November 25, 2017

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pemasangan Patok Pengarah

Pekerjaan ini meliputi Pengadaan, pengangkutan, dan pemasangan Patok Pengarah / Patok Kilometer/Patok Hektometer
Tahapan Pelaksanaan

  • Membuat shop drawing, metode pelaksanaan dan membuat request Patok Pengarah / Patok Kilometer/Patok Hektometer.
  • Pengadaan Patok Pengarah / Patok Kilometer / Patok Hektometer sesuai shop drawing
  • Pemasangan Patok Pengarah / Patok Kilometer / Patok Hektometer dengan jarak dan jumlah sesuai shop drawing. Semua patok harus dipasang dengan akurat pada lokasi dan ketinggian sedemikian rupa sehingga dapat menjamin bahwa patok tersebut tertanam kuat di tempatnya, terutama selama pengerasan (setting) beton.
  • Semua patok harus diberi satu lapis cat dasar (primer), satu lapis cat bawah permukaan dan satu lapis akhir sebagai lapis permukaan sesuai shopdrawing.


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Marka Jalan

Marka Jalan Termoplastik
Pemasangan Marka jalan sangan penting sekali untuk meningkatakan kenyamanan dan keamanan dalam berkendara, ketika jalan sempit dengan lalulintas padat, keberadaan marka jalan sangan membantu sekali agar pengendara tetap berada dijalunya masing-masing. Manfaat keberadaan marka jalan juga dapat kita rasakan ketika kita berkendara pada ruas satu jalaur dengan dua arah.


Selain itu Ketika hujan deras keberadaan marka jalanlah yang membatu pengendara agar tetap pada jalurnya masing. berikut tahapan-tahapan pelaksanaan pekerjaan marka jalan.:
1. Pengadaan Bahan dan Alat
  • Ajukan persetujuan material sesuai gambar dan speksifikasi.
  • Cek dan amati ulang kesiapan alat.
  • Cat yang digunakan berwarna putih atau kuning seperti dalam gambar dan memenuhi spesifikasi
  • Setelah jenis material yang akan digunakan disetujui secara tertulis, lakukan pengadaan material dengan jumlah sesuai kebutuhan.

2. Permohonan Ijin Design Sesuai Gambar
  • Ajukan gambar shopdrawing sesuai design rencana. 
  • Setelah gambar shopdrawing disetujui secara tertulis, segera lakukan pekerjaan persiapan marka jalan.

3. Pekerjaan Persiapan
  • Sebelum penandaan atau pengecatan dilakukan, pastikan bahwa permukaan perkerasan jalan bersih, kering, dan bebas dari bahan yang berminyak dan debu. 
  • Untuk pembersihan perkerasan dengan marka jalan lama, dilakukan dengan grit blasting (pengausan dengan bahan berbutir halus) agar tidak menghalangi kelekatan lapisan cat baru

4. Pengecatan Marka Jalan
  • Pastikan penandaan marka jalan pada permukaan perkerasan dengan dimensi dan penempatan yang presisi.
  • Pengecatan dilakukan dengan mesin yang mampu menghasilkan suatu lapisan yang rata dan seragam dengan tebal minimum 1,5 mm dan dengan suhu 204 – 218 °C.
  • Taburkan segera Butiran kaca (glass bead) diatas permukaan cat, kadar 450 gram/m2.
  • Lindungi marka yang masih basah dari lalu lintas sampai marka tersebut kering dan bisa untuk dilalui.

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Rambu Jalan Tunggal

Pemasangan Rambu Jalan tunggal/ganda dengan atau tanpa permukaan pemantul engineering grade dilaksanakan pada tititik yang benar-benar membutuhkan rambu atau sesuai dengan disain rencana yang telah ditetapkan. Berikut tahapan-tahapan pelaksanaan pekerjaan tersebut :

Pekerjaan ini meliputi Pengadaan, pengangkutan, dan pemasangan Rambu Jalan Tunggal
Tahapan Pelaksanaan
  • Membuat gambar shop drawing, metode pelaksanaan dan membuat request  Rambu Jalan Tunggal
  • Pengadaan Rambu Jalan Tunggal sesuai gambar shop drawing yang disetujui
  • Plat untuk rambu jalan harus merupakan lembaran rata dari campuran alumunium keras dan harus mempunyai ketebalan minimum 2 mm. Lembaran tersebut harus bebas dari gemuk, dikasarkan permukaannya (dietsa), dinetralisir dan diproses sebelum digunakan sebagai Pelat Rambu Jalan.
  • Kerangka dan pengaku harus merupakan bagian-bagian campuran alumunium alloy yang diekstrusi dari campuran logam. Pelat Rambu Jalan harus diberi tambahan rangka pengaku bila ukuran melebihi 1 meter.
  • Tiang Rambu harus merupakan pipa baja berdiameter dalam minimum 40 mm, digalvanisir dengan proses celupan panas, semua ujung yang terbuka harus diberi tutup untuk mencegah masuknya air.
  • Siapkan bekisting dan galian tanah pondasi untuk tiang rambu jalan tunggal
  • Pemasangan Rambu Jalan Tunggal pada lokasi dan jumlah sesuai dengan shop drawing yang disetujui
  • Apabila Pelat/Tiang Rambu Jalan Tunggal ada yang cacat pengecatannya akibat pemasangan ataupun handling, maka perlu dicat/difinish kembali dengan material cat yang sama seperti semula.


November 24, 2017

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Sandsheet (Latasir Kelas B-SS-B)

Latasir Kelas B (SS-B)
Latasir atau bisa juga kita sebut dengan lapisan tipis aspal apasir biasa digunakan diatas permukaan perkerasan, bisa diatas lapis penetrasi macadam atau di atas permukaan beton. Latasir bisa di produksi secara manual dengan kuali aspalt atau dengan memproduksinya menggunakan Asphalt Mixing Palant (AMP).

Cara pekerjaan sandsheet atau latasir juga bisa manual menggunakan penghampar tenaga kerja atau dengan alat atau finisher, tergantung volume pekerjaannya dan ijin direksi lapangan.

Digunakan sebagai lapis paling atas setebal 2 cm padat. 
Asumsi :
  • Pekerjaan dilakukan secara manual, untuk pengembalian kondisi
  • Lokasi pekerjaan, menyebar disepanjang jalan
  • Kondisi jalan, sedang-baik
  • Jam kerja efektif perhari 7 jam
  • Tebal Padat Rencana 0.02 M 

Factor kehilangan bahan :
  • Batu Fh1 1.20
  • Pasir Fh2 1.10
  • Berat Isi Agregat :
  • Padat BIP 1.82 Ton/M3
  • Lepas BIL 1.55 Ton/M3

Berat Isi Bahan Latasir         D1 = 2.22 Ton/M3
Agregat -1 (5-10 Mm dan 10-15 Mm) D2 = 1.45 Ton/M3
Agregat-2 (0-5 Mm)         D3 = 1.55 Ton/M3
Pasir halus                 D4 = 1.45 Ton/M3

Komposisi Bahan Latasir D1 =2.22 Ton/M3
Agregat -1 (5-10 Mm dan 10-15 Mm) Ag-1 = 13.97 %
Agregat-2 (0-5 Mm)         Ag-2 = 40.76 %
Pasir halus                 Ph     = 31.44 %
Semen                Sm         = 6.99 %
Aspal                As         = 6.84 %

Metode Pelaksanaan :
Agregat + Aspal di panaskan dan diaduk secara manual
Setelah permukaan disiapkan, campuran dihampar secara manual dan dipadatkan.
Pemadatan menggunakan Three Whell Roller.
Selama pemadatan sekelompok pekerja melakukan perapian, sehingga kokoh serta rata permukaannya.

Pemakian Bahan, Alat dan tenaga
Bahan Dalam 1 m3
  • Agregat -1 B1 = 0.0051 M3
  • Agregat – 2 B2 = 0.0140 M3
  • Pasir Halus B3 = 0.0116 M3
  • Filler B4 = 3.7243 Kg
  • Aspal B5 = 3.3410 Kg

Pick Up
Digunakan untuk mengangkut aspal dari base camp ke lokasi pekerjaan, Kapasitas Bak 4 Drum
  • Koefesien Alat Fa = 0.72  Baik Sekali-Sedang
  • Kecepatan Isi         V1 = 30 Km/jam
  • Kecepatan Kosong         V2 = 40 Km/Jam
  • Sikulus Waktu :
  • Waktu isi dan bongkar T1 = 16 menit
  • Waktu tempuh isi         T2 = 6 Menit
  • Waktu tempuh kosong T3 = 4.50 Menit
  • Lain-lain                 T4 = 1 menit
  • Kapasitas Produksi / Jam = 282.11 M2
  • Koefesien alat = 0.0035 jam

Tandem Roller 6-9 Ton
  • Kecepatan rata-rata alat V = 1.50 Km/Jam
  • Lebar efektif b = 1.60 M
  • Jumlah Lintasan n = 6 lintasan
  • Faktor efisiensi alat Fa = 0.68 Baik sekali-Buruk
  • Kapasitas produksi Q = 288 M2
  • Koefesien alat = 0.0035 Jam

Alat bantu :
  • Kayu Bakar
  • Gerobak
  • Pungki
  • Kuali
  • Cangkul
  • Sekop

Tenaga :
Produksi menentukan
Kapasitas produksi 50 M’/hari = 112.50 M2
Kebutuhan tenaga :
Pekerja = ....... Orang
Tukang = ....... Orang
Mandor         = ....... Orang

Tahapan Pelaksanaan :
Kondisi cuaca yang diijinkan untuk bekerja
  • Campuran hanya bisa dihampar bila permukaan yang telah disiapkan keadaan kering dan diperkirakan tidak akan turun hujan.
  • Perbaikan Pada Latasir Yang Tidak Memenuhi Ketentuan
  • Bilamana persyaratan kerataan hasil  hamparan tidak terpenuhi atau bilamana benda uji inti dari lapisan beraspal dalam satu segmen tidak memenuhi persyaratan tebal atau kepadatan sebagaimana ditetapkan dalam spesifikasi ini, maka panjang yang tidak memenuhi syarat supaya dibongkar atau dilapis kembali dengan tebal lapisan nominal minimum yang dipersyaratkan dengan jenis campuran yang sama. Panjang yang tidak memenuhi syarat ditentukan dengan benda uji tambahan sebegaimana diperintahkan oleh Direksi pekerjaan dan selebar satu hamparan.
  • Bila perbaikan telah diperintahkan maka jumlah volume yang diukur untuk pembayaran haruslah volume yang seharusnya dibayar bila pekerjaan aslinya dapat diterima. Tidak ada waktu dan atau pembayaran tambahan yang akan dilakukan untuk pekerjaan atau volume tambahan yang diperlukan untuk perbaikan.

Pengembalian Bentuk Pekerjaan Setelah Pengujian
  • Seluruh lubang uji yang dibuat dengan mengambil benda uji inti (core) atau lainnya agar segera ditutup kembali dengan bahan campuran beraspal oleh Penyedia Jasa dan dipadatkan hingga kepadatan serta kerataan permukaan sesuai dengan toleransi yang diperkenankan dalam Seksi ini.
  • Setelah selesai pekerjaan tersebut kemudian diadakan pengukuran mutual check bersama.
  • Hasil pengukuran mutual check bersama dituangkan dalam gambar dan ditanda tangani bersama.
  • Perhitungan volume dan pembayaran untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut diatas, diperhitungkan dalam satuan M2.



Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pentrasi Macadam (Lapisan Penetrasi Macadam)

Lapisan permukaan Penetrasi Macadam atau Lapen
Lapen biasanya ditempatkan pada lapis antara, atau diatas permukaan pondasi telford atau sebagai perata pada jalan bergelombang.
Digunakan sebagai lapis Antara setebal 5 cm. 
Asumsi :
  • Pekerjaan dilakukan secara manual, untuk pengembalian kondisi
  • Lokasi pekerjaan, menyebar disepanjang jalan
  • Kondisi jalan, sedang-baik
  • Jam kerja efektif perhari 7 jam
  • Tebal Padat Rencana 0.05 M 
  • Factor susut bahan :
  • Agregat         Fh1 = 1.20
  • Aspal Fh2 = 1.05

Berat Isi Bahan
  • Agregat Pokok         D1 = 1.45 Kg/M3
  • Agregat pengunci dan penutup D2 = 1.55 Kg/M3

Metode Pelaksanaan :
  • Permukaan yang akan dilapis disiapkan dan diberi lapis perekat
  • Agregat pokok dihampar dan dipadatkan dengan menggunakan Three Whell Roller, kemudian disiram aspal
  • Agregat pengunci dihampar merata dan mengunci seluruh permukaan dan dipadatkan, setelah kerapatan dan kepadatan memenuhi ketentuan aspal disiramkan merata ke seluruh permukaan
  • Setelah aspal cukup meresap kedalam lapisan, kemudian dihampar pasir penutup untuk menghindari aspal tidak melekat pada kendaraan.

Pemakian Bahan, Alat dan tenaga
Bahan Dalam 1 m3
  • Batu pecah ukuran 3-5 B1 = 1.0345 M3
  • Batu pecah ukuran 2-3 B2 = 0.2839 M3
  • Batu pecah ukuran 1-2 B3 = 0.1290 M3
  • Aspal         B4 = 105.00 Kg

Pick Up
Digunakan untuk mengangkut aspal dari base camp ke lokasi pekerjaan, Kapasitas Bak 1.0345 M3
  • Koefesien Alat        Fa = 0.72  Baik Sekali-Sedang
  • Kecepatan Isi V1 = 30 Km/jam
  • Kecepatan Kosong V2 = 40 Km/Jam
  • Sikulus Waktu :
  • Waktu isi dan bongkar T1 = 16 menit
  • Waktu tempuh isi T2 = 6 Menit
  • Waktu tempuh kosong T3 = 4.50 Menit
  • Lain-lain         T4 = 1 menit
  • Kapasitas Produksi / JamQ1 = 8.98 M3
  • Koefesien alat = 0.1114 jam

Three Whell Roller 
  • Kecepatan rata-rata alat V = 2 Km/Jam
  • Lebar efektif b = 1.60 M
  • Jumlah Lintasan n = 8 lintasan
  • Faktor efisiensi alat Fa = 0.68 Baik sekali-Buruk
  • Kapasitas produksi Q2 = 14.40 M3
  • Koefesien alat = 0.0694 Jam

Alat bantu :
  • Kayu Bakar
  • Gerobak
  • Ember Penampung
  • Pungki
  • Alat penyemprot

Tenaga :
Produksi menentukan
Kapasitas produksi 90 M’/hari = 10.13 M3
Kebutuhan tenaga :
  • Pekerja = 16 Orang
  • Tukang = 2.0 Orang
  • Mandor = 1.0 Orang

Koefesien Tenaga / M2 :
  • Pekerja = 11.0560 Jam
  • Tukang =   1.3820 Jam
  • Mandor =   0.0691 Jam

Tahapan Pelaksanaan :
  • Penghamparan dan Pemadatan Agregat Pokok.
  • Jumlah agregat yang ditebar di atas permukan yang telah disiapkan harus sebagaimana yang disyaratkan. Kerataan permukaan dapat diperoleh dengan keterampilan penebaran dan menggunakan perkakas tangan seperti penggaru.
  • Pemadatan harus dilaksanakan seperti yang disyaratakan untuk metode mekanis.
  • Penyemprotan Aspal 
  • Penyemprotan aspal dapat dikerjakan dengan menggunakan penyem-prot tangan (hand sprayer) dengan temperatur aspal yang disyaratkan. Takaran penggunaan aspal harus serata mungkin dan pada takaran penyemprotan yang disetujui. 
  • Penebaran dan Pemadatan Agregat Pengunci
  • Penebaran dan pemadatan agregat pengunci harus dilaksanakan dengan cara yang sama untuk agregat pokok. Takaran penebaran harus sede-mikian hingga, setelah pemadatan, rongga-rongga permukaan dalam agregat pokok terisi dan agregat pokok masih nampak. Pemadatan harus sebagaimana yang disyaratkan untuk metode mekanis.Perhitungan volume dan pembayaran untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut diatas, diperhitungkan dalam satuan M3.


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Telford (Lapis Pondasi Telford)

Lapisan Pondasi Telford
Telford adalah salah satu jenis Pekerasan Lapis Pondasi Bawah yang sudah sering kita kenal dan temui pada ruas-ruas jalan yang di bangun di masa lalu. selain murah pekerjaan ini dapat dikerjakan secara manual oleh tenaga kerja dengan alat yang sederhana pula.

Mengikuti perkebanganan jaman dan melihat beban kendaraan yang meningkat pula strutur pondasi telford ini mulai tidak digunakan lagi dan di ganti dengan perkerasan berbutir atau lapis pondasi agregat dan perkerasan beton (rigid) dengan pertimbangan perkerasan ini mampu untuk mendukung beban-benan kendaraan yang lebih besar dan lalulintas yang semakin padat.

Berikut tahapan-tahapan pelaksanaan pekerjaan pondasi telford: 
Lapisan pondasi telford merupakan lapisan Pondasi, satuan Pembayaran M3
Asumsi :
Pekerjaan dilakukan secara manual, untuk pengembalian kondisi
Lokasi pekerjaan, menyebar disepanjang jalan
Kondisi jalan, sedang-baik
Jam kerja efektif perhari 7 jam
Factor susut bahan
Batu Fk1 1.20
Pasir Fk2 1.25
Tebal Padat:
Batu T1 0.10 M
Pasir T2 0.05 M

Metode Pelaksanaan :

  • Pasir dihampar setebal 5 Cm Padat, Pemadatan dengan cara disiram air
  • Batu ukuran 10/15 disusun berdiri dan dikunci batu 5/7 + 3/4 cm sehingga tersusun rapi, rapat dan kokoh, dipadatkan menggunakan Three Whell Roller.
  • Selama pemadatan sekelompok pekerja melakukan perapian, sehingga susunan batu dalam kondisi rapid an kokoh serta rata permukaannya.

Pemakian Bahan, Alat dan tenaga

  • Bahan Dalam 1 m3
  • Batu pecah ukuran 10-15 = 0.0840 M3
  • Batu pecah ukuran 5-7 cm = 0.0180 M3
  • Pasir Urug         = 0.0630 M3

Alat :

  • Three Whell Roller
  • Kecepatan rata-rata alat V = 1 Km/Jam
  • Lebar efektif b = 1.50 M
  • Jumlah Lintasan n = 8 lintasan
  • Faktor efisiensi alat Fa = 0.68 Baik sekali-Buruk
  • Kapasitas produksi Q = 127.50 M2
  • Koefesien alat = 0.0078 Jam

Alat bantu :

  • Gerobak
  • Pungki
  • Cangkul
  • Sekop

Tenaga 
Produksi menentukan
Kapasitas produksi 40 M’/hari = 100 M2
Kebutuhan tenaga :

  • Pekerja = .... Orang
  • Tukang = .... Orang
  • Mandor         = .... Orang

November 13, 2017

Pengelolaan Keselamatan Kerja Proyek Konstruksi

Tata cara Pengelolaan Keselamatan kerja pada suatu peroyek konstruksi hendaknya mengacu kepada pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja yang telah diatur dalam undang-undang tentang Keselamatan kerja .

Tenaga kerja merupakan sumber daya yang sangat penting bagi terlaksananya pekerjaan konstruksi. Tenaga trampil dan tenaga kerja ahli sangat potensial dalam usaha pencapaian hasil pembangunan yang telah ditetapkan dan berkualitas. Manusia sebagai sumber daya yang mempunyai akal pikiran  dan daya cipta sudah sepatutnya mendapatkan penghargaan yang layak atas jasa tenaganya atau keahliannya sebagai tenaga kerja pembangunan. 

Dalam kaitannya dengan  hal tersebut di atas, maka perlu diperhatikan tentang keselamatan dan kesehatan kerja bagi pelaksana lapangan sebagai berikut : 
1. Pekerja

  • Setiap pekerja harus masuk atau keluar dari lokasi kerja melalui pintu masuk yang telah disediakan, serta memakai kartu identitas.
  • Setiap pekerja wajib menggunakan helmet, sepatu kerja dan pakaian yang layak untuk masuk ke dalam lokasi kerja.

2. Tata Cara Kerja

  • Sebelum bekerja seluruh pekerja dikumpulkan di seksinya masing-masing guna mendapatkan pengarahan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan bidang pekerjaannya masing-masing.
  • Saat bekerja, setiap pekerja tidak diijinkan untuk meninggalkan lokasi pekerjaan atau memasuki area pekerjaan lain tanpa instruksi atau ijin dari mandor / pengawas.
  • Setelah selesai bekerja, pekerja wajib melaporkan hasil pekerjaannya kepada mandor / pengawas sebelum meninggalkan lokasi pekerjaan masing-masing.

3. Lokasi Kerja

  • Setiap mandor / pengawas diwajibkan untuk mengontrol area dimana para pekerjanya berada, perlu dipastikan area tersebut sudah aman sebelum pekerjaan dimulai.
  • Setiap pekerjaan galian atau tempat-tempat terbuka lainnya yang dapat mengakibatkan bahaya jatuh harus diberi pagar pengaman dan rambu-rambu peringatan.
  • Pekerja tidak diijinkan bekerja sama pada suatu tempat (bagi yang bekerja diatas dengan yang di bawah) tanpa adanya pengaman yang baik sesuai dengan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
  • Lokasi pekerjaan harus selalu dalam keadaan bersih dari sampah dan sisa-sisa material yang tidak terpakai lagi.

4. Peralatan Keselamatan Kerja Lainnya
Peralatan keselamatan kerja memiliki berbagai macam jenis, sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Alat-alat yang tercantum di bawah harus selalu digunakan sesuai dengan kebutuhan, antara lain :

  • Alat pelindung diri peroranganSelain alat pelindung diri perorangan yang wajib digunakan oleh setiap karyawan/ pekerja, alat pelindung lainnya dibutuhkan sebagai pelengkap, sesuai dengan jenis pekerjaan, dimana alat ini juga harus digunakan oleh setiap pekerja sesuai dengan kebutuhannya.
  • Peralatan keselamatan untuk umum contoh :Sarana keselamatan untuk umum juga harus diperhatikan, contoh : Pemasangan rambu keselamatan / Papan Peringatan

5. Peralatan Kerja

  • Setiap pekerja harus menjaga alat-alat yang digunakan dalam bekerja dari kerusakan dan kehilangan, serta bertanggung jawab atas penggunaan alat-alat tersebut.
  • Menggunakan alat dalam suatu pekerjaan sesuai dengan kebutuhannya
  • Alat-alat yang sudah tidak digunakan lagi, segera dikembalikan pada tempat di mana alat tersebut dipinjam/ diambil.
  • Alat-alat yang rusak atau hilang dalam pekerjaan, menjadi tanggung jawab pekerja yang menggunakan alat-alat tersebut.

6. Alat Berat

  • Kecepatan maksimum di lokasi proyek adalah 15 km/jam.
  • Setiap alat berat yang akan dioperasikan harus diperiksa terlebih dahulu oleh operator. Pastikan alat tersebut dalam keadaan baik.
  • Alat berat yang beroperasi harus diawasi, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
  • Tidak diperbolehkan memasuki area tempat alat-alat tersebut beroperasi kecuali petugas yang mengoperasikan alat-alat berat tersebut.

7. Mekanik
Mekanik harus segera memperbaiki alat-alat yang digunakan dalam bekerja apabila sudah dilaporkan kerusakannya.
8. Penanggulangan Api
Sekali api menyambar dapat menimbulkan bahaya yang dapat mengancam kehidupan manusia, serta menghanguskan semua peralatan dan material yang ada.
Sebagian besar api disebabkan oleh kecerobohan dan kelalaian manusia itu sendiri. Untuk menghindari api, perhatikan hal-hal berikut :

  • Jangan membawa api ke tempat di mana ada tanda “AWAS API”.
  • Bila bekerja menggunakan api, berhati-hatilah dalam penggunaannya.
  • Menjaga agar jangan terjadi tumpahan minyak di lokasi pekerjaan.
  • Menyediakan pemadam api di tempat-tempat yang diperlukan sesuai dengan jenis alat pemadam api yang dibutuhkan.
  • Jangan memindahkan alat pemadam api tanpa persetujuan resmi serta adakan pengecekan alat pemadam api setiap satu bulan sekali.

9. Kecelakaan Kerja

  • Bila terjadi suatu kecelakaan kerja, baik itu kecil maupun besar, segera laporkan pada mandor/ pelaksana, dan selanjutnya pada petugas keselamatan dan kesehatan kerja guna mendapatkan P3K.
  • Mandor/ pelaksana harus mengetahui serta melaporkan pada petugas keselamatan dan kesehatan kerja sebab-sebab terjadinya kecelakaan tersebut, serta waktu dan tempat kejadian, guna penanggulangan lebih lanjut sesuai prosedur penanganan kecelakaan di lokasi kerja.

10. Keamanan

  • Petugas keamanan wajib melaporkan kegiatan kerja setiap harinya ataupun hal-hal penting lainnya yang menjadi tanggung jawabnya kepada ketua regu jaga, kemudian ketua regu jaga melaporkan kepada petugas K-3.
  • Setiap karyawan wajib melaporkan pada pihak keamanan proyek bila terjadi kehilangan barang proyek, perkelahian, ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan terganggunya kondisi keamanan di lokasi proyek. Selanjutnya, petugas keamanan segera melaksanakan investigasi dan mengkoordinasikannya dengan petugas keselamatan dan kesehatan kerja, serta membuat laporan tertulis pada pimpinan proyek dan pimpinan perusahaan.

11. Sanksi-Sanksi
Bagi pekerja yang tidak mematuhi peraturan-peraturan di atas, pihak kontraktor akan memberikan surat peringatan, dimana bila juga tidak diindahkan, pimpinan proyek akan mengambil tindakan dengan tidak mengizinkan yang bersangkutan untuk berada di daerah proyek.

Maksud dan tujuan pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Pengaturan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja dalam bidang konstruksi dimaksudkan agar kegiatan pekerjaan konstruksi terselenggara melalui terjaminnya keselamatan dan kesehatan kerja baik bagi pelaku kegiatan konstruksi itu sendiri maupun bagi lingkungan sekitar lokasi pekerjaan. 
Pemahaman dan penerapan pengaturan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi para pelaku pekerjaan konstruksi seperti: 
  • Berkurangnya atau malah terhindarkannya kecelakaan kerja pada pelaksanaan pekerjaan; 
  • Terhindarkan terhentinya kegiatan pekerjaan konstruksi sebagai akibat adanya kecelakaan kerja; 
  • Terhindarkan kerugian baik material maupun nyawa manusia akibat timbulnya kecelakaan kerja; dan 
  • Terhindarkan penurunan produktivitas dan daya guna sumber daya sebagai akibat dari adanya kecelakaan kerja.  

Jenis-jenis Alat Pelindung Diri (APD) 
  • Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras selama mengoperasikan atau memelihara AMP. Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin atau melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya. 
  • Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk melindungi mata pada lokasi pekerjaan yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya. 
  • Masker, diperlukan pada medan yang berdebu meskipun ruang operator telah tertutup rapat, masker ini dianjurkan tetap dipakai. 
  • Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan bahan yang keras, misalnya membuka atau mengencangkan baut dan sebagainya. 
  • Alat pelindung telinga, digunakan untuk melindungi telinga dari kebisingan yang ditimbulkan dari pengoperasian peralatan kerja. 

Sistem Manajemen Proyek Konstruksi Jalan dan Jembatan

Sistem Manajemen Proyek Konstruksi Jalan dan Jembatan dikelola dengan baik akan berimbas pada hasil yang baik pula.
Pengaspalan Jalan Nanga Badau-Lanjak

Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan untuk membangun atau mendirikan suatu bangunan atau konstruksi pada lokasi tertentu dengan waktu yang terbatas, tidak berulang, dan hasilnya berupa produk yang dapat dipertanggungjawabkan, dengan melibatkan berbagai sumber daya.
Rangkaian    kegiatan   Sistem Manajemen Mutu tersebut bertujuan  untuk menghasilkan   suatu  bangunan   yang   memenuhi syarat biaya, mutu dan waktu. Sistem manajemen mutu mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives), pelanggan (customers), hasil- hasil  (outputs),  prosesp-proses  (processes), masukan-masukan   (inputs)   pemasok   (suppliers), dan  pengukuran  untuk  umpan-balik  dan  umpan- maju (measurements for feedback and feedforward).
Sistem manajemen mutu terdiri atas empat tingkatan, yaitu :
  • Inspeksi  (Inspection), adalah  mengkaji karekteristik proyek dalam aspek mutu, dalam hubungannya  dengan  suatu  standart  yang ditentukan. Inspeksi akan menentukan baik atau tidaknya proyek berdasarkan mutunya.
  • b.Pengendalian Kualitas (Quality Control – QC), terdiri dari kegiatan pemeriksaan pekerjaan, bersama-sama  dengan  manajemen  dan pendokumentasian bahwa pelaksanaan pekerjaan sudah sesuai dengan persyaratan kontrak dan peraturan-peraturan yang  berlaku  QC merupakan suatu unsur atau bagian dari QA.
  • Jaminan  Kualitas  (Quality  assurance  –  QA), adalah semua perencanaan, metoda dan langkah sistematis yang diperlukan untuk memberi keyakinan  bahwa  semua  perencanaan, perancangan dan pelaksanaan yang dilakukan sudah sesuai dengan standart-standart yang berlaku, serta syarat-syarat yang dispesifikasikan dalam kontrak.
  • "Total   Quality   Management   (TQM),   adalah gabungan dari semua bentuk manajemen kualitas yang  tujuan  utamanya  adalah  memenuhi kepuasan   pelanggan   dengan  menitikberatkan pada peningkatan  berkelanjutan  
  • Tahap   manajemen   setelah   pelaksanaan   proyek adalah  pengendalian.  Ini  berarti  di  dalam Pengendalian mutu pelaksanaan proyek, sebelum proyek selesai, sudah ada proses pengendalian. Sebagai salah satu fungsi dan proses kegiatan dalam manajemen yang sangat mempengaruhi hasil akhir proyek, pengendalian mempunyai tujuan utama meminimalisasi segala penyimpangan yang dapat terjadi selama proses berlangsungnya proyek."

Fungsi pengendalian :
Fungsi pemantauan
Dengan pemantauan yang baik terhadap semua kegiatan  proyek  akan  memaksa unsur-unsur pelaksana untuk bekerja secara cakap dan jujur, dan pemantauan  akan  memotivasi  para  pekerja  atau unsur sumber daya yang ada didalamnya. Sehingga dengan demikian akan mengetahui prestasi masing- masing yang akan dicapai.

Fungsi manajerial 
Pada pekerjaan yang komplek dan mudah terjadi perubahan (dinamis) pemakaian pengendalian dan sistem informasi yang baik akan memudahkan manajer untuk segera mengetahui bagian-bagian pekerjaan  yang  mengalami  kejanggalan  atau memiliki performa yang kurang baik. Dengan demikian dapat segera dilakukan usaha untuk mengatasi atau meminimalkan kejanggalan tersebut.

Produktivitas adalah suatu hubungan antara output terhadap input dari suatu produk konstruksi. Dalam hal ini yang dimaksud output adalah barang / jasa sedangkan input adalah tenaga kerja, material dan peralatan.

Sehingga disimpulkan bahwa produktivitas adalah suatu hubungan antara input (tenaga kerja, material dan peralatan) / sesuatu  yang melaksanakan   suatu   produk   konstruksi  dengan output (barang/jasa) / hasil  dari  suatu  proses konstruksi   yang   mana  produk yang   dihasilkan sesuai dengan perencanaan.

Konsekuensi dari suatu produktivitas adalah apabila produktivitas suatu proyek konstruksi  semakin tinggi   maka   secara   langsung   akan   mengurangi biaya, dan waktu pelaksanaan akan lebih cepat dari yang direncanakan. Dengan semakin tingginya produktivitas  maka  hasil  atau  produk  konstruksi yang dihasilkan akan mendapatkan kualitas / mutu yang sesuai dengan tujuan.
1. Pengendalian
Untuk mencapai mutu/kualitas yang sesuai dengan perencanaan tidak terlepas dari suatu pengendalian baik pengendalian mutu, biaya dan waktu dan dipengaruhi juga oleh peningkatan produktivitas.
Selain perencanaan, salah satu fungsi manajemen yang juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam mencapai tujuan dan suksesnya pelaksanaan suatu proyek   adalah pengendalian (controling). Pengendalian adalah merupakan pengukuran dan koreksi   terhadap   hasil   kerja   para   staf   untuk menjamin bahwa apa yang dilaksanakan cocok dengan yang telah direncanakan.
2. Hubungan Pengendalian Mutu dengan Peningkatan Productivitas
Pengendalian Mutu pada Proyek erat hubungannya dengan Peningkatan  Produktivitas di proyek yaitu :
a. Peningkatan Produktivitas terhadap Pengendalian Waktu
Pengendalian waktu dan biaya   tidaklah bisa lepas dari suatu manajemen mutu maupun produktivitas. Penyedia jasa telah membuat jadwal perencanaan yang mana pada tiap minggu akan dievaluasi apakah ada keterlambatan atau pekerjaan terjadi percepatan, hal ini oleh pelaksana di breakdown dengan laporan harian.
b. Peningkatan Produktivitas  terhadap Pengendalian Sumber Daya Manusia
Tenaga   kerja   yang   dipakai   di   proyek   sangat beragam  tingkat  kualitas dan kuantitasnya.  Dalam hal ini adalah tenaga kerja untuk tenaga yang langsung dibayarkan seperti mandor, kepala tukang, tukang dan pekerja, karena dari analisa dapat diperhitungkan atau ditaksir besaran biaya yang dikeluarkan untuk upah tenaga kerja.
Produktifitas tenaga kerja menjadi pertimbangan sebagai pengendalian biaya upah dalam Proyek, semakin meningkat produktivitasnya maka pekerjaan yang dihasilkan akan menyebabkan penurunan pengeluaran biaya, mempersingkat waktu pelaksanaan dan akan menjadikan mutu pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan.
c. Peningkatan Produktivitas  terhadap Pengendalian Material
Bahan atau material adalah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam  satu   kesatuan pekerjaan. Pemakaian bahan atau material dalam proyek perlu direncanakan  secara efektif dan efisien serta tidak terjadi  masalah  akibat  tidak  tersedianya  material pada saat dibutuhkan. Dalam pelaksanaan proyek penggunaan  material  juga  harus  diawasi  kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan spesifikasi dan kebutuhannya. Adapun langkah yang dilakukan oleh penyedia jasa dalam pengendalian mutunya, dengan mengadakan uji laboratorium berupa test sampel bahan yang dipakai, seperti uji tulangan baja, uji sampel beton, serta   analisa  material   lainnya. Hal ini sebagai langkah dalam mencegah terjadinya pembongkaran pekerjaan  (rework)  akibat  dari tidak  terpenuhinya spesifikasi material yang disyaratkan.
d. Peningkatan Produktivitas terhadap Pengendalian Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam suatu proyek dipengaruhi oleh produktivitas alat terhadap volume pekerjaan  yang akan  dilakukan  sedangkan  jumlah peralatan yang dibutuhkan bergantung pada durasi kegiatan, kondisi lapangan, keadaan cuaca, efisiensi alat,  kemampuan  operator,  kapasitas  dan  jumlah alat.
Untuk menentukan produktivitas alat, diperlukan data-data penggunaan peralatan dengan kondisi proyek yang tidak jauh berbeda. Dalam hal ini, penyedia jasa yang melaksanakan pekerjaan berpedoman pada pengalaman proyek- proyek sebelumnya, untuk dapat menentukan produktivitasnya, pengendalian biaya untuk komponen alat sangat penting, terutama jika alat tersebut adalah sewa. Efisiensi dan efektifitas penggunaan alat disesuaikan dengan waktu penyelesaian pekerjaan agar biaya operasional atau sewa tidak membengkak.
e. Peningkatan Produktivitas terhadap Pengendalian Sub-Kontraktor
Pada pelaksanaan proyek, ada bagian- bagian  tertentu  yang  diborongkan  kepada  pihak lain. Untuk itu, pengendalian  sub kontraktor yang masuk dan ikut terlibat dalam pelaksanaan proyek harus melalui  seleksi  baik kualitas maupun biaya, sehingga bagian pekerjaan yang dikerjakan oleh sub kontraktor  akan  menghasilkan  produk  konstruksi yang mempunyai mutu/kualitas sesuai yang direncanakan.
Dengan  melibatkan Sub  Kontraktor, maka produktifatas semakin meningkat karena ada bagian pekerjaan yang dikerjakan sub kontraktor sehingga akan memperpendek waktu pelaksanaan, dan juga dengan melalui proses seleksi sub kontraktor maka pekerjaan yang dihasilkanpun akan mempunyai mutu/kualitas sesuai yang direncanakan.
MANAJEMEN LALU LINTAS
Demi kelancaran di dalam pekerjaan dan tidak mengganggu lalu lintas kendaraan yang melintas, kami akan menempatkan personil khusus untuk mengatur lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan. Kami juga akan menerapkan metode buka tutup jalan sehingga diharapkan pekerjaan bisa terus berjalan dan pengguna lalu lintas juga bisa lewat.
Disamping itu kami juga akan menempatkan rambu - rambu lalu lintas dan peringatan bahwa disitu sedang dilaksanakan pekerjaan jalan dan menghimbau kepada pengguna jalan supaya mengurangi kecepatan dan berhati - hati selama melintas di lokasi tersebut.
MANAJEMEN WAKTU PELAKSANAAN
Dengan jangka waktu pelaksanaan yang hanya 5 bulan, kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Kami akan selalu berkoordinasi dengan pihak terkait apabila terjadi permasalahan external. Adapun untuk mengejar keterlambatan, kami juga akan mengoptimalkan untuk lembur pekerjaan sehingga diharapkan pekerjaan tidak mengalami keterlambatan di dalam schedule pelaksanaan.
MANAJEMEN PENGELOLAAN MATERIAL
Material adalah hal yang harus disiapkan sejak dini, untuk itu kami sudah jauh - jauh hari menyetok material di Base Camp sebanyak banyaknya. Sedangkan untuk material yang belum tercaver, kami juga sudah sruvey ke sekitar lokasi pekerjaan dan menanyakan langsung kepada leveransir terdekat untuk kesedianyanya nanti membantu memasok material apabala dibutuhkan.
 
MANAJEMEN PERALATAN
Peralatan yang akan kami gunakan sudah kami persiapkan dan kami pastikan dalam kondisi yang baik. Adapun untuk alat yang memungkinkan untuk sewa, kami juga sudah mengecek. Untuk memaksimalkan di dalam pelaksanaan pekerjaan, kami akan mengatur mobilisasi alat sesuai dengan kebutuhan di lapangan sehingga tepat waktu, tepat mutu dan tepat guna.
ANTISIPASI CUACA
Mengingat kondisi saat ini cuaca tidak dapat diperkirakan dan sering terjadi hujan, kami berusaha untuk melakukan efisiensi waktu yang artinya bahwa dikala cuaca bagus kami akan memaksimalkan pekerjaan sehingga nantinya tidak terjadi keterlambatan kerja yang disebabkan oleh cuaca yang tidak baik.
PENGENDALIAN MUTU
Demi  menjaga Kualitas dan mutu pekerjaan, segala bentuk material yang akan digunakan untuk di uji coba terlebih dahulu pada laboratorium independent guna mengetahui mutu dari bahan / material tersebut. Apakah material tersebut memenuhi syarat spesifikasi atau tidak. Apabila didapati material tersebut tidk sesuai spesifikasi maka akan segera diganti menggunakan material baru yang memenuhi spesifikasi dengan pengujian terlebih dahulu.

October 24, 2017

Download Analisa Harga Satuan 2010 Revisi 3 Excel dan Sepesifikasi khusus Rutin Jalan dan Jembatan

Spesifikasi Umum bina marga sudah beberapa kali mengalami penyempurnaan, dimulai spesefikasi umum 2003, 2005, 2007 dan selanjutnya yang terakhir spesifikasi 2010 revisi 3 yang menjadi pedoman para pokja bina marga dalam melaksanakan pengadaan dan pedoman bagi kontraktor dan konsultan dalam melaksanakan dan pengawasan pada Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan saat ini.


Sepesifikasi 2010 sudah mengalami beberapa kali perubahan diantaranya Spesifikasi umum 2010 revisi 1, Spesifikasi umum 2010 Revisi 2 dan terakhir Spesifikasi umum 2010 revisi 3  yang terbit pertengahan tahun 2014 menggantikan Spesifikasi Umum 2010 Revisi 2 dengan beberapa revisi di tiap bab-nya. Spesifikasi Umum 2010 Revisi 3 terbit sesuai Surat Edaran Dirjen Bina Marga No. 10/SE/Db/2014 tentang Penyampaian Standar Dokumen Pengadaan dan Spesifikasi Umum 2010 (Revisi 3) untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan dan Penyampaian Perangkat Lunak Analisa Harga Satuan Pekerjaan Jalan Dan Jembatan sesuai dengan Spesifikasi Umum 2010 (Revisi 3). Perlu diingat pada tahun 2016 yang lalu direktur reservasi jalan juga telah melakukan penambahan terhadap Spesifikasi umum 2010 revisi 3  dengan spesifikasi khusus tentang pemeliharaan rutin jalan dan pemeliharaan rutin jembatan.

Mungkin masih ada teman-teman yang memerlukan, Pada kesempatan ini saya akan berbagi file analisa harga satuan spesifikasi 2010 revisi 1, 2 dan terakhir revisi 3 dalam bentuk file excel.

Spesifikasi umum Bina Marga 2010 Revisi 1

Spesifikasi umum Bina Marga 2010 Revisi 2

Khusus file-file dibawah ini, jika berminat silakan menghubungi saya melalui e-mail : 99brens@gmail.com
(untuk file-file dibawah ini yang membutuhkan silakan melakukan donasi minimal Rp. 100.000,-Ke BNI 0268608752 Atas nama Mery Lusianty)
  • Spesifikasi umum Bina Marga 2010 Revisi 3
  • Spesifikasi Khusus Pemeliharaan Rutin Jalan dan Pemeliharaan Rutin Jembatan tahun 2017
Penampakan Analisa Pemeliharaan Jembatan


Penampakan Analisa Pemeliharaan Rutin Jembetan
Mudah-mudahan file-file yang saya bagikan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi teman-teman, baik kontraktor, konsultan, pelaksana lapangan, maupun para Pekerja konstruksi lainnya sehingga dapat terciptanya pembangunan yang lebih baik dan bermutu.

October 23, 2017

Fungsi Analisa Harga Satuan (AHS)

Fungsi Analisis Harga Satuan ini digunakan sebagai suatu dasar untuk menyusun perhitungan harga perkiraan sendiri (HPS) atau owner’s estimate (OE) dan harga perkiraan perencana (HPP) atau engineering’s estimate (EE) yang dituangkan sebagai  kumpulan  harga  satuan  pekerjaan  seluruh  mata  pembayaran. 

Analisis harga satuan dapat diproses secara manual atau menggunakan perangkat lunak.
Yang dimaksud dengan nilai total HPS adalah hasil perhitungan seluruh volume pekerjaan dikalikan dengan Harga Satuan ditambah dengan seluruh beban pajak dan keuntungan Permen PU Nomor 07/PRT/M/2011.

Untuk pengadaan barang/jasa pemerintah sesuai dengan Perpres Nomor 70 Tahun 2012 (perubahan kedua atas Perpres  Nomor 54 Tahun 2010), nilai total HPS bersifat terbuka  dan tidak rahasia (Perpres Nomor 70 Tahun

2012, pasal 66, Ayat 3). HPS digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran penawaran termasuk rinciannya, dan sebagai dasar untuk menetapkan batas tertinggi penawaran yang sah, serta sebagai dasar untuk menetapkan besaran nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang nilainya lebih rendah daripada 80% (delapan puluh perseratus) nilai total HPS (ditto, Ayat 5). Penyusunan HPS dikalkulasikan secara keahlian berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan(ditto Ayat 7).

Kontrak harga satuan adalah kontrak pekerjaan yang nilai kontraknya didasarkan atas harga satuan pekerjaan (HSP) yang pasti dan mengikat atas setiap jenis pekerjaan masing-masing.Nilai kontrak adalah jumlah perkalian HSP dengan volume masing-masing jenis pekerjaan yang sesuai dengan daftar kuantitas dan harga (bill of quantity, BOQ) yang terdapat dalam dokumen penawaran.

Analisis  harga  satuan  ini  menetapkan  suatu  perhitungan  harga  satuan upah, tenaga kerja, dan bahan, serta pekerjaan yang secara teknis dirinci secara detail berdasarkan suatu metode kerja dan asumsi-asumsi yang sesuai  dengan  yang  diuraikan  dalam  suatu  spesifikasi  teknik,  gambar desain dan komponen harga satuan, baik untuk kegiatan rehabilitasi/ pemeliharaan, maupun peningkatan infrastruktur ke-PU-an.

Struktur Analisis Pekerjaan

Harga satuan pekerjaan terdiri atas biaya langsung dan biaya tidak langsung. Komponen biaya langsung terdiri atas upah, bahan dan alat, sedangkan komponen biaya tidak langsung terdiri atas biaya umum atau overhead dan keuntungan.
Struktur Analisis Harga Satua Dasar Alat Mekanis

Semua ketentuan normatif pada pedoman ini harus diikuti sepenuhnya, sedangkan yang bersifat informatif hanya untuk memberikan contoh perhitungan AHSP terkait. Penggunaan Pedoman AHSP ini seharusnya disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lokasi pekerjaan. 
Struktur Analisis Harga Satuan Dasar Bahan


Namun untuk hal-hal tertentu yang belum tercantum dalam salah satu sektor dari pedoman  ini    dimungkinkan  untuk  menggunakan  AHSP  pada  sektor lainnya. Selanjutnya jika belum juga tercantum dalam pedoman ini dapat menggunakan AHSP berdasarkan referensi lain yang sudah ditetapkan oleh Peraturan Daerah dan/atau atas persetujuan pengguna jasa. 

Mengenal Istilah-Istilah Dalam Analisa Harga Satuan Pekerjaan Bidang Umum

Banyak istilah yang dipakai dalam Analisa harga Satuan dalam Bidang Pekerjaan Umum, Istilah dan difinisi tersebut wajib kita ketahui ketika kita ingin merencanaankan dan melakukan penawaran pekerjaan di dalam lingkungan pekerjaan umum.

Berikut istilah dan difinisi tersebut  yang banyak digunakan di dalam Analisa harga Satuan (AHSP):

AC (asphaltic concrete) atau beton aspal
perkerasan beton aspal campuran panas bergradasi menerus
AC-WC (asphaltic concrete-wearing course)
perkerasan beton aspal sebagai lapis permukaan
AC-BC (asphaltic concrete-binder course)
perkerasan beton aspal sebagai lapis pengisi
Air tanah
air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah
Harga pokok alat
harga pembelian peralatan yang bersangkutan sampai di gudang pembeli
Nilai sisa alat
nilai  harga  peralatan  yang  bersangkutan  pada  saat  akhir  masa  umur ekonomisnya
Analisis harga satuan pekerjaan (AHSP)
perhitungan kebutuhan biaya tenaga  kerja, bahan dan peralatan untuk mendapatkan harga satuan atau satu jenis pekerjaan tertentu
Analisis produktivitas
uraian masalah dan keadaan dalam membandingkan antara output (hasil produksi) dan input (komponen produksi: tenaga kerja, bahan, peralatan,
dan waktu)
Asbuton (aspal batu buton)
aspal  alam  berbentuk  bongkahan  batu  dari  pulau  Buton,  Sulawesi Tenggara, Indonesia 
Bahan baku
bahan di suatu lokasi tertentu atau sumber bahan (quarry) dan merupakan bahan dasar yang belum mengalami pengolahan (contoh : batu, pasir dan lain-lain), atau bahan yang diterima di gudang atau base camp yang diperhitungkan dari sumber bahan, setelah memperhitungkan ongkos bongkar-muat dan pengangkutannya
Bahan jadi
bahan yang merupakan bahan jadi (contoh : tiang pancang beton pencetak,
kerb beton, parapet beton dan lain-lain) yang diperhitungkan diterima di
base camp/ gudang atau di pabrik setelah memperhitungkan ongkos bongkar-buat dan pengangkutannya serta biaya pemasangan (bila diperlukan)
Bahan olahan
bahan yang merupakan produksi suatu pabrik tertentu atau plant atau
membeli dari produsen (contoh : agregat kasar, agregat halus dan lain-lain)
Bangunan gedung dan perumahan
bangunan   yang   berfungsi   untuk   menampung   kegiatan   kehidupan bermasyarakat
Bendung
bangunan  air  dengan  kelengkapannya  yang  dibangun  melintang  sungai atau sudetan yang sengaja dibuat untuk meninggikan taraf muka air atau untuk mendapatkan tinggi terjun, sehingga air sungai dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi atau dengan pompa ke tempat-tempat tertentu yang membutuhkannya dan atau untuk mengendalikan dasar sungai, debit dan angkutan sedimen
Bendungan
bangunan  yang  berupa  urugan  tanah,  urugan  batu,  beton,  dan/atau pasangan batu yang dibangun selain untuk menahan dan menampung air, dapat pula dibangun untuk menahan dan menampung limbah tambang (tailing), atau menampung lumpur sehingga terbentuk waduk
Intake
bagian  dari  bendung  atau  bendungan  yang  berfungsi  sebagai  penyadap aliran sungai 
Pelimpah
bangunan  yang  berfungsi  untuk  melewatkan  debit  aliran  sungai  secara
terkendali
Biaya langsung
komponen  harga  satuan  pekerjaan  yang  terdiri  atas  biaya  upah,  biaya bahan dan biaya alat
Biaya tidak langsung
komponen harga satuan pekerjaan yang terdiri atas biaya umum (overhead) dan  keuntungan,  yang  besarnya  disesuaikan  dengan  ketentuan  yang berlaku
Bidang pekerjaan umum
bidang pekerjaan yang meliputi kegiatan pekerjaan Sumber Daya Air, Bina
Marga dan Cipta Karya
Burda (laburan aspal dua lapis)
perkerasan beraspal dengan sistem penyiraman, yaitu dua lapisan agregat
dengan jumlah dan ukuran tertentu, masing-masing ditaburkan di atas aspal yang dicairkan dan disiramkan di atas permukaan beraspal lama atau pondasi agregat, masing-masing dengan jumplah aspal tertentu
Burtu (laburan aspal satu lapis)
perkerasan beraspal dengan sistem penyiraman, yaitu satu lapisan agregat dengan  jumlah  dan  ukuran  tertentu,  ditaburkan  di  atas  aspal  yang dicairkan dan disiramkan secara merata di atas permukaan beraspal lama, dengan jumlah aspal tertentu
CBA asbuton Lawele (CBA-Asb Lawele)
campuran  beraspal  panas  dengan  asbuton  dari  Lawele,  pulau  Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia
Cement Treated Base (CTB)
beton semen pondasi atas 
Cement Treated Subbase (CTSB)
beton semen pondasi bawah
CMRFB (cold mix recycled by foam bitumen)
campuran antara reclaimed asphalt pavement (RAP) dan agregat baru (bila diperlukan) serta busa aspal (foamed bitumen) yang dicampur di unit produksi campuran aspal atau pencampuran di tempat (in place), dihampar dan dipadatkan dalam keadaan dingin
Daftar kuantitas dan harga atau bill of quantity (BOQ)
daftar rincian pekerjaan yang disusun secara sistematis menurut kelompok/bagian pekerjaan, disertai KETERANGAN mengenai volume dan satuan setiap jenis pekerjaan.
Harga perkiraan perencana (HPP) atau engineering’s estimate (EE)
perhitungan  perkiraan  biaya  pekerjaan  yang  dihitung  secara  profesional oleh   perencana,   yang   digunakan   sebagai   salah   satu   acuan   dalam melakukan penawaran suatu pekerjaan tertentu
Harga perkiraan sendiri (HPS) atau owner’s estimate (OE)
hasil perhitungan seluruh volume pekerjaan dikalikan dengan Harga Satuan ditambah dengan seluruh pajak dan keuntungan.
Harga satuan dasar (HSD)
harga komponen dari mata pembayaran dalam satuan tertentu, misalnya: bahan (m, m², m³, kg, ton, zak, dan sebagainya), peralatan (unit, jam, hari, dan sebagainya), dan upah tenaga kerja (jam, hari, bulan, dan sebagainya)
Harga satuan dasar alat
besarnya biaya yang dikeluarkan pada komponen biaya alat yang meliputi biaya  pasti  dan  biaya  tidak  pasti  atau  biaya operasi per satuan waktu tertentu, untuk memproduksi satu satuan pengukuran pekerjaan tertentu
Harga satuan dasar bahan
besarnya   biaya   yang   dikeluarkan   pada   komponen   bahan   untuk memproduksi satu satuan pengukuran pekerjaan tertentu 
Harga satuan dasar tenaga kerja
besarnya biaya yang dikeluarkan pada komponen tenaga kerja per satuan waktu tertentu, untuk memproduksi satu satuan pengukuran pekerjaan
tertentu
Harga satuan pekerjaan (HSP)
biaya yang dihitung dalam suatu analisis harga satuan suatu pekerjaan,yang terdiri atas biaya langsung (tenaga kerja, bahan, dan alat), dan biaya tidak langsung (biaya umum atau overhead, dan keuntungan) sebagai mata pembayaran suatu jenis pekerjaan tertentu, belum termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
HRS (hot rolled sheet) atau lapis tipis beton aspal campuran panas (LATASTON)
perkerasan beton aspal campuran panas bergradasi senjang
HRS-WC (hot rolled sheet wearing course)
lapis tipis beton aspal (LATASTON) untuk lapis permukaan
HRS-Base (hot rolled sheet - base)
lapis tipis beton aspal (LATASTON) untuk lapis pondasi
Jaringan irigasi
saluran,  bangunan,  dan  bangunan  pelengkapnya  yang  merupakan  satu
kesatuan  yang  diperlukan  untuk  penyediaan,  pembagian,  pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi
Koefisien
faktor pengali atau koefisien sebagai dasar penghitungan biaya bahan, biaya alat, dan upah tenaga kerja
Koefisien bahan
indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan volume  pekerjaan
Koefisien tenaga kerja
indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan
setiap satuan volume  pekerjaan 
Koefisien tenaga kerja atau kuantitas jam kerja
faktor  yang  menunjukkan  kebutuhan  waktu  untuk  menyelesaikan  satu satuan  volume  pekerjaan,  berdasarkan  kualifikasi  tenaga  kerja  yang
diperlukan
Lokasi pekerjaan
tempat suatu pekerjaan dilaksanakan
LPA-A (lapis pondasi agregat kelas A)
pondasi agregat untuk perkerasan jalan menggunakan gradasi kelas-A
LPPA (lapis pondasi pasir aspal)
campuran antara pasir dan aspal keras sebagai pondasi jalan, yang dicampur di unit pencampur aspal, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada temperatur tertentu
LPMA (lapis penetrasi Macadam asbuton)
perkerasan  jalan  yang  terdiri  atas  agregat  pokok  dan  agregat  pengunci
bergradasi seragam yang diikat oleh butiran asbuton Lawele dengan cara dihamparkan di atas agregat pokok, dipadatkan lapis demi lapis; setelah agregat pengunci dipadatkan, dihampar butiran asbuton lawele kembali kemudian diberi agregat penutup dan dipadatkan
Mata pembayaran
jenis pekerjaan yang secara tegas dinyatakan dalam dokumen lelang sebagai
bagian dari pekerjaan yang dilelang yang dapat dibayar oleh pemilik (owner)
Metode kerja
cara  kerja  untuk  menghasilkan  suatu  jenis  pekerjaan/bagian  pekerjaan
tertentu sesuai dengan spesifikasi teknik yang ditetapkan dalam dokumen lelang
Overhead
biaya yang diperhitungkan sebagai biaya operasional dan pengeluaran biaya kantor pusat yang bukan dari biaya pengadaan untuk setiap mata pembayaran,   biaya   manajemen,   akuntansi,   pelatihan   dan   auditing, perizinan, registrasi, biaya iklan, humas dan promosi, dan lain sebagainya 
Pedoman
acuan yang bersifat umum yang harus dijabarkan lebih lanjut dan dapat
disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan daerah setempat.
Pengaman pantai
upaya  untuk  melindungi  dan  mengamankan  daerah  pantai  dan  muara sungai dari kerusakan akibat erosi, abrasi, dan akresi
Krib laut
bangunan yang dibuat tegak lurus atau kira-kira tegak lurus pantai, berfungsi mengendalikan erosi yang disebabkan oleh terganggunya keseimbangan angkutan pasir sejajar pantai (long shore sand drift)
Pemecah gelombang
konstruksi pengaman pantai yang posisinya sejajar atau kira-kira sejajar
garis pantai dengan tujuan    untuk meredam gelombang datang
Revetmen
struktur  di  pantai  yang  dibangun  menempel  pada  garis  pantai  dengan
tujuan untuk melindungi pantai yang tererosi
Tanggul laut
bangunan pengaman pantai yang bertujuan agar daerah yang dilindungi
tidak tergenang atau terlimpas oleh air laut; konstruksinya adalah kedap air
Tembok laut
bangunan pengaman pantai yang bertujuan untuk melindungi kawasan di belakang  tembok  laut  agar  pantai  tidak  tererosi.  Konstruksinya  dapat berupa dinding masif atau tumpukan batu
Pengaman sungai
upaya   untuk   mencegah   dan   menanggulangi   terjadinya   kerusakan
lingkungan yang disebabkan oleh banjir
Krib
bangunan air yang dibuat melintang sungai mulai dari tebing sungai ke
arah   tengah   guna   mengarahkan   arus   dan   melindungi   tebing   dari
penggerusan dan juga dapat berfungsi sebagai pengendali alur 
Tanggul
salah  satu  bangunan  pengendali  sungai  yang  fungsi  utamanya  untuk
membatasi penyebaran aliran lahar, mengarahkan aliran lahar juga dapat
dimanfaatkan untuk keperluan lain
Pengendali muara sungai
bangunan untuk mengendalikan muara meliputi penutupan, pemindahan
dan pendangkalan  alur sungai
Jeti
salah satu bangunan pengendali muara yang dibangun untuk stabilisasi
muara sungai dan perbaikan alur sungai
Pengerukan
proses pengambilan tanah atau material dari lokasi di dasar air, biasanya
perairan dangkal seperti danau, sungai, muara ataupun laut dangkal, dan
memindahkan atau membuangnya ke lokasi lain
Rawa
sumber daya air berupa genangan air terus-menerus atau musiman yang
terbentuk secara alamiah di atas lahan yang pada umumnya mempunyai kondisi topografi relatif datar dan/atau cekung, struktur tanahnya berupa tanah organik/gambut dan/atau mineral mentah, mempunyai derajat keasaman air yang tinggi, dan/atau terdapat flora dan fauna yang spesifik
Satuan pekerjaan
satuan jenis kegiatan konstruksi bangunan yang dinyatakan dalam satuan
panjang, luas, volume, dan unit
Waktu siklus
waktu yang diperlukan suatu alat untuk beroperasi pada pekerjaan yang
sama secara berulang, yang akan berpengaruh terhadap kapasitas produksi dan koefisien alat

September 10, 2017

Metode Pelaksanaan Sandaran (Railing) Jembatan

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Sandaran (Railing) Jembatan

Pekerjaan ini terdiri dari penyediaan, fabrikasi dan pemasangan sandaran baja untuk jembatan dan pekerjaan lainnya seperti galvanisasi, pengecatan, tiang sandaran, pelat dasar, baut pemegang, dan sebagainya, sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan dan memenuhi Spesifikasi ini.
Jaminan Mutu
Mutu bahan yang dipasok, kecakapan kerja dan hasil akhir harus dipantau dan diken-dalikan sebagaimana yang disyaratkan dalam Standar Rujukan dalam Pasal 7.13.1.(5)

Toleransi
Diameter lubang:
+ 1 mm, - 0,4 mm
Tiang Sandaran:
Akan dipasang baris demi baris serta ketinggian, tiang-tiang harus tegak dengan toleransi tidak melampaui 3 mm per meter tinggi. 
Sandaran (railing):
Panel sandaran yang berbatasan harus segaris satu dengan lainnya dalam rentang 3 mm.
Kelengkungan:
Sandaran harus memenuhi kurva jembatan. Kurva ini dapat dibentuk dengan serangkaian tali antara tiang. 
Tampak:
Sandaran harus menunjukkan penampilan yang halus dan seragam jika dalam posisi akhir.

Pengajuan kesipan kerja
Kontraktor  harus  menyerahkan gambar kerja untuk disetujui Direksi Pekerjaan untuk setiap jenis sandaran baja yang akan dipasang. Fabrikasi tidak boleh dimulai sebelum gambar kerja disetujui.
Kontraktor  harus menyerahkan sertifikat pabrik pembuat sandaran baja yang menunjukkan mutu baja, pengelasan, dan sebagainya.

Penyimpanan
Bagian-bagian baja harus ditangani dan disimpan dengan hati-hati dalam tempat ter-tentu, rak atau landasan, dan tidak boleh bersentuhan langsung dengan permukaan tanah serta harus dilindungi dari korosi. Bahan harus dijaga agar bebas dari debu, minyak, gemuk dan benda-benda asing lainnya. Permukaan yang dicat harus dilindungi baik di bengkel maupun di lapangan. Sekrup-sekrup harus dilindungi dari kerusakan

Perbaikan terhadap pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan
Selama pengangkutan, penyimpanan, penanganan atau pemasangan, setiap san-daran yang mengalami kerusakan berat seperti melengkung atau penyok, harus diganti. Sandaran yang mengalami kerusakan  pada pengelasan harus dikem-balikan ke bengkel untuk diperbaiki pengelasannya dan digalvanisasi ulang.

Sandaran yang mengalami kerusakan pada galvanisasi atau pengecatan harus dikembalikan ke bengkel dan diperbaiki sampai baik. Kerusakan kecil pada pekerjaan cat mungkin dapat diperbaiki di lapangan, sesuai dengan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

Pemeliharaan Pekerjaan yang telah diterima
Tanpa mengurangi kewajiban Kontraktor untuk melaksanakan perbaikan terhadap pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 7.13.1.(8) di atas, Kontraktor juga harus bertanggungjawab atas pemeliharaan rutin dari semua sandaran jembatan yang telah selesai dan diterima selama Periode Kontrak termasuk Periode Pemeliharaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan Seksi 10.1 dari Spesifikasi ini dan harus dibayar terpisah menurut Pasal 10.1.7

Peralatan
Fabrikasi umumnya harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dari Seksi 7.4 Baja Struktur. Sandaran harus difabrikasi di bengkel yang disetujui. Sambungan pada panel yang berbatasan harus sangat tepat (match-marked) untuk maksud pemasangan.

Pengelasan
Pengelasan harus dilaksanakan oleh tenaga yang trampil, dengan cara yang ahli, mengetahui detil semua sifat-sifat bahan. Lapisan yang terekspos harus dikupas, digosok, dikikir dan dibersihkan untuk mendapatkan penampilan yang bersih sebelum digalvanisasi. Pelat dasar harus dilas ke tiang-tiang untuk menghitung setiap ketinggian yang diberi-kan dalam Gambar dan dengan cara yang sedemikian hingga tiang-tiang ini akan tegak jika dalam posisi akhir.

Galvanisasi
Semua bagian baja harus digalvanisasi sesuai dengan AASHTO M111 - 90 Galva-nizing., kecuali jika galvanisasi ini telah mempunyai tebal minimum 80 mikron. Pekerjaan pengeboran dan pengelasan harus sudah selesai sebelum galvanisasi. Agar kondensasi uap air dapat lolos setelah fabrikasi sebelum galavanisasi, pipa harus dilengkapi dengan lubang yang ditunjukkan dalam Gambar. Setiap penambahan lubang yang diperlukan untuk pengaliran atau diperlukan untuk galvanisasi harus diletakkan dalam posisi yang sedemikian hingga tidak langsung tampak dan tidak mengurangi kapasitas pipa terhadap beban. Pipa harus digalvanisasi luar dan dalam. Setelah galvanisasi elemen-elemen sandaran selesai, pengelasan atau pengeboran tidak boleh dilakukan tanpa persetujuan Direksi Pekerjaan. Perbaikan galvanisasi, selanjutnya akan dilaksanakan (setelah semua karat, uap air, galvanisasi yang mengelupas, minyak dan benda-benda asing lainnya telah dibersihkan) dengan 3 lapis cat dasar serbuk seng (zinc dust) yang bermutu tinggi dan awet seperti yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Pelaksanaan
Pemasangan harus sesuai dengan Seksi 7.4 Baja Struktur. Sandaran harus dipasang dengan hati-hati sesuai dengan garis dan ketinggian yang ditunjukkan dalam Gambar. Sandaran harus disetel dengan hati-hati sebelum dimatikan agar dapat memperoleh sambungan yang tepat, alinyemen yang benar dan lendutan balik (camber) pada seluruh panjang. Persetujuan dari Direksi Pekerjaan harus diperoleh sebelum sandaran dimatikan. Kontraktor akan memberitahukan Direksi Pekerjaan bilamana pemeriksaan dan persetujuannya diperlukan.


Popular Posts