

Yang perlu diperhatikan adalah, perakitan baja ditempatkan pada level yang ditentukan untuk mengantisipasi lendutan hingga bagian ujung kantilever berada diatas bagian abutment dan pilar.
Untuk menentukan ketinggian dari penyangga dengan ganjalan kayu disetiap ujungnya dimana bentang menumpu pada salah satu atau kedua ujungnya di pilar, maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
  • Geometri dari tempat pabrikasi bentang pemberat, bentang terkantilever dan rangka penghubung;
  • Lendutan elastis dari ujung kentilever dan;
  • Ketinggian relatif dari ketiga pilar atau abutment  pada alur jembatan tidak dimungkinkan untuk menentukan tinggi rata-rata untuk setiap kombinasi bentang karena level pilar dan abutment relatif bervariasi disetiap lokasi dan ditentukan kemudian dengan alinyemen vertical jalan yang dibutuhkan.

j. Baja Penopang (stringer) dan Pelat Lantai Baja.
Sebelum rangka jembatan selesai terpasang (sebaiknya didongkrak turun lebih dahulu) batang penopang dan panel lantai profil baja tidak dapat dipasang. Lepaskan pengikat sementara batang bagian bawah bagian sebelum pemasangan batang penopang dan dudukan.

Sistem lain selain system kantilever dipasang setempat yang dapat digunakan adalah system kantilever yang ditumpu ditengah bentang sehingga mengurangi sifat pangkantileveran dan mengurangi bentang pemberat dan beban lawan. Dalam hal ini, penopang bagian tengah harus sebagai titik berat bentang . Metode ini biasa dipakai khususnya untuk jembatan rangka bentang panjang

Dengan pertimbangan jumlah bentang, kedalaman sungai penyedia mempertimbangkan metode kantilever dan untuk digunakan melaksankan pekerjaan erection jembatan.


Baca Juga Artikel Terkait :



September 5, 2017

Syarat-Syarat Umum Pelelangan


Syarat-Syarat Umum Pelelangan Pada tender-tender proyek pemerintah

Jika kita ingin mengikuti pelelngan tentunya, Unit layanan Pengadaan mewajibkan kita untuk memenuhi syarat-syarat umum seperti dibawah ini, Syarat umum pelelangan itu biasanya meliputi :
Ijin Usaha :

SBU  (Sertifikat Badan Usaha)
UIJK yang masih berlaku.
SIUP yang masih berlaku.
TDP yang masih berlaku.
SITU/HO yang masih berlaku.


Syarat Lainya :
  1. Telah melunasi kewajiban pajak tahun terakhir
  2. Memiliki NPWP dan SPPKP (Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak), telah memenuhi kewajiban perpajakan terakhir (SPT Tahunan) tahun 2015,Peserta dapat mengganti persyaratan ini dengan menyampaikan Surat Keterangan Fiskal (SKF) yang dikeluarkan oleh Kantor Pelayanan Pajak dengan tanggal penerbitan paling lama 1 (satu) bulan sebelum tanggal mulai pemasukan Dokumen Kualifikasi.
  3. Membuat pernyataan tertulis bahwa : salah satu dan/atau semua pengurus dan badan usahanya tidak masuk dalam Daftar Hitam.
  4. Memiliki Sertifikat BPJS Ketenagakerjaan (Sertifikat, bukti setoran/iuran).
  5. Memiliki Akta Pendirian Perusahaan dan Perubahannya bila ada, dan untuk Badan Usaha berbadan Hukum telah terdaftar dan teregistrasi di Kementrian Hukum dan HAM RI.
  6. Memenuhi Sisa Kemampuan Paket (SKP).
  7. Memperoleh paling sedikit 1 (satu) pekerjaan sebagai penyedia Jasa Pelaksanaan Konstruksi dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta termasuk pengalaman subkontrak, kecuali bagi penyedia usaha kecil yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun.
  8. Memiliki pengalaman pada subbidang Pelaksanaan Konstruksi Jalan Raya (memiliki lingkup yang sejenis dengan yang dilelangkan dan/atau setara dengan Jalan Nasional/Provinsi/Kabupaten)dengan Kemampuan Dasar (KD) sebesar minimal sama dengan Nilai HPS (untuk usaha non-kecil); yang di Buktikan dengan Kontrak dan PHO dan/atau FHO (jika sudah berakhir masa pemeliharaannya), diharapkan melampirkan/unggah SCAN ASLI (untuk pengalaman pekerjaan yang sudah selesai, tanggal PHO terhitung sejak selambat-lambatnya Batas Akhir Pemasukan Penawaran.
  9. Memiliki surat keterangan dukungan keuangan dari bank pemerintah/swasta untuk mengikuti pengadaan pelelangan tersebut sebesar paling kurang 10% (sepuluh perseratus) dari nilai Paket (HPS), akan dilakukan konfirmasi Faktual secara resmi terhadap Dukungan Bank tersebut kepada Bank penerbit, sehingga tidak hanya sebagai kelengkapan surat penawaran/memenuhi persyaratan Administrasi Pelelangan belaka akan tetapi merupakan Dukungan Keuangan Riil dari Bank tanpa syarat-syarat (hasil konfirmasi Faktual Dapat Menggugurkan Penawaran, jika hanya sebagai kelengkapan Administrasi saja atau bersyarat).
  10. Memperoleh paling sedikit 1 (satu) pekerjaan sebagai penyedia Jasa Pelaksanaan Konstruksi dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta termasuk pengalaman subkontrak, kecuali bagi penyedia usaha kecil yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun.
  11. Memiliki dan menyampaikan Sertifikat Manajemen Mutu perusahaan (SNI/ISO 9001:2008), dan Sertifikat Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) (OHSAS 18001:2007).
  12. Untuk peserta yang melakukan Kemitraan/KerjaSama Operasi (KSO) formulir kualifikasi dan Pakta Integritas ditandatangani oleh seluruh anggota KSO, kecuali leadfirm cukup mengisi data kualifikasi pada Data Isian Kualifikasi melalui SPSE; (hanya dicantumkan apabila membolehkan KSO).
  13. Memiliki Tenaga Teknis dengan Kualifikasi keahlian sesuai dengan yang tertuang dalam Dokumen Pengadaan (LDP dan LDK).
  14. Memiliki Kemampuan untuk menyediakan Peralatan sesuai dengan yang tertuang dalam Dokumen Pengadaan (LDP dan LDK).
  15. Menyampaikan Pekerjaan yang sedang dilaksanakan (jika ada).
  16. Dalam hal proses pemilihan Penyedia Jasa dilaksanakan mendahului pengesahan DPA dan alokasi anggaran dalam DPA tidak disetujui atau ditetapkan kurang dari nilai Pengadaan Barang/Jasa yang diadakan, maka proses pemilihan Penyedia Jasa dilanjutkan ke tahap penandatanganan kontrak setelah dilakukan revisi DPA atau proses pemilihan Penyedia Jasa dibatalkan demi Hukum dan peserta tidak dapat menuntut ganti rugi dalam bentuk apapun.


Baca Juga Artikel Terkait :
Kami melayani Jasa sewa Sertifikasi Keahlian (SKA) dan Sertifikat Keterampilan Kerja (SKTK) untuk mengikuti penawaran atau lelang, Kami juga melayani Jasa Pengangkutan untuk seluruh Kalimantan Barat. Serta Kami Menjual Aspal drum Murah, Untuk Harga Aspal Pertamina Rp. 1.375.000,-/Drum dan Aspal Iran 1.350.000,-/Drum, yang berminat silakan hubungi kami hP. 082299279279

Jual aspal Kalimantan Barat

Baca Juga artikel Berikut :