Semua Informasi tentang dunia Kontraktor, Teknologi dan Internet

November 13, 2017

Pengelolaan Keselamatan Kerja Proyek Konstruksi


Tata cara Pengelolaan Keselamatan kerja pada suatu peroyek konstruksi hendaknya mengacu kepada pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja yang telah diatur dalam undang-undang tentang Keselamatan kerja .

Tenaga kerja merupakan sumber daya yang sangat penting bagi terlaksananya pekerjaan konstruksi. Tenaga trampil dan tenaga kerja ahli sangat potensial dalam usaha pencapaian hasil pembangunan yang telah ditetapkan dan berkualitas. Manusia sebagai sumber daya yang mempunyai akal pikiran  dan daya cipta sudah sepatutnya mendapatkan penghargaan yang layak atas jasa tenaganya atau keahliannya sebagai tenaga kerja pembangunan. 

Dalam kaitannya dengan  hal tersebut di atas, maka perlu diperhatikan tentang keselamatan dan kesehatan kerja bagi pelaksana lapangan sebagai berikut : 
1. Pekerja

  • Setiap pekerja harus masuk atau keluar dari lokasi kerja melalui pintu masuk yang telah disediakan, serta memakai kartu identitas.
  • Setiap pekerja wajib menggunakan helmet, sepatu kerja dan pakaian yang layak untuk masuk ke dalam lokasi kerja.

2. Tata Cara Kerja

  • Sebelum bekerja seluruh pekerja dikumpulkan di seksinya masing-masing guna mendapatkan pengarahan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan bidang pekerjaannya masing-masing.
  • Saat bekerja, setiap pekerja tidak diijinkan untuk meninggalkan lokasi pekerjaan atau memasuki area pekerjaan lain tanpa instruksi atau ijin dari mandor / pengawas.
  • Setelah selesai bekerja, pekerja wajib melaporkan hasil pekerjaannya kepada mandor / pengawas sebelum meninggalkan lokasi pekerjaan masing-masing.

3. Lokasi Kerja

  • Setiap mandor / pengawas diwajibkan untuk mengontrol area dimana para pekerjanya berada, perlu dipastikan area tersebut sudah aman sebelum pekerjaan dimulai.
  • Setiap pekerjaan galian atau tempat-tempat terbuka lainnya yang dapat mengakibatkan bahaya jatuh harus diberi pagar pengaman dan rambu-rambu peringatan.
  • Pekerja tidak diijinkan bekerja sama pada suatu tempat (bagi yang bekerja diatas dengan yang di bawah) tanpa adanya pengaman yang baik sesuai dengan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
  • Lokasi pekerjaan harus selalu dalam keadaan bersih dari sampah dan sisa-sisa material yang tidak terpakai lagi.

4. Peralatan Keselamatan Kerja Lainnya
Peralatan keselamatan kerja memiliki berbagai macam jenis, sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Alat-alat yang tercantum di bawah harus selalu digunakan sesuai dengan kebutuhan, antara lain :

  • Alat pelindung diri peroranganSelain alat pelindung diri perorangan yang wajib digunakan oleh setiap karyawan/ pekerja, alat pelindung lainnya dibutuhkan sebagai pelengkap, sesuai dengan jenis pekerjaan, dimana alat ini juga harus digunakan oleh setiap pekerja sesuai dengan kebutuhannya.
  • Peralatan keselamatan untuk umum contoh :Sarana keselamatan untuk umum juga harus diperhatikan, contoh : Pemasangan rambu keselamatan / Papan Peringatan

5. Peralatan Kerja

  • Setiap pekerja harus menjaga alat-alat yang digunakan dalam bekerja dari kerusakan dan kehilangan, serta bertanggung jawab atas penggunaan alat-alat tersebut.
  • Menggunakan alat dalam suatu pekerjaan sesuai dengan kebutuhannya
  • Alat-alat yang sudah tidak digunakan lagi, segera dikembalikan pada tempat di mana alat tersebut dipinjam/ diambil.
  • Alat-alat yang rusak atau hilang dalam pekerjaan, menjadi tanggung jawab pekerja yang menggunakan alat-alat tersebut.

6. Alat Berat

  • Kecepatan maksimum di lokasi proyek adalah 15 km/jam.
  • Setiap alat berat yang akan dioperasikan harus diperiksa terlebih dahulu oleh operator. Pastikan alat tersebut dalam keadaan baik.
  • Alat berat yang beroperasi harus diawasi, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
  • Tidak diperbolehkan memasuki area tempat alat-alat tersebut beroperasi kecuali petugas yang mengoperasikan alat-alat berat tersebut.

7. Mekanik
Mekanik harus segera memperbaiki alat-alat yang digunakan dalam bekerja apabila sudah dilaporkan kerusakannya.
8. Penanggulangan Api
Sekali api menyambar dapat menimbulkan bahaya yang dapat mengancam kehidupan manusia, serta menghanguskan semua peralatan dan material yang ada.
Sebagian besar api disebabkan oleh kecerobohan dan kelalaian manusia itu sendiri. Untuk menghindari api, perhatikan hal-hal berikut :

  • Jangan membawa api ke tempat di mana ada tanda “AWAS API”.
  • Bila bekerja menggunakan api, berhati-hatilah dalam penggunaannya.
  • Menjaga agar jangan terjadi tumpahan minyak di lokasi pekerjaan.
  • Menyediakan pemadam api di tempat-tempat yang diperlukan sesuai dengan jenis alat pemadam api yang dibutuhkan.
  • Jangan memindahkan alat pemadam api tanpa persetujuan resmi serta adakan pengecekan alat pemadam api setiap satu bulan sekali.

9. Kecelakaan Kerja

  • Bila terjadi suatu kecelakaan kerja, baik itu kecil maupun besar, segera laporkan pada mandor/ pelaksana, dan selanjutnya pada petugas keselamatan dan kesehatan kerja guna mendapatkan P3K.
  • Mandor/ pelaksana harus mengetahui serta melaporkan pada petugas keselamatan dan kesehatan kerja sebab-sebab terjadinya kecelakaan tersebut, serta waktu dan tempat kejadian, guna penanggulangan lebih lanjut sesuai prosedur penanganan kecelakaan di lokasi kerja.

10. Keamanan

  • Petugas keamanan wajib melaporkan kegiatan kerja setiap harinya ataupun hal-hal penting lainnya yang menjadi tanggung jawabnya kepada ketua regu jaga, kemudian ketua regu jaga melaporkan kepada petugas K-3.
  • Setiap karyawan wajib melaporkan pada pihak keamanan proyek bila terjadi kehilangan barang proyek, perkelahian, ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan terganggunya kondisi keamanan di lokasi proyek. Selanjutnya, petugas keamanan segera melaksanakan investigasi dan mengkoordinasikannya dengan petugas keselamatan dan kesehatan kerja, serta membuat laporan tertulis pada pimpinan proyek dan pimpinan perusahaan.

11. Sanksi-Sanksi
Bagi pekerja yang tidak mematuhi peraturan-peraturan di atas, pihak kontraktor akan memberikan surat peringatan, dimana bila juga tidak diindahkan, pimpinan proyek akan mengambil tindakan dengan tidak mengizinkan yang bersangkutan untuk berada di daerah proyek.

Maksud dan tujuan pentingnya Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Pengaturan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja dalam bidang konstruksi dimaksudkan agar kegiatan pekerjaan konstruksi terselenggara melalui terjaminnya keselamatan dan kesehatan kerja baik bagi pelaku kegiatan konstruksi itu sendiri maupun bagi lingkungan sekitar lokasi pekerjaan. 
Pemahaman dan penerapan pengaturan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi para pelaku pekerjaan konstruksi seperti: 
  • Berkurangnya atau malah terhindarkannya kecelakaan kerja pada pelaksanaan pekerjaan; 
  • Terhindarkan terhentinya kegiatan pekerjaan konstruksi sebagai akibat adanya kecelakaan kerja; 
  • Terhindarkan kerugian baik material maupun nyawa manusia akibat timbulnya kecelakaan kerja; dan 
  • Terhindarkan penurunan produktivitas dan daya guna sumber daya sebagai akibat dari adanya kecelakaan kerja.  

Jenis-jenis Alat Pelindung Diri (APD) 
  • Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras selama mengoperasikan atau memelihara AMP. Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin atau melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya. 
  • Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk melindungi mata pada lokasi pekerjaan yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya. 
  • Masker, diperlukan pada medan yang berdebu meskipun ruang operator telah tertutup rapat, masker ini dianjurkan tetap dipakai. 
  • Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan bahan yang keras, misalnya membuka atau mengencangkan baut dan sebagainya. 
  • Alat pelindung telinga, digunakan untuk melindungi telinga dari kebisingan yang ditimbulkan dari pengoperasian peralatan kerja. 

Sistem Manajemen Proyek Konstruksi Jalan dan Jembatan


Sistem Manajemen Proyek Konstruksi Jalan dan Jembatan dikelola dengan baik akan berimbas pada hasil yang baik pula.
Pengaspalan Jalan Nanga Badau-Lanjak

Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian kegiatan untuk membangun atau mendirikan suatu bangunan atau konstruksi pada lokasi tertentu dengan waktu yang terbatas, tidak berulang, dan hasilnya berupa produk yang dapat dipertanggungjawabkan, dengan melibatkan berbagai sumber daya.
Rangkaian    kegiatan   Sistem Manajemen Mutu tersebut bertujuan  untuk menghasilkan   suatu  bangunan   yang   memenuhi syarat biaya, mutu dan waktu. Sistem manajemen mutu mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives), pelanggan (customers), hasil- hasil  (outputs),  prosesp-proses  (processes), masukan-masukan   (inputs)   pemasok   (suppliers), dan  pengukuran  untuk  umpan-balik  dan  umpan- maju (measurements for feedback and feedforward).
Sistem manajemen mutu terdiri atas empat tingkatan, yaitu :
  • Inspeksi  (Inspection), adalah  mengkaji karekteristik proyek dalam aspek mutu, dalam hubungannya  dengan  suatu  standart  yang ditentukan. Inspeksi akan menentukan baik atau tidaknya proyek berdasarkan mutunya.
  • b.Pengendalian Kualitas (Quality Control – QC), terdiri dari kegiatan pemeriksaan pekerjaan, bersama-sama  dengan  manajemen  dan pendokumentasian bahwa pelaksanaan pekerjaan sudah sesuai dengan persyaratan kontrak dan peraturan-peraturan yang  berlaku  QC merupakan suatu unsur atau bagian dari QA.
  • Jaminan  Kualitas  (Quality  assurance  –  QA), adalah semua perencanaan, metoda dan langkah sistematis yang diperlukan untuk memberi keyakinan  bahwa  semua  perencanaan, perancangan dan pelaksanaan yang dilakukan sudah sesuai dengan standart-standart yang berlaku, serta syarat-syarat yang dispesifikasikan dalam kontrak.
  • "Total   Quality   Management   (TQM),   adalah gabungan dari semua bentuk manajemen kualitas yang  tujuan  utamanya  adalah  memenuhi kepuasan   pelanggan   dengan  menitikberatkan pada peningkatan  berkelanjutan  
  • Tahap   manajemen   setelah   pelaksanaan   proyek adalah  pengendalian.  Ini  berarti  di  dalam Pengendalian mutu pelaksanaan proyek, sebelum proyek selesai, sudah ada proses pengendalian. Sebagai salah satu fungsi dan proses kegiatan dalam manajemen yang sangat mempengaruhi hasil akhir proyek, pengendalian mempunyai tujuan utama meminimalisasi segala penyimpangan yang dapat terjadi selama proses berlangsungnya proyek."

Fungsi pengendalian :
Fungsi pemantauan
Dengan pemantauan yang baik terhadap semua kegiatan  proyek  akan  memaksa unsur-unsur pelaksana untuk bekerja secara cakap dan jujur, dan pemantauan  akan  memotivasi  para  pekerja  atau unsur sumber daya yang ada didalamnya. Sehingga dengan demikian akan mengetahui prestasi masing- masing yang akan dicapai.

Fungsi manajerial 
Pada pekerjaan yang komplek dan mudah terjadi perubahan (dinamis) pemakaian pengendalian dan sistem informasi yang baik akan memudahkan manajer untuk segera mengetahui bagian-bagian pekerjaan  yang  mengalami  kejanggalan  atau memiliki performa yang kurang baik. Dengan demikian dapat segera dilakukan usaha untuk mengatasi atau meminimalkan kejanggalan tersebut.

Produktivitas adalah suatu hubungan antara output terhadap input dari suatu produk konstruksi. Dalam hal ini yang dimaksud output adalah barang / jasa sedangkan input adalah tenaga kerja, material dan peralatan.

Sehingga disimpulkan bahwa produktivitas adalah suatu hubungan antara input (tenaga kerja, material dan peralatan) / sesuatu  yang melaksanakan   suatu   produk   konstruksi  dengan output (barang/jasa) / hasil  dari  suatu  proses konstruksi   yang   mana  produk yang   dihasilkan sesuai dengan perencanaan.

Konsekuensi dari suatu produktivitas adalah apabila produktivitas suatu proyek konstruksi  semakin tinggi   maka   secara   langsung   akan   mengurangi biaya, dan waktu pelaksanaan akan lebih cepat dari yang direncanakan. Dengan semakin tingginya produktivitas  maka  hasil  atau  produk  konstruksi yang dihasilkan akan mendapatkan kualitas / mutu yang sesuai dengan tujuan.
1. Pengendalian
Untuk mencapai mutu/kualitas yang sesuai dengan perencanaan tidak terlepas dari suatu pengendalian baik pengendalian mutu, biaya dan waktu dan dipengaruhi juga oleh peningkatan produktivitas.
Selain perencanaan, salah satu fungsi manajemen yang juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam mencapai tujuan dan suksesnya pelaksanaan suatu proyek   adalah pengendalian (controling). Pengendalian adalah merupakan pengukuran dan koreksi   terhadap   hasil   kerja   para   staf   untuk menjamin bahwa apa yang dilaksanakan cocok dengan yang telah direncanakan.
2. Hubungan Pengendalian Mutu dengan Peningkatan Productivitas
Pengendalian Mutu pada Proyek erat hubungannya dengan Peningkatan  Produktivitas di proyek yaitu :
a. Peningkatan Produktivitas terhadap Pengendalian Waktu
Pengendalian waktu dan biaya   tidaklah bisa lepas dari suatu manajemen mutu maupun produktivitas. Penyedia jasa telah membuat jadwal perencanaan yang mana pada tiap minggu akan dievaluasi apakah ada keterlambatan atau pekerjaan terjadi percepatan, hal ini oleh pelaksana di breakdown dengan laporan harian.
b. Peningkatan Produktivitas  terhadap Pengendalian Sumber Daya Manusia
Tenaga   kerja   yang   dipakai   di   proyek   sangat beragam  tingkat  kualitas dan kuantitasnya.  Dalam hal ini adalah tenaga kerja untuk tenaga yang langsung dibayarkan seperti mandor, kepala tukang, tukang dan pekerja, karena dari analisa dapat diperhitungkan atau ditaksir besaran biaya yang dikeluarkan untuk upah tenaga kerja.
Produktifitas tenaga kerja menjadi pertimbangan sebagai pengendalian biaya upah dalam Proyek, semakin meningkat produktivitasnya maka pekerjaan yang dihasilkan akan menyebabkan penurunan pengeluaran biaya, mempersingkat waktu pelaksanaan dan akan menjadikan mutu pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan.
c. Peningkatan Produktivitas  terhadap Pengendalian Material
Bahan atau material adalah besarnya jumlah bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam  satu   kesatuan pekerjaan. Pemakaian bahan atau material dalam proyek perlu direncanakan  secara efektif dan efisien serta tidak terjadi  masalah  akibat  tidak  tersedianya  material pada saat dibutuhkan. Dalam pelaksanaan proyek penggunaan  material  juga  harus  diawasi  kualitas dan kuantitasnya sesuai dengan spesifikasi dan kebutuhannya. Adapun langkah yang dilakukan oleh penyedia jasa dalam pengendalian mutunya, dengan mengadakan uji laboratorium berupa test sampel bahan yang dipakai, seperti uji tulangan baja, uji sampel beton, serta   analisa  material   lainnya. Hal ini sebagai langkah dalam mencegah terjadinya pembongkaran pekerjaan  (rework)  akibat  dari tidak  terpenuhinya spesifikasi material yang disyaratkan.
d. Peningkatan Produktivitas terhadap Pengendalian Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam suatu proyek dipengaruhi oleh produktivitas alat terhadap volume pekerjaan  yang akan  dilakukan  sedangkan  jumlah peralatan yang dibutuhkan bergantung pada durasi kegiatan, kondisi lapangan, keadaan cuaca, efisiensi alat,  kemampuan  operator,  kapasitas  dan  jumlah alat.
Untuk menentukan produktivitas alat, diperlukan data-data penggunaan peralatan dengan kondisi proyek yang tidak jauh berbeda. Dalam hal ini, penyedia jasa yang melaksanakan pekerjaan berpedoman pada pengalaman proyek- proyek sebelumnya, untuk dapat menentukan produktivitasnya, pengendalian biaya untuk komponen alat sangat penting, terutama jika alat tersebut adalah sewa. Efisiensi dan efektifitas penggunaan alat disesuaikan dengan waktu penyelesaian pekerjaan agar biaya operasional atau sewa tidak membengkak.
e. Peningkatan Produktivitas terhadap Pengendalian Sub-Kontraktor
Pada pelaksanaan proyek, ada bagian- bagian  tertentu  yang  diborongkan  kepada  pihak lain. Untuk itu, pengendalian  sub kontraktor yang masuk dan ikut terlibat dalam pelaksanaan proyek harus melalui  seleksi  baik kualitas maupun biaya, sehingga bagian pekerjaan yang dikerjakan oleh sub kontraktor  akan  menghasilkan  produk  konstruksi yang mempunyai mutu/kualitas sesuai yang direncanakan.
Dengan  melibatkan Sub  Kontraktor, maka produktifatas semakin meningkat karena ada bagian pekerjaan yang dikerjakan sub kontraktor sehingga akan memperpendek waktu pelaksanaan, dan juga dengan melalui proses seleksi sub kontraktor maka pekerjaan yang dihasilkanpun akan mempunyai mutu/kualitas sesuai yang direncanakan.
MANAJEMEN LALU LINTAS
Demi kelancaran di dalam pekerjaan dan tidak mengganggu lalu lintas kendaraan yang melintas, kami akan menempatkan personil khusus untuk mengatur lalu lintas di sekitar lokasi pekerjaan. Kami juga akan menerapkan metode buka tutup jalan sehingga diharapkan pekerjaan bisa terus berjalan dan pengguna lalu lintas juga bisa lewat.
Disamping itu kami juga akan menempatkan rambu - rambu lalu lintas dan peringatan bahwa disitu sedang dilaksanakan pekerjaan jalan dan menghimbau kepada pengguna jalan supaya mengurangi kecepatan dan berhati - hati selama melintas di lokasi tersebut.
MANAJEMEN WAKTU PELAKSANAAN
Dengan jangka waktu pelaksanaan yang hanya 5 bulan, kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan pekerjaan tepat pada waktunya. Kami akan selalu berkoordinasi dengan pihak terkait apabila terjadi permasalahan external. Adapun untuk mengejar keterlambatan, kami juga akan mengoptimalkan untuk lembur pekerjaan sehingga diharapkan pekerjaan tidak mengalami keterlambatan di dalam schedule pelaksanaan.
MANAJEMEN PENGELOLAAN MATERIAL
Material adalah hal yang harus disiapkan sejak dini, untuk itu kami sudah jauh - jauh hari menyetok material di Base Camp sebanyak banyaknya. Sedangkan untuk material yang belum tercaver, kami juga sudah sruvey ke sekitar lokasi pekerjaan dan menanyakan langsung kepada leveransir terdekat untuk kesedianyanya nanti membantu memasok material apabala dibutuhkan.
 
MANAJEMEN PERALATAN
Peralatan yang akan kami gunakan sudah kami persiapkan dan kami pastikan dalam kondisi yang baik. Adapun untuk alat yang memungkinkan untuk sewa, kami juga sudah mengecek. Untuk memaksimalkan di dalam pelaksanaan pekerjaan, kami akan mengatur mobilisasi alat sesuai dengan kebutuhan di lapangan sehingga tepat waktu, tepat mutu dan tepat guna.
ANTISIPASI CUACA
Mengingat kondisi saat ini cuaca tidak dapat diperkirakan dan sering terjadi hujan, kami berusaha untuk melakukan efisiensi waktu yang artinya bahwa dikala cuaca bagus kami akan memaksimalkan pekerjaan sehingga nantinya tidak terjadi keterlambatan kerja yang disebabkan oleh cuaca yang tidak baik.
PENGENDALIAN MUTU
Demi  menjaga Kualitas dan mutu pekerjaan, segala bentuk material yang akan digunakan untuk di uji coba terlebih dahulu pada laboratorium independent guna mengetahui mutu dari bahan / material tersebut. Apakah material tersebut memenuhi syarat spesifikasi atau tidak. Apabila didapati material tersebut tidk sesuai spesifikasi maka akan segera diganti menggunakan material baru yang memenuhi spesifikasi dengan pengujian terlebih dahulu.

October 24, 2017

Download Analisa Harga Satuan 2010 Revisi 3 Excel dan Sepesifikasi khusus Rutin Jalan dan Jembatan


Spesifikasi Umum bina marga sudah beberapa kali mengalami penyempurnaan, dimulai spesefikasi umum 2003, 2005, 2007 dan selanjutnya yang terakhir spesifikasi 2010 revisi 3 yang menjadi pedoman para pokja bina marga dalam melaksanakan pengadaan dan pedoman bagi kontraktor dan konsultan dalam melaksanakan dan pengawasan pada Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan saat ini.


Sepesifikasi 2010 sudah mengalami beberapa kali perubahan diantaranya Spesifikasi umum 2010 revisi 1, Spesifikasi umum 2010 Revisi 2 dan terakhir Spesifikasi umum 2010 revisi 3  yang terbit pertengahan tahun 2014 menggantikan Spesifikasi Umum 2010 Revisi 2 dengan beberapa revisi di tiap bab-nya. Spesifikasi Umum 2010 Revisi 3 terbit sesuai Surat Edaran Dirjen Bina Marga No. 10/SE/Db/2014 tentang Penyampaian Standar Dokumen Pengadaan dan Spesifikasi Umum 2010 (Revisi 3) untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan dan Jembatan dan Penyampaian Perangkat Lunak Analisa Harga Satuan Pekerjaan Jalan Dan Jembatan sesuai dengan Spesifikasi Umum 2010 (Revisi 3). Perlu diingat pada tahun 2016 yang lalu direktur reservasi jalan juga telah melakukan penambahan terhadap Spesifikasi umum 2010 revisi 3  dengan spesifikasi khusus tentang pemeliharaan rutin jalan dan pemeliharaan rutin jembatan.

Mungkin masih ada teman-teman yang memerlukan, Pada kesempatan ini saya akan berbagi file analisa harga satuan spesifikasi 2010 revisi 1, 2 dan terakhir revisi 3 dalam bentuk file excel.

Spesifikasi umum Bina Marga 2010 Revisi 1

Spesifikasi umum Bina Marga 2010 Revisi 2

Khusus file-file dibawah ini, jika berminat silakan menghubungi saya melalui e-mail : 99brens@gmail.com

Spesifikasi umum Bina Marga 2010 Revisi 3
  • Download Spesifikasi umum 
  • Download Analisa Harga Satuan 2010 Revisi 3

Spesifikasi umum Bina Marga 2010 Revisi 3 + Spesifikasi Khusus Rutin Jalan dan Rutin Jembatan tahun 2017
  • Spesifikasi umum
  • Analisa Harga Satuan 2010 + SKH Rutin jalan dan Rutin Jembatan

Mudah-mudahan file-file yang saya bagikan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi teman-teman, baik kontraktor, konsultan, pelaksana lapangan, maupun para Pekerja konstruksi lainnya sehingga dapat terciptanya pembangunan yang lebih baik dan bermutu.

October 23, 2017

Fungsi Analisa Harga Satuan (AHS)


Analisis ini digunakan sebagai suatu dasar untuk menyusun perhitungan harga perkiraan sendiri (HPS) atau owner’s estimate (OE) dan harga perkiraan perencana (HPP) atau engineering’s estimate (EE) yang dituangkan sebagai  kumpulan  harga  satuan  pekerjaan  seluruh  mata  pembayaran. 

Analisis harga satuan dapat diproses secara manual atau menggunakan perangkat lunak.
Yang dimaksud dengan nilai total HPS adalah hasil perhitungan seluruh volume pekerjaan dikalikan dengan Harga Satuan ditambah dengan seluruh beban pajak dan keuntungan Permen PU Nomor 07/PRT/M/2011.

Untuk pengadaan barang/jasa pemerintah sesuai dengan Perpres Nomor 70 Tahun 2012 (perubahan kedua atas Perpres  Nomor 54 Tahun 2010), nilai total HPS bersifat terbuka  dan tidak rahasia (Perpres Nomor 70 Tahun

2012, pasal 66, Ayat 3). HPS digunakan sebagai alat untuk menilai kewajaran penawaran termasuk rinciannya, dan sebagai dasar untuk menetapkan batas tertinggi penawaran yang sah, serta sebagai dasar untuk menetapkan besaran nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang nilainya lebih rendah daripada 80% (delapan puluh perseratus) nilai total HPS (ditto, Ayat 5). Penyusunan HPS dikalkulasikan secara keahlian berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan(ditto Ayat 7).

Kontrak harga satuan adalah kontrak pekerjaan yang nilai kontraknya didasarkan atas harga satuan pekerjaan (HSP) yang pasti dan mengikat atas setiap jenis pekerjaan masing-masing.Nilai kontrak adalah jumlah perkalian HSP dengan volume masing-masing jenis pekerjaan yang sesuai dengan daftar kuantitas dan harga (bill of quantity, BOQ) yang terdapat dalam dokumen penawaran.

Analisis  harga  satuan  ini  menetapkan  suatu  perhitungan  harga  satuan upah, tenaga kerja, dan bahan, serta pekerjaan yang secara teknis dirinci secara detail berdasarkan suatu metode kerja dan asumsi-asumsi yang sesuai  dengan  yang  diuraikan  dalam  suatu  spesifikasi  teknik,  gambar desain dan komponen harga satuan, baik untuk kegiatan rehabilitasi/ pemeliharaan, maupun peningkatan infrastruktur ke-PU-an.

Struktur Analisis Pekerjaan

Harga satuan pekerjaan terdiri atas biaya langsung dan biaya tidak langsung. Komponen biaya langsung terdiri atas upah, bahan dan alat, sedangkan komponen biaya tidak langsung terdiri atas biaya umum atau overhead dan keuntungan.
Struktur Analisis Harga Satua Dasar Alat Mekanis

Semua ketentuan normatif pada pedoman ini harus diikuti sepenuhnya, sedangkan yang bersifat informatif hanya untuk memberikan contoh perhitungan AHSP terkait. Penggunaan Pedoman AHSP ini seharusnya disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lokasi pekerjaan. 
Struktur Analisis Harga Satuan Dasar Bahan


Namun untuk hal-hal tertentu yang belum tercantum dalam salah satu sektor dari pedoman  ini    dimungkinkan  untuk  menggunakan  AHSP  pada  sektor lainnya. Selanjutnya jika belum juga tercantum dalam pedoman ini dapat menggunakan AHSP berdasarkan referensi lain yang sudah ditetapkan oleh Peraturan Daerah dan/atau atas persetujuan pengguna jasa. 

Mengenal Istilah-Istilah Dalam Analisa Harga Satuan Pekerjaan Bidang Umum


Banyak istilah yang dipakai dalam Analisa harga Satuan dalam Bidang Pekerjaan Umum, Istilah dan difinisi tersebut wajib kita ketahui ketika kita ingin merencanaankan dan melakukan penawaran pekerjaan di dalam lingkungan pekerjaan umum.

Berikut istilah dan difinisi tersebut  yang banyak digunakan di dalam Analisa harga Satuan (AHSP):

AC (asphaltic concrete) atau beton aspal
perkerasan beton aspal campuran panas bergradasi menerus
AC-WC (asphaltic concrete-wearing course)
perkerasan beton aspal sebagai lapis permukaan
AC-BC (asphaltic concrete-binder course)
perkerasan beton aspal sebagai lapis pengisi
Air tanah
air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah
Harga pokok alat
harga pembelian peralatan yang bersangkutan sampai di gudang pembeli
Nilai sisa alat
nilai  harga  peralatan  yang  bersangkutan  pada  saat  akhir  masa  umur ekonomisnya
Analisis harga satuan pekerjaan (AHSP)
perhitungan kebutuhan biaya tenaga  kerja, bahan dan peralatan untuk mendapatkan harga satuan atau satu jenis pekerjaan tertentu
Analisis produktivitas
uraian masalah dan keadaan dalam membandingkan antara output (hasil produksi) dan input (komponen produksi: tenaga kerja, bahan, peralatan,
dan waktu)
Asbuton (aspal batu buton)
aspal  alam  berbentuk  bongkahan  batu  dari  pulau  Buton,  Sulawesi Tenggara, Indonesia 
Bahan baku
bahan di suatu lokasi tertentu atau sumber bahan (quarry) dan merupakan bahan dasar yang belum mengalami pengolahan (contoh : batu, pasir dan lain-lain), atau bahan yang diterima di gudang atau base camp yang diperhitungkan dari sumber bahan, setelah memperhitungkan ongkos bongkar-muat dan pengangkutannya
Bahan jadi
bahan yang merupakan bahan jadi (contoh : tiang pancang beton pencetak,
kerb beton, parapet beton dan lain-lain) yang diperhitungkan diterima di
base camp/ gudang atau di pabrik setelah memperhitungkan ongkos bongkar-buat dan pengangkutannya serta biaya pemasangan (bila diperlukan)
Bahan olahan
bahan yang merupakan produksi suatu pabrik tertentu atau plant atau
membeli dari produsen (contoh : agregat kasar, agregat halus dan lain-lain)
Bangunan gedung dan perumahan
bangunan   yang   berfungsi   untuk   menampung   kegiatan   kehidupan bermasyarakat
Bendung
bangunan  air  dengan  kelengkapannya  yang  dibangun  melintang  sungai atau sudetan yang sengaja dibuat untuk meninggikan taraf muka air atau untuk mendapatkan tinggi terjun, sehingga air sungai dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi atau dengan pompa ke tempat-tempat tertentu yang membutuhkannya dan atau untuk mengendalikan dasar sungai, debit dan angkutan sedimen
Bendungan
bangunan  yang  berupa  urugan  tanah,  urugan  batu,  beton,  dan/atau pasangan batu yang dibangun selain untuk menahan dan menampung air, dapat pula dibangun untuk menahan dan menampung limbah tambang (tailing), atau menampung lumpur sehingga terbentuk waduk
Intake
bagian  dari  bendung  atau  bendungan  yang  berfungsi  sebagai  penyadap aliran sungai 
Pelimpah
bangunan  yang  berfungsi  untuk  melewatkan  debit  aliran  sungai  secara
terkendali
Biaya langsung
komponen  harga  satuan  pekerjaan  yang  terdiri  atas  biaya  upah,  biaya bahan dan biaya alat
Biaya tidak langsung
komponen harga satuan pekerjaan yang terdiri atas biaya umum (overhead) dan  keuntungan,  yang  besarnya  disesuaikan  dengan  ketentuan  yang berlaku
Bidang pekerjaan umum
bidang pekerjaan yang meliputi kegiatan pekerjaan Sumber Daya Air, Bina
Marga dan Cipta Karya
Burda (laburan aspal dua lapis)
perkerasan beraspal dengan sistem penyiraman, yaitu dua lapisan agregat
dengan jumlah dan ukuran tertentu, masing-masing ditaburkan di atas aspal yang dicairkan dan disiramkan di atas permukaan beraspal lama atau pondasi agregat, masing-masing dengan jumplah aspal tertentu
Burtu (laburan aspal satu lapis)
perkerasan beraspal dengan sistem penyiraman, yaitu satu lapisan agregat dengan  jumlah  dan  ukuran  tertentu,  ditaburkan  di  atas  aspal  yang dicairkan dan disiramkan secara merata di atas permukaan beraspal lama, dengan jumlah aspal tertentu
CBA asbuton Lawele (CBA-Asb Lawele)
campuran  beraspal  panas  dengan  asbuton  dari  Lawele,  pulau  Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia
Cement Treated Base (CTB)
beton semen pondasi atas 
Cement Treated Subbase (CTSB)
beton semen pondasi bawah
CMRFB (cold mix recycled by foam bitumen)
campuran antara reclaimed asphalt pavement (RAP) dan agregat baru (bila diperlukan) serta busa aspal (foamed bitumen) yang dicampur di unit produksi campuran aspal atau pencampuran di tempat (in place), dihampar dan dipadatkan dalam keadaan dingin
Daftar kuantitas dan harga atau bill of quantity (BOQ)
daftar rincian pekerjaan yang disusun secara sistematis menurut kelompok/bagian pekerjaan, disertai KETERANGAN mengenai volume dan satuan setiap jenis pekerjaan.
Harga perkiraan perencana (HPP) atau engineering’s estimate (EE)
perhitungan  perkiraan  biaya  pekerjaan  yang  dihitung  secara  profesional oleh   perencana,   yang   digunakan   sebagai   salah   satu   acuan   dalam melakukan penawaran suatu pekerjaan tertentu
Harga perkiraan sendiri (HPS) atau owner’s estimate (OE)
hasil perhitungan seluruh volume pekerjaan dikalikan dengan Harga Satuan ditambah dengan seluruh pajak dan keuntungan.
Harga satuan dasar (HSD)
harga komponen dari mata pembayaran dalam satuan tertentu, misalnya: bahan (m, m², m³, kg, ton, zak, dan sebagainya), peralatan (unit, jam, hari, dan sebagainya), dan upah tenaga kerja (jam, hari, bulan, dan sebagainya)
Harga satuan dasar alat
besarnya biaya yang dikeluarkan pada komponen biaya alat yang meliputi biaya  pasti  dan  biaya  tidak  pasti  atau  biaya operasi per satuan waktu tertentu, untuk memproduksi satu satuan pengukuran pekerjaan tertentu
Harga satuan dasar bahan
besarnya   biaya   yang   dikeluarkan   pada   komponen   bahan   untuk memproduksi satu satuan pengukuran pekerjaan tertentu 
Harga satuan dasar tenaga kerja
besarnya biaya yang dikeluarkan pada komponen tenaga kerja per satuan waktu tertentu, untuk memproduksi satu satuan pengukuran pekerjaan
tertentu
Harga satuan pekerjaan (HSP)
biaya yang dihitung dalam suatu analisis harga satuan suatu pekerjaan,yang terdiri atas biaya langsung (tenaga kerja, bahan, dan alat), dan biaya tidak langsung (biaya umum atau overhead, dan keuntungan) sebagai mata pembayaran suatu jenis pekerjaan tertentu, belum termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
HRS (hot rolled sheet) atau lapis tipis beton aspal campuran panas (LATASTON)
perkerasan beton aspal campuran panas bergradasi senjang
HRS-WC (hot rolled sheet wearing course)
lapis tipis beton aspal (LATASTON) untuk lapis permukaan
HRS-Base (hot rolled sheet - base)
lapis tipis beton aspal (LATASTON) untuk lapis pondasi
Jaringan irigasi
saluran,  bangunan,  dan  bangunan  pelengkapnya  yang  merupakan  satu
kesatuan  yang  diperlukan  untuk  penyediaan,  pembagian,  pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi
Koefisien
faktor pengali atau koefisien sebagai dasar penghitungan biaya bahan, biaya alat, dan upah tenaga kerja
Koefisien bahan
indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan volume  pekerjaan
Koefisien tenaga kerja
indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan
setiap satuan volume  pekerjaan 
Koefisien tenaga kerja atau kuantitas jam kerja
faktor  yang  menunjukkan  kebutuhan  waktu  untuk  menyelesaikan  satu satuan  volume  pekerjaan,  berdasarkan  kualifikasi  tenaga  kerja  yang
diperlukan
Lokasi pekerjaan
tempat suatu pekerjaan dilaksanakan
LPA-A (lapis pondasi agregat kelas A)
pondasi agregat untuk perkerasan jalan menggunakan gradasi kelas-A
LPPA (lapis pondasi pasir aspal)
campuran antara pasir dan aspal keras sebagai pondasi jalan, yang dicampur di unit pencampur aspal, dihampar dan dipadatkan dalam keadaan panas pada temperatur tertentu
LPMA (lapis penetrasi Macadam asbuton)
perkerasan  jalan  yang  terdiri  atas  agregat  pokok  dan  agregat  pengunci
bergradasi seragam yang diikat oleh butiran asbuton Lawele dengan cara dihamparkan di atas agregat pokok, dipadatkan lapis demi lapis; setelah agregat pengunci dipadatkan, dihampar butiran asbuton lawele kembali kemudian diberi agregat penutup dan dipadatkan
Mata pembayaran
jenis pekerjaan yang secara tegas dinyatakan dalam dokumen lelang sebagai
bagian dari pekerjaan yang dilelang yang dapat dibayar oleh pemilik (owner)
Metode kerja
cara  kerja  untuk  menghasilkan  suatu  jenis  pekerjaan/bagian  pekerjaan
tertentu sesuai dengan spesifikasi teknik yang ditetapkan dalam dokumen lelang
Overhead
biaya yang diperhitungkan sebagai biaya operasional dan pengeluaran biaya kantor pusat yang bukan dari biaya pengadaan untuk setiap mata pembayaran,   biaya   manajemen,   akuntansi,   pelatihan   dan   auditing, perizinan, registrasi, biaya iklan, humas dan promosi, dan lain sebagainya 
Pedoman
acuan yang bersifat umum yang harus dijabarkan lebih lanjut dan dapat
disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan daerah setempat.
Pengaman pantai
upaya  untuk  melindungi  dan  mengamankan  daerah  pantai  dan  muara sungai dari kerusakan akibat erosi, abrasi, dan akresi
Krib laut
bangunan yang dibuat tegak lurus atau kira-kira tegak lurus pantai, berfungsi mengendalikan erosi yang disebabkan oleh terganggunya keseimbangan angkutan pasir sejajar pantai (long shore sand drift)
Pemecah gelombang
konstruksi pengaman pantai yang posisinya sejajar atau kira-kira sejajar
garis pantai dengan tujuan    untuk meredam gelombang datang
Revetmen
struktur  di  pantai  yang  dibangun  menempel  pada  garis  pantai  dengan
tujuan untuk melindungi pantai yang tererosi
Tanggul laut
bangunan pengaman pantai yang bertujuan agar daerah yang dilindungi
tidak tergenang atau terlimpas oleh air laut; konstruksinya adalah kedap air
Tembok laut
bangunan pengaman pantai yang bertujuan untuk melindungi kawasan di belakang  tembok  laut  agar  pantai  tidak  tererosi.  Konstruksinya  dapat berupa dinding masif atau tumpukan batu
Pengaman sungai
upaya   untuk   mencegah   dan   menanggulangi   terjadinya   kerusakan
lingkungan yang disebabkan oleh banjir
Krib
bangunan air yang dibuat melintang sungai mulai dari tebing sungai ke
arah   tengah   guna   mengarahkan   arus   dan   melindungi   tebing   dari
penggerusan dan juga dapat berfungsi sebagai pengendali alur 
Tanggul
salah  satu  bangunan  pengendali  sungai  yang  fungsi  utamanya  untuk
membatasi penyebaran aliran lahar, mengarahkan aliran lahar juga dapat
dimanfaatkan untuk keperluan lain
Pengendali muara sungai
bangunan untuk mengendalikan muara meliputi penutupan, pemindahan
dan pendangkalan  alur sungai
Jeti
salah satu bangunan pengendali muara yang dibangun untuk stabilisasi
muara sungai dan perbaikan alur sungai
Pengerukan
proses pengambilan tanah atau material dari lokasi di dasar air, biasanya
perairan dangkal seperti danau, sungai, muara ataupun laut dangkal, dan
memindahkan atau membuangnya ke lokasi lain
Rawa
sumber daya air berupa genangan air terus-menerus atau musiman yang
terbentuk secara alamiah di atas lahan yang pada umumnya mempunyai kondisi topografi relatif datar dan/atau cekung, struktur tanahnya berupa tanah organik/gambut dan/atau mineral mentah, mempunyai derajat keasaman air yang tinggi, dan/atau terdapat flora dan fauna yang spesifik
Satuan pekerjaan
satuan jenis kegiatan konstruksi bangunan yang dinyatakan dalam satuan
panjang, luas, volume, dan unit
Waktu siklus
waktu yang diperlukan suatu alat untuk beroperasi pada pekerjaan yang
sama secara berulang, yang akan berpengaruh terhadap kapasitas produksi dan koefisien alat

September 10, 2017

Metode Pelaksanaan Sandaran (Railing) Jembatan


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Sandaran (Railing) Jembatan

Pekerjaan ini terdiri dari penyediaan, fabrikasi dan pemasangan sandaran baja untuk jembatan dan pekerjaan lainnya seperti galvanisasi, pengecatan, tiang sandaran, pelat dasar, baut pemegang, dan sebagainya, sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan dan memenuhi Spesifikasi ini.
Jaminan Mutu
Mutu bahan yang dipasok, kecakapan kerja dan hasil akhir harus dipantau dan diken-dalikan sebagaimana yang disyaratkan dalam Standar Rujukan dalam Pasal 7.13.1.(5)

Toleransi
Diameter lubang:
+ 1 mm, - 0,4 mm
Tiang Sandaran:
Akan dipasang baris demi baris serta ketinggian, tiang-tiang harus tegak dengan toleransi tidak melampaui 3 mm per meter tinggi. 
Sandaran (railing):
Panel sandaran yang berbatasan harus segaris satu dengan lainnya dalam rentang 3 mm.
Kelengkungan:
Sandaran harus memenuhi kurva jembatan. Kurva ini dapat dibentuk dengan serangkaian tali antara tiang. 
Tampak:
Sandaran harus menunjukkan penampilan yang halus dan seragam jika dalam posisi akhir.

Pengajuan kesipan kerja
Kontraktor  harus  menyerahkan gambar kerja untuk disetujui Direksi Pekerjaan untuk setiap jenis sandaran baja yang akan dipasang. Fabrikasi tidak boleh dimulai sebelum gambar kerja disetujui.
Kontraktor  harus menyerahkan sertifikat pabrik pembuat sandaran baja yang menunjukkan mutu baja, pengelasan, dan sebagainya.

Penyimpanan
Bagian-bagian baja harus ditangani dan disimpan dengan hati-hati dalam tempat ter-tentu, rak atau landasan, dan tidak boleh bersentuhan langsung dengan permukaan tanah serta harus dilindungi dari korosi. Bahan harus dijaga agar bebas dari debu, minyak, gemuk dan benda-benda asing lainnya. Permukaan yang dicat harus dilindungi baik di bengkel maupun di lapangan. Sekrup-sekrup harus dilindungi dari kerusakan

Perbaikan terhadap pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan
Selama pengangkutan, penyimpanan, penanganan atau pemasangan, setiap san-daran yang mengalami kerusakan berat seperti melengkung atau penyok, harus diganti. Sandaran yang mengalami kerusakan  pada pengelasan harus dikem-balikan ke bengkel untuk diperbaiki pengelasannya dan digalvanisasi ulang.

Sandaran yang mengalami kerusakan pada galvanisasi atau pengecatan harus dikembalikan ke bengkel dan diperbaiki sampai baik. Kerusakan kecil pada pekerjaan cat mungkin dapat diperbaiki di lapangan, sesuai dengan persetujuan dari Direksi Pekerjaan.

Pemeliharaan Pekerjaan yang telah diterima
Tanpa mengurangi kewajiban Kontraktor untuk melaksanakan perbaikan terhadap pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan atau gagal sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 7.13.1.(8) di atas, Kontraktor juga harus bertanggungjawab atas pemeliharaan rutin dari semua sandaran jembatan yang telah selesai dan diterima selama Periode Kontrak termasuk Periode Pemeliharaan. Pekerjaan pemeliharaan rutin tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan Seksi 10.1 dari Spesifikasi ini dan harus dibayar terpisah menurut Pasal 10.1.7

Peralatan
Fabrikasi umumnya harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dari Seksi 7.4 Baja Struktur. Sandaran harus difabrikasi di bengkel yang disetujui. Sambungan pada panel yang berbatasan harus sangat tepat (match-marked) untuk maksud pemasangan.

Pengelasan
Pengelasan harus dilaksanakan oleh tenaga yang trampil, dengan cara yang ahli, mengetahui detil semua sifat-sifat bahan. Lapisan yang terekspos harus dikupas, digosok, dikikir dan dibersihkan untuk mendapatkan penampilan yang bersih sebelum digalvanisasi. Pelat dasar harus dilas ke tiang-tiang untuk menghitung setiap ketinggian yang diberi-kan dalam Gambar dan dengan cara yang sedemikian hingga tiang-tiang ini akan tegak jika dalam posisi akhir.

Galvanisasi
Semua bagian baja harus digalvanisasi sesuai dengan AASHTO M111 - 90 Galva-nizing., kecuali jika galvanisasi ini telah mempunyai tebal minimum 80 mikron. Pekerjaan pengeboran dan pengelasan harus sudah selesai sebelum galvanisasi. Agar kondensasi uap air dapat lolos setelah fabrikasi sebelum galavanisasi, pipa harus dilengkapi dengan lubang yang ditunjukkan dalam Gambar. Setiap penambahan lubang yang diperlukan untuk pengaliran atau diperlukan untuk galvanisasi harus diletakkan dalam posisi yang sedemikian hingga tidak langsung tampak dan tidak mengurangi kapasitas pipa terhadap beban. Pipa harus digalvanisasi luar dan dalam. Setelah galvanisasi elemen-elemen sandaran selesai, pengelasan atau pengeboran tidak boleh dilakukan tanpa persetujuan Direksi Pekerjaan. Perbaikan galvanisasi, selanjutnya akan dilaksanakan (setelah semua karat, uap air, galvanisasi yang mengelupas, minyak dan benda-benda asing lainnya telah dibersihkan) dengan 3 lapis cat dasar serbuk seng (zinc dust) yang bermutu tinggi dan awet seperti yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Pelaksanaan
Pemasangan harus sesuai dengan Seksi 7.4 Baja Struktur. Sandaran harus dipasang dengan hati-hati sesuai dengan garis dan ketinggian yang ditunjukkan dalam Gambar. Sandaran harus disetel dengan hati-hati sebelum dimatikan agar dapat memperoleh sambungan yang tepat, alinyemen yang benar dan lendutan balik (camber) pada seluruh panjang. Persetujuan dari Direksi Pekerjaan harus diperoleh sebelum sandaran dimatikan. Kontraktor akan memberitahukan Direksi Pekerjaan bilamana pemeriksaan dan persetujuannya diperlukan.


September 9, 2017

Manfaat Dibangunnya Jalan Paralel Kalimantan


Manfaat utama dibangunnya Jalan Paralel Kalimantan adalah sebagai Sarana Pemersatu Bangsa, dan dapat menunjukkan wajah dan identitas diri Bangsa Idonesia sebenarnya kepada negara tetangga.
   
Peta Rencana Jalan Paralel Kalimantan

Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel. 

Wilayah Kalimantan menjadi salah satu kawasan prioritas yang dikembangkan pemerintah untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2020 mendatang sebesar 5,4-6,1%. 
Maklum, sebaran penyumbang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didominasi oleh Jawa yang mencakup 58,29% dari total, kemudian disusul Sumatera 22,21%, Kalimantan 8,15%, Sulawesi 5,92%, Bali dan Nusa Tenggara 3,06%, Papua 1,85% dan Maluku 0,52%.

Ruas Jalan Nanga Badau Lanjak, Timbunan Pilihan, Foto Harsa Tete

Salah satu agenda pembangunan prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kalimantan adalah menuntaskan pekerjaan jalan paralel perbatasan yang dibangun sejajar dengan garis perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan, di mulai dari Barat (Kalbar) sampai ke Timur (Kaltara)

Selama dua tahun terakhir, atau sejak 2015 hingga 2017, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Raktar (PUPR) telah membangun, dan membuka jalan perbatasan Kalimantan.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tentang rencana pengembangan wilayah Kalimantan, seperti dikutip detikFinance di Jakarta, Selasa (16/5/2017), pembangunan jalan paralel perbatasan Kalimantan membutuhkan dana sebesar Rp 3,02 triliun. 

Ruas Jalan Nanga Badau Lanjak, Pekerjaan LPB, Foto Harsa Tete

Dari total 849,76 kilometer (km) jalan paralel perbatasan di Kalbar, hingga akhir 2017 diproyeksikan ada sepanjang 742,4 km yang sudah dibuka jalurnya. Sehingga sisanya sekitar 107,3 km yang belum dibuka, ditarget sudah bisa dibuka 100% dan fungsional pada 2018 mendatang.

Adapun kondisi saat ini, jalan paralel perbatasan yang telah dilapisi tanah sudah mencapai 323,57 km, sementara 490,52 km sisanya baru berbentuk agregat atau berupa tanah dan batu. 
Sama seperti membangun jalan Trans Papua, pembangunan jalan paralel perbatasan ini melibatkan pihak TNI Angkatan Darat (AD) untuk bisa membuka jalan.

Ruas Jalan Nanga Badau Lanjak, Pekerjaan LPB, Foto Harsa Tete

Kementerian PUPR menargetkan dari 849,76 km jalan paralel perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan Barat (Kalbar), sepanjang 359,25 km (42%) bakal teraspal pada tahun 2019, sementara sisanya 490,52 km lagi (58%) akan dilakukan pengaspalan secara bertahap.
Warga di daerah perbatasan sangat membutuhkan akses jalan supaya kegiatan ekonomi berjalan lancar. Adanya infrastruktur dasar seperti ini diyakini akan membuka potensi investasi untuk tumbuh, sehingga meningkatkan pendapatan daerah. (dna/dna)

Lingkup Jalan Paralel Kalimantan

Proyek pembangunan jalan paralel tersebut, melingkupi pekerjaan jalan paralel perbatasan Kalbar sepanjang 849,76 kilometer (km) yang terbagi dalam 12 koridor ruas. Koridor-koridor tersebut yaitu Temajuk-Aruk (90 km), Aruk-Seluas (78 km), Seluas-Entikong (84 km), Entikong-Rasau (99 km), Rasau-Sepulau-Sintang (99 km), Sintang-Nanga Badau (43 km). Kemudian Nanga Badau-Lanjak (46 km), Lanjak–Mataso (26 kilometer), Mataso-Tanjung Kerja (56 km), Tanjung Kerja-Putussibau (37,84 km), Putussibau-Nanga Era (37 km), Nanga Era-Batas Kalimantan Timur (158 km).

Manfaat dibangunnya Jalan Paralel :

  1. Sebagai sarana pemersatu bangsa, dengan dibangunnya jalan paralel perbatasan kalimantan,ada konektivitas antar kampung, kecamatan, kabupaten dan antara provinsi di perbatasan kalimantan
  2. Membuat wilayah atau Beranda terdepat lebih berkembang, sehingga dapat menunjukkan wajah dan identitas diri Bangsa Idonesia sebenarnya kepada negara tetangga.
  3. Bagi Masyarakat perbatasan, jalan paralel yang menghubungkan wilayah di sisi Timur, Tengah dan Barat yang selama ini terputus-putus. dapat menggerakkan arus pergerakan barang dan jasa, yang dulunya menggunakan jalur sungai dan udara kini bisa dilakukan melalui jalur darat yang biayanya lebih murah.
  4. Sebagai sarana dan garda terdepan menjaga kedaulatan bangsa, dibangunnya jalan paralel memudahkan pengawasan terhadap patok-patok perbatasan antar kedua negara
  5. Menciptakan pusat kawasan ekonomi baru, Tentunya guna menggerakkan ekonomi daerah pinggiran di Pulau Kalimantan

Perkebangan Pembangunan Jalan Paralel Kalimantan :

Progres pembangunan jalan paralel perbatasan Kalimantan dari Temajuk -  Batas Kalimantan Timur (Kaltim) dengan total panjang 849,76 km, pada akhir 2016 telah tembus dengan kondisi aspal sepanjang 289,3 km, tembus dengan kondisi agregat perkerasan tanah sepanjang 371,85 km dan sisanya 188,61 km belum tersambung.  

Metode Pelaksanaan Pasangan Batu


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pasangan Batu

Pasangan batu biasa digunakan pada talud penahan jalan, Opret Jembatandan pada lokasi tertentu yang mebutuhkan penanganan dengan menggunakan talud atau dinding penahan.

Pekerjaan ini meliputi pemasokan semua bahan, galian, penyiapan pondasi dan seluruh pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan struktur sesuai dengan Spesifikasi ini dan memenuhi garis, ketinggian, potongan dan dimensi seperti yang ditunjukkan dalam Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan.

Berikut Tahapan Pelaksanaan pekerjaan Pasangan Batu tersebut :
  1. Pondasi untuk struktur pasangan batu harus disiapkan sesuai dengan syarat untuk Galian.
  2. Terkecuali disyaratkan lain atau ditunjukkan pada Gambar, dasar pondasi untuk struktur dinding penahan harus tegak lurus, atau bertangga yang juga tegak lurus terhadap muka dari dinding. Untuk struktur lain, dasar pondasi harus mendatar atau bertangga yang juga horisontal.
  3. Lapis landasan yang rembes air (permeable) dan kantung penyaring harus disediakan bilamana disyaratkan sesuai dengan ketentuan dalam Drainase Porous.
  4. Bilamana ditunjukkan dalam Gambar, atau yang diminta lain oleh Direksi Pekerjaan, suatu pondasi beton mungkin diperlukan. Beton yang digunakan harus memenuhi ketentuan.
  5. Landasan dari adukan baru paling sedikit 3 cm tebalnya harus dipasang pada pondasi yang disiapkan sesaat sebelum penempatan masing-masing batu pada lapisan pertama. Batu besar pilihan harus digunakan untuk lapis dasar dan pada sudut-sudut. Perhatian harus diberikan untuk menghindarkan pengelompokkan batu yang berukuran sama.
  6. Batu harus dipasang dengan muka yang terpanjang mendatar dan muka yang tampak harus dipasang sejajar dengan muka dinding dari batu yang terpasang.
  7. Batu harus ditangani sedemikian hingga tidak menggeser atau memindahkan batu yang telah terpasang. Peralatan yang cocok harus disediakan untuk memasang batu yang lebih besar dari ukuran yang dapat ditangani oleh dua orang. Menggelindingkan atau menggulingkan batu pada pekejaan yang baru dipasang tidak diperkenankan.
  8. Sebelum pemasangan, batu harus dibersihkan dan dibasahi sampai merata dan dalam waktu yang cukup untuk memungkinkan penyerapan air mendekati titik jenuh. Landasan yang akan menerima setiap batu juga harus dibasahi dan selanjutnya landasan dari adukan harus disebar pada sisi batu yang bersebelahan dengan batu yang akan dipasang.
  9. Tebal dari landasan adukan harus pada rentang antara 2 cm sampai 5 cm dan merupakan kebutuhan minimum untuk menjamin bahwa seluruh rongga antara batu yang dipasang terisi penuh.
  10. Banyaknya adukan untuk landasan yang ditempatkan pada suatu waktu haruslah dibatasi sehingga batu hanya dipasang pada adukan baru yang belum mengeras. Bilamana  batu menjadi longgar atau lepas setelah adukan mencapai pengerasan awal, maka batu tersebut harus dibongkar, dan adukannya dibersihkan dan batu tersebut dipasang lagi dengan adukan yang baru.
  11. Dinding dari pasangan batu harus dilengkapi dengan lubang sulingan. Kecuali ditunjukkan lain pada Gambar atau diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, lubang sulingan harus ditempatkan dengan jarak antara tidak lebih dari 2 m dari sumbu satu ke sumbu lainnya dan harus berdiameter 50 mm.
  12. Pada struktur panjang yang menerus seperti dinding penahan tanah, maka delatasi harus dibentuk untuk panjang struktur tidak lebih dari 20 m. Delatasi harus 30 mm lebarnya dan harus diteruskan sampai seluruh tinggi dinding. Batu yang digunakan untuk pembentukan sambungan harus dipilih sedemikian rupa sehingga membentuk sambungan tegak yang bersih dengan dimensi yang disyaratkan di atas.
  13. Timbunan di belakang delatasi haruslah dari bahan Drainase Porous berbutir kasar dengan gradasi menerus yang dipilih sedemikian hingga tanah yang ditahan tidak dapat hanyut jika melewatinya, juga bahan Drainase Porous tidak hanyut melewati sambungan.
  14. Sambungan antar batu pada permukaan harus dikerjakan hampir rata dengan permukaan pekerjaan, tetapi tidak sampai menutup batu, sebagaimana pekerjaan dilaksanakan.
  15. Terkecuali disyaratkan lain, permukaan horisontal dari seluruh pasangan batu harus dikerjakan dengan tambahan adukan tahan cuaca setebal 2 cm, dan dikerjakan sampai permukaan tersebut rata, mempunyai lereng melintang yang dapat menjamin pengaliran air hujan, dan sudut yang dibulatkan. Lapisan tahan cuaca tersebut harus dimasukkan ke dalam dimensi struktur yang disyaratkan.
  16. Segera setelah batu ditempatkan, dan sewaktu adukan masih baru, seluruh permukaan batu harus dibersihkan dari bekas adukan.
  17. Permukaan yang telah selesai harus dirawat seperti yang disyaratkan untuk Pekerjaan Beton.
  18. Bilamana pekerjaan pasangan batu yang dihasilkan cukup kuat, dan dalam waktu yang tidak lebih dini dari 14 hari setelah pekerjaan pasangan selesai dikerjakan, penimbunan kembali harus dilaksanakan seperti disyaratkan, atau seperti diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, sesuai dengan ketentuan yang berkaitan dengan Timbunan, atau Drainase Porous.
  19. Lereng yang bersebelahan dengan bahu jalan harus dipangkas dan untuk memperoleh bidang antar muka rapat dan halus dengan pasangan batu sehingga akan memberikan drainase yang lancar dan mencegah gerusan pada tepi pekerjaan pasangan batu.

Setelah selesai pekerjaan tersebut kemudian diadakan pengukuran mutual check bersama. Hasil pengukuran mutual check bersama dituangkan dalam gambar dan ditanda tangani bersama.

Perhitungan volume dan pembayaran untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut diatas, diperhitungkan dalam satuan M3. 

September 8, 2017

Metode Pelaksanaan Perletakan Elastomerik Alam Pada Jembatan


Metode Pelaksanaan Pekerjaan Perletakan Elastomerik Alam atau Bantalan Jembatan

Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads adalah salah satu dari jenis tumpuan jembatan (bearing bridge ) yang sangat simple,ekonomis dan mudah instalasinya ( pemasangannya ) dibandingkan dari berbagai Jenis Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads lainnya.
Letak Pemasangan Elastomerik Alam Pada Jembatan
Produk Elastomerik Alam
Jenis tumpuan ( bearing ) ini paling banyak digunakan pada konstruksi jembatan dibandingkan jenis lainnya. Sedangkan Fungsi Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads hampir sama dengan jenis tumpuan yang lainnya.

Desain yang simple, ekonomis, tidak korosi,mudah di instalasi dan perawatannya yang mudah/murah menjadi pertimbangan tersendiri untuk pemilihan jenis tumpuan ini. Di Indonesia jenis tumpuan ini sudah sangat dikenal oleh para konsultan maupun kontraktor jembatan. Departemen Pekerjaan Umum bekerja sama dengan BSN telah mengatur SNI Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads dengan dikeluarkannya SNI 3967 : 2008 yang mengatur Spesifikasi bantalan elastomer tipe polos dan tipe berlapis untuk perletakan jembatan. SNI ini mengadopsi dari Standard International : AASHTO M 251-06, Standard spesicifcation for plain and laminated elastomeric bridge bearings

Elastomeric yang akan dipasang harus dilakukan pengujian oleh laboratorium independent baik pengujian secara kekanis maupun pengujian bahan dan memenuhi ketentuan yang tercantum dalam SNI 3967-2008 dengan ketentuan jumlah benda uji.

Ada 2 Type Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads :
1. Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads type polos
2. Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads type berlapis

Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads type polos :
Merupakan Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads yang dibuat dari material ( Bahan Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads ) karet alam ( natural rubber ) maupun Karet Sintetis ( seperti Neoprene) tanpa di insert /disisipkan lembaran pelat baja tipis ( biasanya tebal 3 mm ) didalamnya. Tumpuan jenis ini biasanya dipakai pada jembatan dengan tingkat pembebanan rendah.

Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads type berlapis :
Merupakan Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads yang dibuat dari bahan ( Bahan Karet Bantalan Jembatan atau Elastomeric Bearing Pads ) karet alam ( natural rubber ) maupun Karet Sintetis ( seperti Neoprene) yang didalamnya di insert /disisipkan lembaran pelat baja tipis ( biasanya tebal 3 mm). Tumpuan jenis ini biasanya dipakai pada jembatan dengan tingkat pembebanan yang lebih tinggi. Adanya lembaran-lembaran pelat baja tipis ( minimal 3 lembar ) yang ada didalamnya dapat mencegah terjadinya penggembungan ( bulging ).

Metode Pelaksanaan Pekerjaan Perletakan Elastomerik Alam tersebut sebagai berikut :

  1. Perletakan harus ditandai dengan jelas tentang jenis dan tempat pemasangan pada saat tiba ditempat kerja. Alat – alat pengamanan yang cocok harus disediakan sebagaimana diperlukan. Alat – alat penjepit sementara harus digunakan untuk menjaga orientasi bagian-bagian dengan tepat.
  2. Peralatan yang digunakan adalah : Concrate Mixer dan alat bantu

Landasan Perletakan
Pemilihan bahan landasan harus berdasarkan cara pemasangan perletakan, ukuran celah yang akan diisi, kekuatan yang diperlukan dan waktu pengerasan (setting time) yang diperlukan. Dalam pemilihan bahan landasan, maka faktor-faktor berikut harus diper-timbangkan : jenis perletakan; ukuran peletakan; pembebanan pada perletakan; urutan dan waktu pelaksanaan; pembebanan dini; ketentuan geser (friction); pengaturan dowel; ruangan untuk mencapai perletakan; tebal bahan yang diperlukan; rancangan dan kondisi permukaan pada lokasi perletakan; penyusutan bahan landasan.

Komposisi dan kelecakan (workability) bahan landasan harus dirancang berdasarkan pengujian dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas. Dalam beberapa hal, mung-kin perlu melakukan percobaan untuk memastikan bahan yang paling cocok. Bahan yang umum digunakan adalah adukan semen atau resin kimiawi, adukan encer (grout) dan kemasan kering. Penggunaan bahan seperti timbal, yang cenderung meleleh di bawah tekanan beban, meninggalkan bintik-bintik besar, harus dihindarkan.

Untuk menjamin agar pembebanan yang merata pada perletakan dan struktur penyangga, maka perlu digarisbawahi bahwa adalah setiap bahan landasan, baik di atas maupun di bawah perletakan, harus diperluas ke seluruh daerah perletakan.

Penyetelan Perletakan 
Perletakan elastomer dapat diletakkan langsung pada beton, asalkan berada dalam tole-ransi yang disyaratkan untuk kedataran dan kerataan. Sebagai alternatif, perletakan tersebut harus diletakkan pada suatu lapisan bahan landasan

Perletakan yang menunjang lantai beton cor langsung di tempat
Bilamana perletakan dipasang sebelum pengecoran langsung lantai beton, maka acuan sekitar perletakan harus ditutup dengan rapi untuk mencegah kebocoran adukan encer. Perletakan, terutama permukaan bidang kontak, harus dilindungi sepenuhnya selama operasi pengecoran. Pelat geser harus ditunjang sepenuhnya dan perhatian khusus  harus diberikan untuk mencegah pergeseran, pemindahan atau distorsi perletakan akibat beban beton yang masih basah di atas perletakan. Setiap adukan semen yang mengotori per-letakan harus dibuang sampai bersih sebelum mengeras.

Perletakan Yang Menyangga Unit-unit Beton Pracetak atau Baja
Suatu lapisan tipis adukan resin sistesis harus ditempatkan antara perletakan dan balok. Sebagai alternatif, perletakan dengan pelat perletakan sisi luar dapat dibaut pada pelat jangkar, pada soket yang tertanam dalam elemen pracetak, atau pada pelat tunggal yang dibuat dengan mesin di atas elemen baja.



September 6, 2017

Metode Pemasangan jembatan Rangka Baja


Penggunaan Metode Semi kantilever dalam pemasangan Jembatan Rangka Baja

Salah satu metode yang digunakan untuk pemasangan jembatan rangka baja adalah dengan sistem Semi kantilever, Semi Kantilever adalah suatu sistem perakitan jembatan rangka baja yang dilakukan tanpa alat penyangga/perancah tetapi merupakan sistem pemasangan komponen per komponen yang dipasang setempat secara bertahap mulai dari abutment atau pilar hingga posisi  akhir (abutment atau pilar berikutnya) dengan cara penambahan dan pemasangan masing-masing komponen pada sebagian bentang yang  telah dipasang sebelumnya, hingga membentuk kantilever yang bergerak segmen demi segmen menuju ke perletakan jembatan berikutnya.


Pemasangan sistem kantilever ini bersifat statis dan membutuhkan bentang pemberat dan rangka penghubung. Berikut tahapan-tahapan Pelaksanaannya :

a. Tempat Perakitan
Panjang bagian belakang abutment yang dibutuhkan untuk memasang konstruksi baja adalah sepanjang bentang pemberat ditambah daerah bebas untuk jalan kerja, misalnya panjang bentang pemberat ditambah ± 10 m.
Lebar yang dibutuhkan untuk masing-masing keadaan ± 10 m untuk bentang pemberat ditambah 5 m untuk jalan kerja. Sebagai tambahan dibutuhkan juga tempat untuk menumpukan komponen baja dan sebagainya.

b. Perletakan Penumpu Sementara
Penumpu sementara yang akan digunakan disediakan oleh kontraktor pelaksana atau erektor. Ganjal kayu yang kuat harus dipasang dibawah masing-masing titik tumpuan pada abutment atau pilar untuk menumpu bagian pangkal dari bentang kantilever selama pemasangan. Persyaratan kayu penumpu ini harus mengikuti pokok bahasan Area Perakitan dan Pekerjaan Persiapan, butir d.

Pada embankment yang terdekat dengan level akhir, maka sebaiknya untuk pemasangan bentang pertama berkisar ± 1.50 m di atas level akhir. Dengan demikian akan sangat berguna jika terjadi lendutan di bagian bawah ujung kantilever.

c. Tumpuan Bentang Pemberat
Ujung belakang bentang pemberat harus ditumpu dengan ganjal kayu atau landasan beton yang dirancang sesuai dengan kondisi tanah yang ada dan secara umum pelaksanaannya harus sepenuhnya sesuai dengan Pokok Bahasan Bentang Pemberat.

d. Bentang Pemberat dan Perangkat Penghubung
Bentang pemberat adalah suatu bentang rangka standard yang berguna  untuk manahan berat sendiri komponen rangka baja yang sedang dirakit di atas sungai sehingga dengan pengimbang beban lawan yang berada di tempat yang disediakan pada bentang pemberat (biasa terletak di pangkal bentang), bentuk kantilever yang terjadi di atas sungai tetap stabil (momen guling terjadi ditahan oleh beban lawan). Bentang pemberat dihubungkan dengan bentang permanen yang sedang dirakit melalui rangka penghubung/linking steel. Bentang pemberat dan rangka penghubung disediakan oleh kontraktor pelaksana atau erector.

Penambahan beban lawan untuk mengimbangi momen guling dari bentang kantilever, menyesuaikan terhadap kemajuan panjang bentang permanen yang sedang dirakit.

e. Perakitan
Secara umumnya perakitan dilaksanankan seperti dijelaskan pada sub bahasan 1 di atas. Bila komponen-komponen telah duduk (terpasang) pada pelat buhul, komponen tersebut harus ditempatkan dengan tepat dan harus ditahan dengan pasak (drift) yang ada agar semua komponen terpasang dengan tepat sebelum dibautkan. 

Sistem perakitan ini telah direncanakn dengan langkah-langkah yang mudah dan dimulai dengan perakitan bentang pemberat di atas tanah pada area oprit hingga selesai.
Adapun urutan-urutan perakitan adalah sebagai berikut :

Langkah 1.
Sebagai dasar perakitan statis awal adalah pembuatan satu rangkaian bentuk frame segitiga awal/pertama tepat setelah susunan rangka penghubung, tentunya dapat dimulai dengan pemasangan batang diagonal (2) pada sambungan/join J1 dimana pelat sambungnya sudah terpasang lebih dahulu. Setelah kelengkapan sambungan sudah terpasang semua pada J1, maka baut dapat segera dimasukan dan diputar dalam kondisi sementara sehingga batang diagonal (2) masih mudah diatur posisinya untuk menunggu dipasangnya batang datar bawah (3) yang dipasangkan dan dibautkan pada J2 lebih dahulu.

Sambung dan pasang baut batang (2) dan (3) pada sambungan J3 dengan dilengkapi keperluan plat sambung dan kelengkapannya (missal jika diperlukan plat sisipan dan lain-lain). Setelah terbentuk frame segitiga pada posisi yang benar maka lengkapi semua baut pada tiap-tiap sambungan dan dapat dikencangkan sepenuhnya sehingga terbentuklah “segitiga awal” (segitiga, J1 J2 J3) sebagai segitiga pijakan awal untuk perakitan selanjutnya. Pembentukan segitiga ini harus dua sisi bersama-sama agar setelah disusul dengan pemasangan girder melintang dari J3 akan membentuk kantilever sebagai pegangan untuk perakitan komponen demi komponen berikutnya. Pasang pengikat sementara batang bawah dan baut pada tempatnya, dimana pembautan ini juga bersifat sementara, kemudian pasang gelagar melintang atas ujung (5) pada J1 (dua sisi).

Langkah 2.
Pasang batang datar tepi atas pada pelat-pelat buhul dan pelat penyambung bagian bawah pada titik sambungan/join J1 yang telah selesai sebelumnya. Sisipkan pelat penyambung atas dan pelat pengisi bagian dalam (jika diperlukan). Setelah join J1 terpasang, pelat penyambung badan dan pengisi badan dan dalam keadaan pembautan penuh (baut dikencangkan sepenuh-penuhnya).

Langkah 3.
Rakit dan pasang dua batang diagonal (2) berikut pelat penyambung buhul termasuk pelat penyambung batang diagonal yang sudah ditandai bersama-sama sehingga membentuk rakitan ^ (V terbalik). Angkat dalam keadaan tegak dan sisipkan ujung bawahnya (dari bentuk ^) diantara pelat buhul batang bawah pada sambungan J3. Sisipkan pelat pengisi sanyap dan pelat penyambung ke bagian bawah jalur diagonal, lalu dikunci dengan kunci pas ujung lancip dan sisipkan agar pelat buhul atas bisa pas dengan batang atas (1) pada sambungan J4. Pasang pelat penyambung sayap bawah dan bagian dalam dan bagian luar pelat pengisi pada J3 dan pasang bagian baut-baut pada J4 dan J5 (yaitu setengah ke bawah).

Langkah 4.
Pasang batang  datar tepi bawah (3), masukan diantara pelat buhul pada bagian pertemuan J3 yang telah selesai sebagian. Pasang pelat pengisi jika dijelaskan pada Gambar Erection Jembatan dan pelat penyambung atas selesai (J4) setelah pemasangan pelat penghubung badan bagian atas dan pelat penyambung badan yang ada dan baut seluruhnya pada pertemuan J4.
Pada ujung depan dari batang datar bawah, pasang pelat buhul luar dan pelat penyambung bawah secara bersamaan dengan pengisi yang ditentukan, bautkan pada batang datar bawah  dan batang diagonal pada sambungan/join (J5).

Langkah 5.
Pasang ikatan angin batang atas dan hubungksn pada pertemuan di J1 dan J4 saling menyilang.
Jalan kerja dari kayu dapat dipasang pada gelagar melintang batang atas (5) dan rangka pengangkat dipindahkan satu panel berikutnya dipasang dan diikat kembali.

Langkah  6.
Ulangi langkah ke (1). Pasangkan batang penghubung atas berikutnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya  dan selesaikan titik hubung J3.

Langkah 7.
Ulangi langkah ke (2) dan lanjutkan tahapan perakitan seperti sebelumnya.
“Penting sekali bahwa seluruh baut harus dikencangkan penuh setelah semua komponen pada suatu titik pertemuan terpasang”.

g. Pengikat Sementara Pada Bagian Bawah.
Pasa saat pemasangan kantilever, pengikat silang sementara harus dipasang pada bagian bawah batang di setiap ujung batang yang disesuaikan jalurnya, pengikat silang sementara ini dibutuhkan untuk mengurangi lendutan lateral pada kantilever akibat beban angin dan untuk mengikat batang bagian bawah (dalam tekanan) untuk mengimbangi pengait.

Pengikat ini harus dilepas setelah konstruksi selesai dan bentang telah menopang keempat sudutnya. Penopang tidak dapat dipasang sebelum pengikat sementara dilepas.

h. Pengangkutan dan Pengangkatan
Pengangkatan dan pengangkutan komponen-komponen dari tempat penumpukan ke tempat pemasangan (penyambungan) perlu dilakukan selama proses pemasangan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai macam sarana atau metode tergantung dari keadaan lokasi. Metode-metode yang digunakan bisa berbagai alternatif antara lain :
  • Melalui jembatan lama dengan menggunakan crane kecil.
  • Kabel-kabel yang digantung diantara kedua abutment dibawah jembatan.
  • Menggeser komponen di atas alas kayu melalui bagian konstruksi baja yang sudah selesai. Disarankan untuk mencengah kerusakan komponen, sebaiknya digunakan rol.  

Sebaiknya digunakan dua rangka pengangkat sederhana yang terbuat dari profil baja ringan dan dipasang pada kedua batang paling atas dengan membautnya melalui lubang drainase atau baut pada pelat badan. Penggunaan rangka pengangkat ini bersama-sama dengan katrol rantai atau katrol tangan, menjamin kemudahan pengoperasian dan alat ini dapat dipindah-pindah sepanjang bentang selama berlangsungnya pemasangan jembatan.

i. Lendutan Kantilever dan Pembatasan Badan
Rangka jembatan akan melendut secara elastis sebagai akibat adanya kantilever dan bentang pemberat juga akan melendut dan akan menambah besar lendutan pada bagian ujung bentang yang sedang dikerjakan.

Seperti dijelaskan pada sub bahasan 3 di atas, lawan lendut pada bentang rangka terbentuk sebagai bentuk pabrikasi pelat buhul batang atas dan batang bawah dan tidak diperlukan tindakan khusus atau penyesuaian-penyesuaian selama pelaksanaan system kantilever ini.

Yang perlu diperhatikan adalah, perakitan baja ditempatkan pada level yang ditentukan untuk mengantisipasi lendutan hingga bagian ujung kantilever berada diatas bagian abutment dan pilar.
Untuk menentukan ketinggian dari penyangga dengan ganjalan kayu disetiap ujungnya dimana bentang menumpu pada salah satu atau kedua ujungnya di pilar, maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
  • Geometri dari tempat pabrikasi bentang pemberat, bentang terkantilever dan rangka penghubung;
  • Lendutan elastis dari ujung kentilever dan;
  • Ketinggian relatif dari ketiga pilar atau abutment  pada alur jembatan tidak dimungkinkan untuk menentukan tinggi rata-rata untuk setiap kombinasi bentang karena level pilar dan abutment relatif bervariasi disetiap lokasi dan ditentukan kemudian dengan alinyemen vertical jalan yang dibutuhkan.

j. Baja Penopang (stringer) dan Pelat Lantai Baja.
Sebelum rangka jembatan selesai terpasang (sebaiknya didongkrak turun lebih dahulu) batang penopang dan panel lantai profil baja tidak dapat dipasang. Lepaskan pengikat sementara batang bagian bawah bagian sebelum pemasangan batang penopang dan dudukan.

Sistem lain selain system kantilever dipasang setempat yang dapat digunakan adalah system kantilever yang ditumpu ditengah bentang sehingga mengurangi sifat pangkantileveran dan mengurangi bentang pemberat dan beban lawan. Dalam hal ini, penopang bagian tengah harus sebagai titik berat bentang . Metode ini biasa dipakai khususnya untuk jembatan rangka bentang panjang

Dengan pertimbangan jumlah bentang, kedalaman sungai penyedia mempertimbangkan metode kantilever dan untuk digunakan melaksankan pekerjaan erection jembatan.


Baca Juga Artikel Terkait :



Kami melayani Jasa sewa Sertifikasi Keahlian (SKA) dan Sertifikat Keterampilan Kerja (SKTK) untuk mengikuti penawaran atau lelang, Kami juga melayani Jasa Pengangkutan untuk seluruh Kalimantan Barat. Serta Kami Menjual Aspal drum Murah, Untuk Harga Aspal Pertamina Rp. 1.375.000,-/Drum dan Aspal Iran 1.350.000,-/Drum, yang berminat silakan hubungi kami hP. 082299279279

Jual aspal Kalimantan Barat

Baca Juga artikel Berikut :